Ujian Setia Kawan Golkar Aceh

Nanti malam, (14/12/2015) pukul 20.30 WIB, bertempat di gedung terhormat Dewan Perwakilan Rakyat Aceh, agenda rapat paripurna khusus kembali di gelar. Sebelumnya, persis di malam G-30-S/PKI atau 30/9, agenda yang sama juga sudah pernah diadakan,

Agenda apakah gerangan? Adakah rapat paripurna khusus itu untuk membicarakan nasib rakyat atau masa depan Aceh? Misalnya membahas soal kebijakan dan anggaran terkait hutan, perkebunan, dan atau lingkungan hidup di Aceh sebagai cara mengakhiri banjir saban waktu.

Sayangnya bukan. Rapat paripurna khusus nanti malam, sama seperti sebelumnya, adalah pemberhentian dan pergantian pimpinan (wakil ketua) dari Fraksi Golongan Karya, yaitu Sulaiman Abda.

Ini rapat paripurna yang kedua. Sebelumnya, pada malam G30S PKI, atau 30/9 DPR Aceh juga sudah pernah menggelar rapat paripurna dengan agenda yang sama, melengserkan Sulaiman Abda. Namun, keputusan DPR Aceh yang ditindaklanjuti suratnya oleh Wakil Gubernur Aceh tidak dikabulkan oleh Kemendagri. Kemendagri menolak reposisi Sulaiman Abda sebagai wakil ketua DPR Aceh.

***

Harus diakui, kemampuan politik pengurus DPD I Golkar Aceh dibawah nakhoda Jusuf Ishak dan Muntasir Hamid hebat. Muntasir Hamid khususnya, mampu mengkonsolidasi internal di Golkar untuk satu suara, melengserkan Sulaiman Abda.

Bayangkan, Ketua Fraksi Golongan Karya di DPR Aceh, Aminuddin menyatakan bahwa 99 persen kader Golkar mendukung pergantian orang yang dahulu mereka hormati, Sulaiman Abda dengan Muhammad Saleh, kader baru di kepengurusan Golkar.

Lebih dari itu, Muntasir Hamid juga mampu menyakinkan partai politik lain (kecuali Fraksi NasDem) untuk mendukung agenda politik kepentingan Golkar Aceh yaitu, membuang Sulaiman Abda dari jajaran pimpinan DPR Aceh.

Dua kali berhasil menggelar rapat paripurna hanya untuk melengserkan Sulaiman Abda tentu sangat fenomenal. Belum pernah ada dalam sejarah politik, bahkan secara nasional yang mampu melobi hampir semua partai politik untuk menggelar kembali rapat paripurna dengan agenda yang sama.

Persis seperti permainan tinju. Pihak yang sudah kalah merasa masih perlu menggelar pertandingan ulang karena merasa tidak bisa menerima kekalahan awal. Jadi, luar biasa pengurus inti Golkar Aceh, dan lebih luar biasa lagi, tidak ada satupun di jajaran pengurus lainnya di Golkar Aceh termasuk kader di dewan, juga di DPD II Golkar Aceh, bersuara ke publik untuk menyatakan keberatannya secara terbuka atas pelengseran Sulaiman Abda.

Apakah semuanya memang setuju dan memang sangat berhasrat untuk melengserkan orang yang telah berhasil menempatkan Golkar Aceh menjadi kekuatan kedua setelah Partai Aceh lewat Pemilu Legislatif 2014, dan secara pribadi juga menjadi peraih suara terbanyak di Dapil I dan memang rela menggantikan Sulaiman Abda dengan kader baru, Muhammad Saleh? Hanya hati nurani dan Tuhan yang tahu.

***

Sungguh, di atas kertas, partai-partai lainnya akan mudah berkilah, bahwa semua itu adalah hak politik Golkar dan partai politik lainnya hanya mengikuti proses politik di DPR Aceh. Siapa pun yang mampu mengkonsolidasi politik di internal Golkar maka dialah pemenangnya dan partai politik lain tidak ada urusan dengan itu. Jika Sulaiman Abda berhasil melakukan konsolidasi politik di internal Golkar maka Sulaiman Abdalah yang menang, dan sebaliknya. Partai politik lain hanya dalam posisi mengikuti prosedur yang ada. Benarkah? Tidak adakah pertemuan politik kepentingan di dalamnya? Hanya hati nurani dan Tuhan juga yang tahu.

Yang kita tahu adalah bahwa politik itu akrab dengan kepentingan. Dan, satu kepentingan yang sudah sangat telanjang diketahui dari politik adalah kekuasaan. Pertanyaannya, kepentingan politik atau kekuasaan apa yang sedang diincar, atau minimal permainan politik kekuasaan yang bagaimana sedang dikelola dengan mencampakkan Sulaiman Abda dari jajaran pimpinan DPR Aceh?

***

Sementara waktu, kita setuju saja dengan posisi partai politik lain yang belum bisa dihakimi dalam permainan politik pelengseran Sulaiman Abda. Dan, katakanlah bahwa kunci survival politik Sulaiman Abda ada di internal Golkar Aceh sendiri.

Untuk itu, rapat paripurna khusus yang kembali diulangi oleh DPR Aceh dan akan digelar malam ini, Senin (14/12/2015) dan secara teknis sudah dimintai dukungan kepada PLN agar tidak ada gangguan arus listrik akan menjadi ujian khusus untuk kader Golkar Aceh yang ada di DPR Aceh.

Jika seluruh anggota Fraksi Golongan Karya di DPR Aceh hadir dalam rapat paripurna khusus dan Ketua Fraksi Golongan Karya melalui Ketuanya Aminuddin kembali menyatakan bahwa 99 persen kader Golkar setuju memberhentikan dan menggantikan Sulaiman Abda dengan Muhammad Saleh maka pertarungan politik di arena DPR Aceh kembali mengalahkan Sulaiman Abda.

Hanya saja, sudah begitu tertutup matakah anggota DPR Aceh dari fraksi Golongan Karya dan mengabaikan seluruh kenangan manis di masa Golkar Aceh dinakhodai oleh Sulaiman Abda? Sudah kemanakah kebersamaan yang dahulu sangat kompak. Tidak teringat lagikah keindahan yang berlaku di kantor Golkar Aceh dimana shalat berjamaah sering dilakukan secara bersama yang kini malah sudah hilang? Sudah lupakah semua kenangan kebersamaan yang dahulu sangat terbuka dan demokratis berbincang ragam hal di kantor tanpa ketakutan, termasuk dalam rapat-rapat, yang kini justru sudah tidak ada lagi.

Sudah hilangkah kenangan setiap kali bersilahrurahmi bila ada dari keluarga Golkar yang dilanda kemalangan dan musibah dan itu sangat digalakkan dan kini justru tidak ada lagi? Dan, apakah sudah terhapus seluruh kebaikan Sulaiman Abda yang tidak pernah memberatkan anggota DPR Aceh lainnya juga DPD II Golkar dalam hal keuangan bersebab Sulaiman Abda memilih lebih banyak menanggung sendiri pembiayaan kegiatan-kegiatan Golkar.

Hampir semua orang tahu di Golkar bahwa seluruh gaji Sulaiman Abda tidak pernah dibawa pulang ke rumah, ATM beliau dipegang oleh orang Golkar untuk mendukung kegiatan dan mendukung rakyat yang datang ke kantor Golkar Aceh. Seumur sejarah penggajian yang beliau peroleh baru sekali gaji diserah utuh untuk istri beliau, pada saat almarhumah sedang sakit. Itupun hanya singgah sesaat dan terus dikirim ke anak bungsunya yang sedang kuliah.

Begitu berdosakah Sulaiman Abda di perpolitikan Golkar Aceh? Bukankah Sulaiman Abdalah yang telah mengantar Golkar Aceh menjadi pemenang kedua di Aceh? Bukankah Sulaiman Abda pemenang suara terbanyak di Dapil I untuk perolehan suara pribadi? Bukankah Sulaiman Abda sosok magnek yang mampu menarik dukungan suara karena kekuatan silahturahmi beliau yang terus terjaga saban waktu?

Tidak adakah semua pertimbangan itu pada anggota DPR Aceh yang sudah dianggap saudara oleh Sulaiman Abda? Jawabannya nanti malam. Jika semuanya hadir lengkap dan Aminuddin kembali dengan lantang patuh kembali menyatakan 99 persen kader Golkar mendukung pemberhentian dan pergantian Sulaiman Abda maka dimata sahabatnya, Sulaiman Abda memang sudah tidak berguna sebagai sahabat, kawan dan saudara dan lebih berguna menjaga kepentingan politik kekuasaan. Nilai setia kawan dalam Ikrar Panca Bhkati Golkar memang sudah terhapus, tinggal susunan kata belaka. []

Fuad Hadi, Ketua AMPI Aceh Barat

KOMENTAR FACEBOOK