Teungku Imam Syuja’: Dari Ujung Pena ke Ujung Lidah

Imam Suja' dan Wali Hasan Tiro, Foto: Murizal Hamzah

Oleh: Murizal Hamzah

”Libido seks dia sudah turun. Dia membantah telah melakukan pelecehan seksual. Sebaliknya Desi secara gampang dan runtut menjelaskan sudah diperkosa oleh Max,” papar Teungku Imam Syuja’ kepada saya pada Kamis (26/6) di Gedung DPR usai memeriksa Max Moein anggota DPR dari PDIP. ”Kami mengharapkan Max bisa menjelaskan secara hati nurani,” tambah Imam anggota Badan Kehormatan (BK) DPR yang menindaklanjuti laporan Desi Ferdianti mantan staf pribadi Max.

Desi kepada anggota BK DPR sudah memperlihatkan spre bekas bercak darah perawannya, viagra, jelly serta gel pelumas yang digunakan oleh Max ketika memperkosa dirinya di ruang kerja Gedung DPR Jakarta.

Ini bukan pemeriksaan pertama BK kepada anggota perwakilan rakyat yang melanggar kode etik.

”Dengan menjadi anggota BK, maka bertambah lagi peluang saya untuk bekerja kepada rakyat melalui ujung lidah ini menyampaikan aspirasi atau kabar kebenaran,” sebut anggota Fraksi PAN asal Aceh ini.

Imam Syuja’ nama lengkapnya. Karena berasal dari Aceh dan alim, masyarakat pun menambalkan sebutan Teungku di depan namanya. Ini gelar yang diberikan oleh warga sebagai penghormatan dan bisa saja gelar itu hilang bila melanggar tata susila.

Wartawan
Sejatinya pria jangkung ini seorang jurnalis pada era 1970-an di Banda Aceh. Bapak dari empat putra-putri ini mengenang dibentak dan diancam oleh Kepala Dinas Penerangan Aceh karena mempertanyakan kantor itu mengutip uang untuk merayakan 17 Agustus. Sebgai wartawan yang baru bekerja, Imam muda ini melaporkan kepada Pemimpin Redaksi Atjeh Post. Namuan apa jawaban atasannya, seorang laki tidak perlu takut dengan ancaman dalam melakukan kerja jurnalistik. Malahan, esoknya, ancaman birokrat itu dimuat di halaman satu. ”Kalau kamu masih takut, ini pegang pistol saya,” ingat Imam yang menyebutkan pemimpin redaksinya adalah seorang mantan komanda tentara.

Ada tiga koran lokal yang digeluti oleh mantan Ketua Umum Muhammadiyah Aceh ini dari harian Peristiwa, Atjeh Post dan Mimbar Swadaya. Pada akhir tahun 1980-an, Swadaya diambil alih oleh Kelompok Kompas Gramedia dan mengubah namanya menjadi harian Serambi Indonesia. ”Akhirnya saya meninggalkan dunia pena karena perilaku wartawan ketika itu yang suka minta uang pada narasumber,” kilah Imam yang setelah itu sering menulis artikel di koran dan majalah.

Dunia pena pun ditinggalkan dan Imam beranjak ke dunia percetakan yang masih setali dengan dunia tulis menulis. Cita-citanya memiliki surat kabat tetap terpatri. Suami dari Rohana Yusuf ini berkeyakinan, agar koran cepat dicetak, maka penerbitan harus punya mesin cetak sendiri. Ini semua berdasarkan pengalaman dia ketika menjadi wartawan di masa lalu. Satu mesin cetak di Banda Aceh digunakan oleh tiga harian. Kerapkali meletup adu mulut sesama wartawan karena sama-sama mau cetak cepat walaupun jadual naik cetak sudah disepakati.

Tekad bulat ditempuh. Pria kelahiran Banda Aceh 10 November 1954 ini pun menguras tabungan keluarga dan ditambah kredit bank yang diberikan berdasarkan saling percaya. Bank sadar, agunan yang disodorkan oleh pengusaha ini lebih kecil daripada kredit yang diberikan. Imam menjaga benar kepercayaan ini dengan tepat membayar cicilan kredit. Hasilnya, percetakan itu berkembang cepat dan menjadi tulang punggung ekonomi keluarga.

Dia merasakan, kini waktunya meleburkan diri pada organisasi Muhammadiyah. Imam yang dibesarkan dalam keluarga Muhammadiyah pun terjun ke organisai sosial pendidikan ini. “Ayah melarang saya aktif di Muhammadiyah jika urusan dapur belum kuat. Prinsipnya, hidupilah Muhammadiyah, jangan cari hidup di Muhammadiyah,” tambah mantan Ketua Pemuda Muhammadiyah Aceh yang kini usaha percetakan hancur disapu tsunami di Banda Aceh.

Diperiksa oleh Polisi
Sejak itulah, Imam aktif bergiat di Muhammadiya. Periode 1995-2005, Imam sebagai ketua Dewan Pengurus Wilayah Muhammadiyah Aceh. Periode 1998-1999 menjadi anggota Majelis MPR sebagai Utusan Daerah. Namanya pun mulai berkibar sebagai juru dakwah, hingga merambat ke dunia konflik seperti menjadi negoisator membebaskan putra Kapolres Banda Aceh atau belasan atlit Pekan Olah Raga Daerah Aceh Singkil yang disandera oleh sayap militer Gerakan Aceh Merdeka (GAM) pada awal 2000-an. Kedua pihak mempercaya Imam sebagai penyambung lidah. Hasilnya, dia menjadi corong bagi warga yang takut berhadapan dengan TNI, Polri atau sayap militer GAM.

Dia sadar, semua kegiatan ini ada risiko. Baginya, berbuat baik dengan umat sangat penting daripada sekedar beribadah tanpa kegiatan sosial. Mencegah pertumbahan darah manusia di mana pun wajib dilakukan. Masa-masa kecil yang pahit karena sulit bertemu dengan ayahnya Teungku Sulaiman Daud yang bergerilya di hutan pada masa perang Darul Islam di Aceh tahun 1950-an.

Sebagai pemimpin – sesuai dengan arti namanya Imam – dia dan tokoh-tokoh sipil Aceh lainnya yang difasilitasi oleh Henry Dunant Centre (HDC) terbang ke Stocholm Sweden bertemu dengan pemimpin GAM Hasan Tiro. Tujuannya, bagaimana dialog dilanjutkan dan rakyat tidak terjepit oleh tindakan TNI, polisi dan GAM. “Polisi menangkap saya pada 24 Juni 2003 atau sebulan setelah Darurat Militer diterapkan dengan alasan bertemu Hasan Tiro. Alhamdulillah, kini giliran teman-teman di Jakarta seperti Amien Rais, Ketua Umum Muhammadiyah Sjafi’ie Ma’arif yang memfasilitasi agar saya tidak ditahan. Saya hanya kena wajib lapor,” ungkap ulama ini.

Atas desakan teman-teman, Imam mengajukan diri menjadi calon anggota DPR melalui kendaraan Partai Amanat Nasional (PAN) yang mayoritas dari kalangan Muhammadiyah. Hasilnya, Pemilu 2004 mengantar dirinya berkantor di Lantai 19 Senayan bersama 12 anggota DPR asal Aceh hingga 2009.

Seolah-olah ingin mengutip ucapan Panglima Perang Perancis Napoleon Bonaparte bahwa ujung pena lebih tajam daripada ujung bayonet dan jargon wartawan pilar keempat demokrasi itu layak diperhitungkan. “Ujung pena dengan ujung lidah itu sama dashyatnya dalam membongkar kemungkaran. Kedua ujung itu harus bersinergis agar rakyat lebih cepat makmur,” pintanya yang mungkin akan kembali ke Aceh usai Pemilu 2009 untuk menjadi juru dakwah. []

Murizal Hamzah, penulis buku biografi Hasan Tiro, Jalan Panjang Menuju Damai Aceh

KOMENTAR FACEBOOK