Berunding di Jenewa, Berdamai di Helsinki

Imam Syuja' Foto: satuharapan.com

Pengantar: Imam Syuja’ sudah meninggalkan kita semua. Sosok teduh itu dipanggil Allah, pukul 06.00 WIB di Rumah Sakit Kesdam Banda Aceh.

“Satu lagi tokoh Aceh telah tiada, H. Imam Suja’, saya terakhir ketemu beliau bbrp minggu yl di Bandara Soekarno-Hatta pasca Muktamar Muhammadiah di Makassar… bersama H. Almanar, SH.”

Demikian tulis Mukhlis Mukhtar di halaman facebooknya. Bukan hanya mantan anggota DPRA yang kini aktif sebagai pengacara itu yang kehilangan, ada banyak sekali yang melepas kepergian Imam Syuja’ dengan kenangan indah masing-masing.

Sebagai wujud penghormatan aceHTrend mencari satu tulisan almarhum yang dengan tulisan itu menggambarkan sosok beliau, sekaligus pemikiran dan sikap beliau terhadap Aceh, tanoh tempat udep dan matee kita semua, termasuk sosok tokoh yang senang bergaul dan berbagi ilmu dengan orang-orang muda. Tulisan ini, diambil dari website ACSTF yang dipublish tahun 2008, salah satu tempat beliau aktif berorganisasi.

Selamat jalan sosok peneduh jiwa. Semoga Allah menempatkan beliau di surga. Amin

***

Oleh : Teungku Imam Syuja’

BADAN yang penat terasa hilang, kelelahan seperti sirna. Padahal saya dan lima teman dari Aceh yakni Teungku Muslim Ibrahim, Teungku Daniel Djuned, Teungku Al Yasa Abubakar, Prof Hakim Nyak Pha dan Prof Isa Sulaiman (alm) baru tiga jam mendarat setelah terbang selama lebih kurang 18 jam dari Banda Aceh ke Jenewa via Jakarta.

Tepat di depan saya duduk Teungku Muhammad Hasan di Tiro yang populer disebut dengan lakap Wali. Raut wajahnya terlihat masih segar dengan usia yang mendekati 70 tahun. Semangatnya masih berkobar-kobar. Dan kehadiran kami dengan difasilitasi oleh Henry Dunant Center (HDC), diminta untuk menyampaikan apa yang terjadi di Aceh kala itu. Bagi kami, tugas ini sebagai kehormatan menjadi orang-orang Aceh (di luar GAM) pertama yang diterima oleh Tgk. Hasan DiTiro.

Dalam udara yang dingin di Kantor HDC tepi Danau Bavois Swiss Jenewa pada 29 Oktober 2002, kami duduk saling berhadapan dengan petinggi Gerakan Aceh Merdeka (GAM) itu. Deklarator GAM pada 4 Desember 1976 ini diapit oleh Malik Mahmud dan Zaini Abdullah, Zakaria Saman, Bakhtiar Abdullah, M. Nur Juli dan beberapa petinggi GAM lainnya. Juga yang datang dari Aceh, di antaranya Teungku Muhammad Lampoh Awe, Sofyan Ibrahim Tiba (alm), Teuku Kamaruzzaman, Teungku Ilyas Abed dan lain-lain .

Bermuka-muka dengan Wali Nanggroe, saya mulai memperkenalkan diri sambil menjelaskan tujuan kami ke Jenewa. Di antaranya untuk mengabarkan keadaan di tanoh endatu yang setiap hari ada warga sipil yang meregang nyawa. Suasana menjadi lain disusul rekan-rekan lain menambahkannya. Dialog berlangsung dengan bahasa Aceh dan Wali mendengar dengan seksama semua ulasan yang kami sampaikan secara bergantian itu.

Tiba giliran sang Wali membalas respon dari kami. Wali memutar rekaman pidatonya di depan anggota sayap militer GAM di Kamp Tajura Libya. Pertemuan yang mengesankan dan sangat familiar. Saya kagum karena fisik Hasan Tiro yang berusia senja, namun tetap segar bugar. Malahan ketika kami mencari restoran halal, beliau berjalan di depan kami dengan cepat dan gagah.

Awal dari pertemuan yang kami rintis itu, bermuara pada pertarungan batin antara pihak Indonesia dan GAM, dan berakhir di ujung pena perdamaian pada 9 Desember 2002 di Jenewa. Perjanjian Penghentian Permusuhan ini diteken oleh Wiryono atasnama Indonesia dan Zaini Abdullah atasnama GAM yang disaksikan oleh Martin Griffiths dari HDC.

Namun, benih perdamaian yang merekah di bumi Cut Nyak Dhien itu, hanya bertahan sekitar enam bulan. Bulan madu dari senyap salak bedil pun berakhir pada 19 Mei 2003. Ayunan bel bergerak dari kasih sayang ke medan pertempuran. Darurat Militer pun dicetuskan di Jakarta pada masa Presiden Megawati Soekarnoputri.

Dampak dari pelaksanaan Darurat Militer berimbas ke mana-mana aktivis-aktivis kemanusiaan Aceh harus tiarap. Sebulan sejak Darurat Militer, saya pun diperiksa di Markas Kepolisian Daerah Aceh selama tiga hari berturut-turut sejak 20 Juni 2003 dari pukul 09.00 – 22.10 WIB.

Di antara dugaan atas saya, adalah mengapa saya sebagai salah seorang masyarakat Aceh bisa diterima oleh Hasan Di Tiro. Alasan lain yang mengemuka dalam proses interogasi itu di sebut-sebut kenapa dalam peristiwa pembebasan putra Kapolres Banda Aceh Sayed Ikram dan atlit-atlit Porda asal Singkil, GAM menyerahkan kepada saya. Hingga kini, setiap melintasi Jalan Cut Meutia Banda Aceh, saya tidak bisa melupakan pengalaman batin menghadapi dua interogator yang bertanya secara sopan, tapi menohok itu.

Itu kenangan, dan tentu setiap orang memiliki kenangannya––manias maupun pahit. Saya belum melupakan, setelah usai diperiksa pada malam hari, polisi itu mengawal saya hingga sampai ke pintu rumah di Lampriet Banda Aceh. Agaknya mereka tidak mau dikambinghitamkan, jika usai pulang dari Mapolda, maka warga bisa hilang.

Tiga Tahun Helsinki
Tanggal 15 Agustus 2008 ini, genap tiga tahun Aceh berdamai hasil yang diteken di Helsinki Finlandia. Pemerintah RI yang diwakili Hamid Awaluddin Pihak GAM di wakili oleh Malik Mahmud, ini merupakan anugerah dari Allah swt yang wajib disyukuri oleh rakyat Aceh. Indonesia dan GAM berjabat tangan setelah 30 tahun saling kejar-kejaran ibarat kucing dan tikus. Perdamaian ini bukan turun sendiri dari langit.

Patut dicatat, coretan tinta emas yang mengalir ini melalui proses panjang yang melelahkan. Dimulai sebelum bencana smong 26 Desember 2004. Smong ikut meluluhkan hati pemimpin kedua pihak yang bertikai. Perundingan yang dimulai di Jenewa itu, akhirnya berdamai di Helsinki. Dan sekarang buahnya sedang dinikmati sudah dalam rentang tiga tahun.

Terlalu berharap bila setelah Indonesia dan GAM berdamai, maka letupan bedil pun berhenti. Riak-riak ini tetap mencium bibir pantai yang kemudian balik ke tengah lalu di hantam gelombang lalu tenggelam ke dasar lautan. Sebut saja, riak-riak itu berpeluang, karena masih ada mantan kombatan militer yang belum merasakan lezatnya perdamaian. Kita sering menyaksikan, ketika riak-riak meniduri butir-butiran pasir putih di pantai, kadangkala diikuti dengan hempasan ombak besar yang bisa menarik warga ke tengah laut. Karena itu, memberikan pemahaman dan merangkul mereka untuk bersama-sama berada dalam satu shaf memerdekakan Aceh dari kemiskinan fisik dan ilmu pengetahuan.

Riak yang melumatkan perdamaian bisa berasal dari pihak-pihak yang memancing di air keruh menjelang Pemilu 2009. Bahkan ada konspirasi yang tak menginginkan Aceh damai. Maka berjamurlah ucapan-ucapan sumir yang tanpa cek and ricek. Sejatinya, kita menunaikan puasa bicara dari nada-nada provokasi. Terlalu sayang perdamaian yang megah ini harus hancur oleh sepenggal tuduhan bahkan fitnah yang memadamkan lilin perdamaian di Serambi Mekkah. Merawat perdamaian sama sulitnya membangun perdamaian. Namun kedua hal bisa dilakukan jika dilandasi komitmen, kejujuran, keikhlasan berbuat semata untuk Allah swt. Selamat merayakan tiga tahun Aceh berdamai.

*Penulis adalah anggota DPR RI Fraksi PAN Asal Aceh