Beberapa Pertanyaan untuk Sdr. Hasnanda

Pembaca yang budiman, terus terang, tulisan yang sedang anda baca ini adalah paling berat yang pernah saya buat. Untuk mengurangi beban itu, maka saya membagi tulisan ini menjadi tiga bagian.

Pertama, harus saya akui, bangun bulu ketika saya membaca kalimat terakhir dari sdr. Hasnanda Putra, ”Bersahabat tanpa syarat dengan Bung Alkaf”. Bagi saya, kata-kata itu laksana gemerlap mercon di malam tahun baru. Tentu saja bukan tahun baru di Aceh. Sebab disini, tahun baru harus senyap dan dingin, serta disambut dengan biasa saja.

Uluran persababatan itu saya terima. Sebab saya meyakini bahwa hal itu memang sangat tulus. Sebab saya bukan-lah siapa-siapa. Bukan-lah calon Kahumas Pemkot, bukan juga tukang atur E-Kinerja PNS, terlebih bukan calon ketua KNPI Banda Aceh yang akan menggantikan Sdr. Hasnanda di awal tahun depan nanti.

Ya sudah, bagian pertama yang agak melo ini saya akhiri.

Kedua, sdr. Hasnanda menurut hemat saya berani dan lugas dalam menyoroti perlombaan antara dua tetangga dekat; Aceh Besar dan Pidie. Dua wilayah yang dipisahkan oleh gunung Seulawah itu hampir sepanjang zaman saling mengawasi. Atau karena dipisahkan oleh gunung itu membuat keduanya menjadi kurang saling menyapa. Apa benar demikian sdr. Hasnanda?

Banyak orang yang memilih untuk menghindari untuk membincangkan “ketegangan” dua entitas ini. Akan tetapi, sdr. Hasnanda melakukannya dengan caranya yang elegan, bukan dengan cara yang ek meulegan.

Perhatikan, cara dia membahas masalah itu dengan mengurai emosi kita tentang Perang Aceh yang mayshur itu, “….negeri agung tempat Tgk Chik Ditiro berjuang sampai ajal menjemput. Tiro pidie tulen tapi tinggal di Aceh Rayek. My hero Tiro adalah wajah hubungan dua daerah yang melegenda. Sebagian dari keluarga Tiro masa silam masih berada dalam seputaran Montasik sampai Buncala dan sejalur dengannya”

Siapa yang dapat membantah hal tersebut?

Saya rasa tidak ada. Karena memang secara jelas dan tandas, Tgk. Chiek di Tiro dan keturunannya berdiri tegak bagai karang untuk melawan Belanda, dari bentengnya di Aneuk Galong, Montasiek itu.

Akan tetapi saya tidak begitu cocok dengan upaya sdr. Hasnanda mempertautkan gunung Seulawah dengan seperti ini, “Seulawah Agam yang tegak dan kuat berada di Aceh Rayeuk, sebelah nya Seulawah dara melambai lembut di negeri Pidie”. Kok ada tegak dan lambaian gitu, terkesan seperti kampanye BKKBN saja.

Atau, sdr. Hasnanda hendak mempertemukan Aceh Besar dan Pidie dengan tamsilan buah-buahan. Rambutan kepunyaan Montasiek, Aceh Besar dengan durian Tangse-nya, Pidie. Hal tersebut baik, namun sdr. Hasnanda melupakan satu hal: falsafah Rak Mie. Perkara itu adalah serius untuk membangun sebuah suasana yang harmoni dari dua wilayah itu. jadi saya menunggu pledoi sdr. Hasnanda untuk menjelaskan tentang posisi rak mie itu.

Ketiga, apa yang akan dilakukan oleh sdr. Hasnanda setelah menyelesaikan tugasnya sebagai Ketua KNPI Kota Banda Aceh? Kalau saya bertanya langsung, dia pasti akan menjawab “Saya menunggu arahan Bung saja”.

Sdr. Hasnanda, hemat saya, pastilah akan terus membangun karirnya di dunia birokrasi. Namun, saya hendak mengingatkan beberapa hal yang penting, sekitar perkara kepemudaan di Kota Banda Aceh.

Sejauh amatan saya, sdr. Hasnanda sudah membuat KNPI Banda Aceh lebih berdenyut. Dia berhasil membangun gairah kepemudaan. Berkali-kali saya lihat, kegiatan yang organisasi itu lakukan, kemudian gagasan-gagasan yang muncul pun sering mengejutkan!

Siapa yang pernah berfikir bahwa KNPI Kota Banda Aceh membangun sebuah MoU dengan KNPI Kota Makassar. Tidak ada yang pernah menduga hal itu. bahkan oleh sdr. Hasnanda sendiri! MoU itu seperti bergerak sendiri, seperti ter-teken sendiri. Begitulah kira-kira untuk mengambarkan bergeraknya KNPI di bawah kepemimpinan sdr. Hasnanda.

Oleh karena itu, pesan saya kepada sdr. Hasnanda, kawal-lah dengan baik suksesi KNPI itu. sebab, yang disebut keberhasilan sebuah kepemimpinan ketika kita berhasil mewariskan sebuah hal yang baik di masa depan. Kalau malah setelah periode sdr. Hasnanda, KNPI Kota Banda Aceh menjadi keblinger. Saya harus bilang “ Anda ikut bertanggung jawab!”

Karena bagian ketiga sudah selesai, maka tulisan ini saya akhiri sampai disini. Semoga sdr. Hasnanda meluangkan waktu untuk membacanya. Dan saya berharap, jangan ada lagi tulisan balasan, sebab membuat saya harus membuat tulisan lain untuk juga membalasnya. Haek ta meu alat bak buet soet!

Bung Alkaf, kolumnis aceHTrend

Baca opini Hasnanda Putra, klik Dimana Azan Berkumandang 

KOMENTAR FACEBOOK