Saya Juga Suka dengan Zikir Ustad Muda Samunzir

Guru yang tercinta Syaikh Muda Tuanku Tgk. Samunzir Bin Husein

Kini, orang ramai membicarakan ustad Samunzir, atau lengkapnya Guru yang tercinta Syaikh Muda Tuanku Tgk. Samunzir Bin Husein. Sebabnya, sebagian orang ada yang tidak suka ungkapan kasar bila keluar dari mulut beliau yang selalu dihiasi zikrullah.

Menurut mereka yang tidak suka, ungkapan-ungkapan itu, meski nyata adanya ditengah-tengah umat tapi oleh orang dahulu, disebut bahasa “ureung hana jak beut atawa hana sikula,” alias tidak berpendidikan.

Ceritanya, dulu cara orangtua “merapikan” generasi muda dalam bertutur dipakai teknik pembelahan. Jadi, teknik ini bukan cuma dipakai oleh orang politik saja. Nah, pembelahan “ureung hana jak beut atau hana sikula” dihadu dengan “ureung na jak beut atau na jak sikula.”

Indikatornya sederhana. Bagi orang yang berpendidikan, bahasa tuturnya terjaga, sebaliknya orang yang bertutur “rabutu” alias “broeh-broeh” dimasukkan ke dalam kelompok yang tidak terdidik. Ini teknik psikologi, karena secara jiwa tidak ada orang yang mau dimasukkan ke dalam kelompok tidak berpendidikan.

Tapi, apa mau bilang ustad Samunzir tidak terdidik. Asal bin usil! Bacalah riwayat hidup beliau, usia mudanya dihabiskan untuk menuntut ilmu, baik di negeri sendiri maupun di perantauan. Dan dalam usia yang masih muda pula, ustad Samunzir pulang  ke negeri yang disebutnya keramat, untuk berdakwah melalui metode yang sedang populer di mana-mana yaitu, zikrullah. Dengan khazanah rateb endatu atau rateb nanggroe inilah, beliau ingin melembutkan kembali hati-hati yang sudah mengeras agar mudah menerima hukum Allah.

Apa yang salah? Jelas tidak ada yang salah. Mau membandingkan diri dengan ustad yang umumnya tampil dengan pakaian serba putih, dan sesekali disisipi dengan kain berwarna kuning atau warna lainnya. Emang, siapa kita?

Apa kita ini punya pengikut sebagaimana pengikutnya ustad Samunzir? Tidak ada. Paling pengikut kita di dunia maya. Itupun hasil dari status bergaya sastrawi. Halah, alay! Apalagi yang mau kita bandingkan, keberanian? Beranikah kita seperti keberanian yang dimiliki oleh Ustad Samunzir?

Beliau, berani menkritik pemerintah dan berani mengingatkan penguasa agar tidak melupakan asal usul. Apa kita berani mengkritik langsung dihadapan penguasa, khususnya dihadapan Wali Nanggroe. Saya atau Anda boleh cerdas, termasuk dalam mengkritik tapi itu hanya di dunia maya. Bila dihadapan Wali Nanggroe atau penguasa apa saya atau anda berani?

Jangan-jangan saya atau anda dahulu yang mencium tangan dan lalu merayu untuk mendapat proyek, sebagaimana beberapa yang dahulunya sangat kritis tapi begitu ada ruang merapat dengan mereka yang sedang berkuasa langsung mengemis proyek, dan mengelolanya dengan cara yang sama buruknya dari mereka yang dahulu pernah anda caci maki.

Dan, apa salahnya dengan ungkapan ustad Samunzir? Bukankah itu ungkapan yang “hidup” di dalam keseharian ureung Aceh? Bukankah bahasa menunjukkan bangsa. Dan, inilah “kelebihan” bangsa Aceh. Sama seperti bangsa-bangsa lain, seperti Jerman, Cina, Rusia, Yunani, Spayol, bahkan juga Inggris, semuanya memiliki ungkapan kebencian alias caci maki.

Bukankah Aceh juga salah satu bangsa terhormat yang kita sendiri kerap menyebutnya “bansa teuleubeh ateuh rueng donja.” Jadi, sesuai dengan momentum penyelamatan bahasa-bahasa yang ada di Aceh yang digagas oleh tokoh-tokoh Aceh yang tergabung di Kongres Peradaban Aceh yang baru saja usai, maka seluruh huruf, kata, dan kalimat, termasuk di dalamnya ungkapan caci maki perlu diselamatkan, bahkan desah sekalipun juga perlu diselamatkan.

Dan, lagi negeri kita ini juga adalah negeri tiga wali. Ada wali Allah (ulama) yang bertugas menjaga kehidupan keagamaan, ada wali amri (pemerintah) yang bertugas mengelola pembangunan, dan ada juga wali nanggroe yang bertugas menjaga peradaban kita.

Sungguh, pertemuan ulama dan wali nanggroe dalam satu acara Milad kemarin itu, yang di dalamnya meluncur ungkapan kemarahan dalam wujud ungkapan asli Aceh, dan bukan ungkapan ciplakan seperti ungkapan stupit dan fuck, harus dilihat sebagai tanda bahwa dua kekuatan penjaga Aceh sudah bertemu dalam spirit yang sama, dan mengkristal lewat bahasa asli Aceh, dan karena itulah ungkapan itu disambut gegap gempita oleh umat yang berhadir. Iya, kan?!

Lagi pula, untuk apa mencibir ustad Samunsir? Siapa saya atau anda? Lagi pula, mengapa saya atau anda perlu mengangkat ungkapan yang nyata ada di masyarakat. Kemarin kemana? Kenapa hal lain yang telah dilakukan Ustad Samuzir tidak diangkat, seperti hebohnya mengangkat hal kecil saat ini. Hana meupu gabuk!

Tahu tidak, ini persis seperti kerja syetan, yang terus mengintip kelemahan-kelemahan hamba Allah yang taat. Begitu syetan tidak mampu menjatuhkan hamba Allah dengan kekafiran dan kemusyrikan maka dosa-dosa kecil disuguhkan syetan untuk menggelincirkan hamba Allah. Dan begitu ada hambaNya yang tergelincir bersorak sorailah para jamaah syetan yang awalnya terbakar oleh zikir-zikir yang mengalir bersama air mata taubat.

Memang, jika direnung-renung, betapa hebatnya agenda kerja syetan ini, mengalahkan agenda kerja anggota dewan dan tim skpa, apalagi agenda kerja partai politik, konon lagi agenda kerja lsm hehe.

Syetan selalu tampil dengan satu visi besar. Visi besar itu adalah kekafiran dan kemusyrikan. Syetan bukan tidak sadar dan tahu bahwa visi besar ini susah untuk menarik hati mereka-mereka yang menjaga dirinya dengan zikir. Tapi, syetan punya pengalaman bahwa manusia yang sudah diagung-agungkan akan mudah jatuh dengan hal remeh temeh. Di sinilah syetan punya visi praktisnya. Apa itu?

Sebutir Pasir
Visi praktis itu, meminjam ungkapan penakluk pertama Mount Everest, puncak tertinggi pegunungan di himalaya, Sir Edmun Hillary, adalah sebutir pasir.

Bagi mereka yang sudah pernah mengikuti kelas motivasi pasti pernah mendengar kisah dimana Sir Edmun Hillary pernah ditanya wartawan apa yang paling ditakutinya saat menjelajah alam. Dia lalu mengaku tidak takut pada binatang buas, jurang yang curam, bongkahan raksasa, atau padang pasir yang luas dan gersang sekalipun.

Lantas apa yang ditakutinya? “Sebutir pasir yang terselip diantara sela jari-jari kaki”, kata Hillary. Wartawan heran, tetapi sang penjelajah menambahkan ceritanya. “Sebutir pasir yang masuk diantara sela jari kaki sering kali menjadi awal petaka. Ia bisa masuk kekulit kaki atau menyelusup lewat kulit. Lama-lama jari kaki terkena infeksi lalu membusuk. Tanpa sadar kakipun tak bisa digerakkan, dan itu awal malapetaka bagi seorang penjelajah sebab ia hanya bisa ditandu”.

Harimau, buaya, binatang, meski buas adalah binatang yang secara naluriah memiliki rasa takut kepada manusia. Sedangkan menghadapi jurang yang dalam dan ganasnya padang pasir, seorang penjelajah sudah punya persiapan memadai. Tetapi, jika menghadapi sebutir pasir yang akan masuk ke jari kaki, seorang penjelajah tidak mempersiapkannya. Dia cenderung mengabaikannya.

Apa yang dikatakan Sir Edmun Hillary, kalau kita renungkan sebetulnya sama dengan orang yang mengabaikan dosa-dosa kecil, misalnya mencoba-coba mencicipi minuman keras, membicarakan keburukan orang lain, berbicara kasar dan buruk, dan sering menganggap bahwa itu adalah dosa-dosa kecil sehingga lambat laun menjadi kebiasaan. Kalau sudah jadi kebiasaan, dosa kecil itupun akan berubah menjadi dosa besar.

Dalam kisah-kisah ulama fiqh dan ulama sufi juga banyak kisah-kisah serupa dan lebih menyentuh pada mereka yang abai pada dosa-dosa kecil, yang akhirnya justru melemahkan imannya. Sebaliknya, juga ada kisah kecil yang justru membuat dosanya terhapus dan ia dikisahkan menjadi penghuni surga.

Akhirnya, saya juga suka dengan zikir Ustad Samunzir dan juga zikir-zikir ustad lainnya. Dan, lebih suka lagi bila “kuah boh panah hana meujampu dengon si bui.”

Mari kita dukung dan ramaikan majelis zikrullah, tentu seiring dengan majelis ilmu dan majelis amal sosial, ekonomi dan politik, serta amal lingkungan hidup juga amal politik yang lebih baik dan makin membaik.

Pondasi dari semua itu adalah syahadat, dan pondasi ini tidak semestinya tunduk kepada pondasi sah-adat. Adat atau kebiasaan yang tidak berbasis pada syahadat mestinya terus ditransformasi. Endatu kita pasti tidak marah sebab mereka berprinsip yang baik dan paling sesuai dengan kebenaran itulah milik sah umat Islam, dulu juga kini.

Tidak ada gunanya juga membandingkan diri kita dengan ustad Samunzir sebab pertandingan terbaik adalah di wilayah taqwa yang pembuktiannya ada di bumi sebagai syarat untuk bisa menjadi penduduk akhirat yang baik. Hal membandingkan diri saja tidak baik, apalagi jika kita sampai memanfaatkan majelis zikir yang sudah diikuti oleh orang ramai untuk kepentingan politik. Bek gara-gara peutimang pulitek suara, syahadat boleh dikalahkan oleh sah-adat.

Semua huruf, kata, kalimat dan ungkapan termasuk desahan yang meu-Aceh memang penting diselamatkan karena dari situ kita bisa bercermin dan mengambil iktibar. Dalam al quran pun tetap ada kisah firun dan kisah Abu Lahab serta kisah lainnya tapi itu bukan berarti kita boleh menjadi dan membangun adat Firun dan adat Abu Lahab.

Pada akhirnya, mari kita terus menghormati guru-guru kita, apalagi sosok-sosok yang mengajak kita untuk berbuat baik dengan cara-cara yang baik dan mendebat juga dengan cara yang baik. Mari mencintai zikrullah, dan menempatkan umpatan kasar ke bilik sejarah masa silam.

Mari kita hormati zikir ustad Samunzir dan ustad-ustad lainnya, dan bersama-sama pula mengunci umpatan dalam peti peradaban kita. Sebab, bila Aceh terus dibangun di ateuh teumeunak, teumeutak dan teukeuchak, maka akan terus lahir generasi teukeuphak. Majelis Zikrullah, yes. []

KOMENTAR FACEBOOK