Homs: Cermin dari Kota Para Sahabat Nabi

Homs adalah nama salahsatu provinsi dan ibukotanya di Syria.

Sebelum perang saudara di sana, banyak dari kita tidak pernah mendengar nama kota ini. Padahal Homs menyimpan banyak sejarah untuk kita ambil hikmah. Letak kota ini sangat strategis, pernah dikuasai oleh bermacam kekaisaran di masa dahulu. Kota ini adalah perlintasan berbagai kebudayaan dalam sejarah dunia. Mengalami berbagai perang. Kota ini menjadi salahsatu jejak sejarah islam yang sangat penting.

Kota ini pernah melahirkan Alexander Severus, Elagabalus, keduanya kaisar Romawi, dan Julia Domna, istri dari kaisar Romawi Lucius Septimius Severus, ibunda dari kaisar Geta dan Caracalla.


Homs juga kota kelahiran salah seorang Paus, Pope Anicetus (154-167).

Di kota Homs, ratu Zenobia dari Palmyra dikalahkan oleh Kaisar Romawi.

Homs juga kota kelahiran ayah kandung pendiri Apple, Steve Jobs, Abdulfattah ‘john’ Jandali, yang juga ayah kandung penulis Amerika, Mona Jandali istri dari Richard Appel, penulis serial The Simpsons, yang diambil dari karakter istrinya, Mona Simpson,  nama Mona sebelum menikah.

Menurut Al-Mas’udy, ahli Geografi Arab, kota Homs juga dikenal dengan kecantikan gadis-gadisnya.

Homs kota yang ramah, menampung 14.000 pengungsi dari Palestina, dan ketika terjadi kekerasan di Armenia pada awal abad ke 20, kota ini juga menampung 20.000 pengungsi dari sana.

Saat ini, kalau kita ketik Homs, akan terpampang gambar, berita atau video yang berisikan kehancuran. Jalan-jalan yang putus, gedung-gedung yang hancur lebur akibat perang saudara. Fasilitas publik yang rata dengan tanah akibat bom yang dijatuhkan siang dan malam. Menurut Daily Mail, saat ini Homs telah kembali ke zaman batu, 650 ribu penduduknya melarikan diri, saat ini hanya dihuni 2 ribu penduduk saja. Mesjid dan gereja bersejarah, luluhtantak terkenal meriam dan mortal. Ribuan orang luka-luka dan tewas.

Kondisi terakhir kota Homs, bisa dilihat di link ini dailymail

Homs dikepung selama 3 tahun 3 hari oleh pasukan Bashar Al-Asad dari 6 Mei 2011 sampai 9 Mei 2014.

Dulu juga pada abad pertengahan Homs salah satu kota pertama yang dikepung ketika perang salib.

Di dekat kota ini ada sebuah benteng yang pertama dibangun oleh orang Kurdi, hisn al akrad, adalah sebuah peninggalan yang sangat penting sisa abad pertengahan. Pernah dipakai sebagai benteng pasukan salib. Benteng ini kemudian dikenal dengan Krak des Chevaliers, benteng kavaleri dan saat ini menjadi situs yang dilindungi Unesco.  Dalam perang saat ini, benteng yang disebut oleh Lawrence of Arabia sebagai benteng terbaik di dunia ini, juga di bombardir pasukan pemerintah Syria.

Kota ini juga mempunyai refinery besar dan pipa minyak dan pernah dibom Israel ketika perang Yom Kippur tahun 1973.

Saat perang Syria untuk menurunkan Bashar Al-Asad dicetus, Homs adalah ibukota perjuangan dan markas pemberontak melawan pemerintah.

Homs atau Emesa adalah kota nomer tiga setelah Damaskus dan Aleppo. Kota industri dan dikenal dengan masyarakatnya yang sangat bhinneka. Penduduk kota ini sering dijadikan bahan kelakar di Syria atau di negara Arab lainnya, joke-joke itu dikenal dengan Homsi Jokes atau annuktah alhumshiah.

Untuk mengenang perang Yarmuk yang berhasil mengusir Byzantium dari bumi Syria, di Homs dibangun mesjid diberi nama Khalid Bin Walid. Di komplek mesjid inilah jasad panglima yang bergelar saifullah al-maslul, pedang Allah yang terhunus, dimakamkan bersama anaknya. Syahid sebagai perwira biasa, bukan sebagai panglima.

Dalam perang saudara yang sedang berlangsung saat ini, mesjid Khalid Bin Walid menjadi pusat pertahanan pasukan pemberontak Syria. Akibat sering di bom oleh pemerintah, mesjid dan makam Khalid bin Walid dikabarkan telah rusak berat.

Kita kembali sedikit membaca kisah Khalid bin Walid, kala itu semua pertempuran yang dipimpin oleh Khalid Bin Walid selalu menang. Hal yang membuat sebagian muslimin mulai menghormati Khalid Bin Walid di luar batas kewajaran. Oleh Umar Bin Khattab, khalifah yang baru, Khalid Bin Walid dihentikan dari panglima dan diangkat panglima baru, Abu Ubaidah bin  Al-Jarrah. Pedang Allah ini tetap berperang bahkan lebih hebat dari sebelumnya, menjabat panglima atau tidak, tidak pernah menjadi masalah bagi sahabat nabi ini. Khalifah Umar Bin Khattab juga menyampaikan kepada semua pasukan, Khalid Bin Walid diturunkan dari panglima bukan karena tidak patuh kepada khalifah baru, bukan karena berkhianat, keputusan ini diambil oleh Umar bin Khattab karena ingin mengingatkan kaum muslimin bahwa semua kemenangan di dalam setiap pertempuran itu semata-mata hanya karena Allah, bukan karena hebatnya seorang panglima.

Pasukan inilah yang kemudian berhasil menaklukkan Jerussalem pada April tahun 637.

Khalid bin Walid dengan membawa unit pasukan komando bergerak yang dikenal dengan ‘thulai’ah mutaharrikah’ atau mobile guard, berhasil sampai ke Chelcis atau Chalkida di Yunani dan menghancurkan tentara jenderal Meenas dalam perang dikenal dengan pertempuran Hazir. Perang ini adalah adu strategi antara Khalid Bin Walid dan Meenas yang sebelumnya juga tidak pernah terkalahkan. Meenas dan pasukannya hancur lebur. Karena hebatnya pertempuran ini, khalifah Umar sampai mengakui kesalahannya mengganti panglima Khalid Bin Walid dan berkata, “rahmat Allah kepada khalifah Abu Bakar yang lebih pandai menilai sosok Khalid bin Walid daripada saya”.

Setelah ditaklukkan, hampir 500 sahabat hijrah dan bermukim di kota Homs. Salahsatu mushaf al-quran yang ditulis zaman khalifah Usman bin Affan ada di Homs sebelum dipindahkan ke Istanbul.

Di antara shahabat nabi yang dikubur di Homs adalah Khalid Bin Walid, Abdurrahman bin Khalid bin Walid, Amru bin ‘Abasah, Sudai bin Ajlan abu Imamah, Wahsyi bin Harb pembunuh Hamzah yang taubat, Tsauban bin Bujdud, Ubaidullah bin Umar bin Khattab, radhiyallah ‘anhum.

Di Homs terletak gereja Saint George Monastery atau Deir Mar Georges, tempat disimpan manuskrip surat Khalifah Umar bin Khattab tentang perjanjian dan toleransi antara ummat muslimin dan kaum nasrani di Syria. Gereja ini juga terkena gempuran senjata.

Tentang kota Homs dan pemerintahannya, pernah ada sebuah cerita yang sangat menarik di masa Khalifah Umar bin Khattab.

Saat itu Homs, sebagaimana kota Kufah di Irak adalah sebuah kota yang dihuni berbagai bangsa dan aliran agama, orangnya sangat susah diatur.

Setelah mengutus seorang sahabat nabi menjadi gubernur di Homs, Umar bin Khattab meminta penduduk Homs agar mengirimkan nama-nama kaum dhu’afa yang akan dibantu dengan dana bantuan baitul mal. Saat nama-nama diterima, khalifah sangat terkejut karena ada nama Said bin ‘Amir al-Jumahi dalam daftar itu. Nama itu adalah nama gubernur Homs!

Umar langsung menanyakan kepada gubernur, namanya dimasukkan oleh penduduk ke dalam daftar orang yang menerima bantuan dhu’afa, memang gajinya dibawa ke mana? Ditanya gaji, Said bin ‘Amir menjawab bahwa semua gajinya diinfakkan kepada faqir miskin. Karena sebagai gubernur dia bertanggung-jawab untuk mensejahterakan rakyatnya.

Umar lantas menanyakan kepada penduduk Homs, apa saja kelemahan dari gubernur yang miskin ini.

Penduduk Homs menjawab bahwa gubernur mereka mempunyai tiga kelemahan dan kekurangan yaitu tidak pernah keluar rumah sebelum waktu dhuha, kemudian tidak pernah kelihatan di waktu malam hari dan dalam seminggu ada satu hari gubernur tidak keluar rumah, susah dihubungi dan tidak bisa ditemui.

Khalifah marah atas laporan ini, kemudian memanggil gubernur Said bin ‘Amir untuk menjelaskan.

Gubernur Said bin ‘Amir menjawab bahwa benar dia mempunyai 3 kelemahan atau aib itu. Kemudian dijelaskan kepada khalifah, pertama tidak bisa keluar kecuali setelah dhuha, “karena saya harus menyelesaikan semua tanggung jawab di rumah wahai amirul mukminin, istri saya sakit sehingga saya harus memasak dan membersihkan rumah karena tidak ada pembantu”.

Kemudian yang kedua, “saya tidak keluar malam, karena saya setiap hari menunaikan kewajiban kepada rakyat dan di malam hari saya tunaikan kewajiban saya kepada Allah”.

Dan yang ketiga, “satu hari dalam seminggu saya tidak keluar rumah karena saya mencuci pakaian saya dan menunggusampai kering, karena saya tidak mempunyai banyak pakaian”.

Khalifah Umar bin Khattab langsung mencucurkan airmata selesai mendengar jawaban gubernur Homs itu.

Semoga kisah kota Homs yang strategis ini, demikian juga kisah Khalifah Umar bin Khattab, Khalid Bin Walid dan gubernur Said bin ‘Amir serta perang terkini yang memporak-porandakan kota sangat indah ini, dapat kita petik pelajaran yang berharga dalam membangun Aceh.  [Dari berbagai sumber]

Munawar Liza Zainal, warga Aceh Besar pernah bermukim di Timur Tengah

KOMENTAR FACEBOOK