Penulis Buku Hasan Tiro Picu Diskusi ‘Panas” Soal Sejarah

ACEHTREND.CO, Aceh — Murizal Hamzah, penulis buku Hasan Tiro, Jalan Panjang Menuju Damai memicu diskusi “panas” soal sejarah. Apa pasal?

Menurut Murizal, terkait sejarah Aceh ada kebohongan yang terus diulang dan disebarluaskan di media sosial. Murizal memberi lima contoh, seperti;

1. Foto istri raja Aceh yang memakai seledang disebut foto Cut Nyak Dhien
2. Pesawat Seulawah disebut cikal bakal pesawat Garuda
3. Bireuen disebut pernah jadi ibu kota negara RI ketika Yogya dikuasai Belanda
4. Kutaradja pernah jadi ibu kota PDRI ketika Yogya dikuasai Belanda
5. Foto raja Aceh yg disebut menyumbang emas monas disebut itu foto Teuku Markam

Menurut Murizal Hamzah, semakin sering kebodohan dan kebohongan itu direproduksi terus, maka suatu saat akan diterima (sebagai kebenaran).

Untuk itu, Murizal Hamzah menantang aceHTrend untuk mengundang sejarawan guna meluruskan. “Peu na pakat diluruskan di aceHTren?” tantang Murizal Hamzah.

Tantangan Murizal Hamzah yang diposting di halaman facebook, Minggu (27/12/2015) pagi langsung mendapat sambutan. Sejumlah penulispun memberi tanggapan yang tidak kalah “panas.”

Debat Soal Cikal Bakal Garuda
Diskusi soal pesawat Seulawah sebagai cikal bakal Garuda menjadi panas ketika Murizal Hamzah melalui komentarnya kembali menegaskan posisi pesawat Garuda.

Munawar Liza, murid Hasan Tiro langsung ikut nimbrung. Melalui dua link, mantan Walikota Sabang yang kini aktif menulis membantah argumen Murizal Hamzah.

Meski begitu, Murizal belum menyerah. Menurutnya, info soal Garuda sudah dibantah dan pesawat yang disumbang oleh rakyat Aceh adalah pesawat kepresidenan.

“Pat bantahan bahwa Seulawah Ri 001 kon cikal bakal garuda?” tanya Munawar Liza Zainal menantang Murizal Hamzah agar memberi data/informasi.

Murizal Hamzah lalu menambahkan, informasi tentang Seulawah sebagai cikal bakal pesawat Garuda hanya bertahan sampai 1990. Usai itu sudah tidak ada lagi. Informasi kembali dibantah oleh Munawar Liza dengan mengatakan bahwa sampai 2014 info itu masih tetap ada.

Munawar Liza bahkan menantang Murizal Hamzah untuk mengirim data atau informasi yang membantah informasi yang dimilikinya.

‘Meunoe, ci neu kirem data atau info yang membantah bahwa garuda kon cikal bakal dari seulawah,” tulis Munawar Liza Zainal yang ikut memposting buku untuk memperkuat argumennya.

Sampai berita ini diturunkan, diskusi “panas” masih terus berlangsung. Sejumlah pengguna facebook ikut nimbrung, seperti Yarno Kluet, Mastur Yahya, Teyede Ni Hai, Yusradi Yusran Al-Gayoni, Adi Fa, Nyak Umaimah Wahid, Aboeprijadi Santoso, Mukhlis Mukhtar, Safruddin Hanafiah, Boy Nashruddin Agus, dan Budi Azhari.

Bung Alkaf, yang tampil dengan sejumlah pertanyaan kritis tetap menyatakan salut kepada Murizal Hamzah.

“Tapi lon galak dengan Murizal Hamzah, seban gobnjan mempertanyakan hal yang dianggap selesai oleh yang laen, sehingga tanjoe kembali membuka buku lagi,” kata Bung Alkaf memberi semangat kepada Murizal Hamzah.

Beda lagi dengan Mukhlis Mukhtar, pengacara handal yang juga kerap terlibat dalam kegiatan kebudayaan mengusulkan agar Kongres Peradaban Aceh 2016 bersedia membuat muzakarah untuk meluruskan sejarah Aceh.

“Menurut hemat saya sejarah Atjeh sudah banyak yang diselewengkan?” tegasnya.

“Teruskan,” ajak Yusra Habib Abdul Gani, penulis buku Self Government, Studi Perbandingan Tentang Desain Administrasi Negara. []