Biologi Politik: Kemunculan Spesies Benderavor Pascakonflik Aceh

WAKTU masih kelas satu SMP dulu, saya begitu tertarik dengan pelajaran biologi. Lebih dari itu, bahkan sempat terpikir kelak ingin menjadi guru biologi. Sebenarnya ketertarikan tersebut bukan karena ia pelajaran yang menyenangkan. Yang bikin saya betah dan fokus mengikuti pelajaran tersebut karena gurunya cantik, masih muda, dan ketika itu belum menikah. Saking sukanya, sampai-sampai nama beliau saya jadikan nama sepeda.

Kalau saya berjodoh dengannya, atau mendapat istri seorang ahli biologi lain, tulisan ini akan menjadi artikel biologi ilmiah. Saya membayangkan, kami berdua akan melakukan riset. Setelah selesai langsung menghubungi Bang Risman Rachman agar hasilnya dimuat segera di rubrik “Ulasan Ilmiah” Acehtrend.com. Di profil penulis akan tertera: “Kedua penulis adalah pasangan suami-istri ahli biologi”. Tetapi karena harapan tersebut tak terwujud dan telah kukubur dalam-dalam ke inti Bumi, maka jadilah ini artikel satire yang menggunakan perspektif biologi-politik dalam menganalisis perilaku manusia yang terlibat dalam polemik tuntutan pengesahan dan pengibaran bendera bulan-bintang di Aceh. Ini adalah salah satu isu politik yang belakangan sering timbul tenggelam.

Terus terang, saya merasa geli dengan komentar mereka yang menggunakan predikat “pengamat politik” di media. Mereka mengatakan heran dengan pejabat dan sipil yang sibuk menuntut dikibarkannya bendera bulan-bintang di tengah kondisi masyarakat yang belum sejahtera; mereka heran mengapa ada orang yang hidupnya pas-pasan, bahkan cukup kesulitan memenuhi kebutuhan harian, bisa dibuat tidak mengutamakan isu kesejahteraan dalam tuntutannya di ruang publik. Orang yang betul-betul mempelajari perilaku politik tak akan heran dengan fenomena seperti itu. Sebab para politikus selalu memanfaatkan isu-isu tertentu untuk mengalihkan perhatian massa dari masalah ketidakmampuan atau penyelewengan mereka di dalam sistem. Dengan sumber daya yang mereka miliki, terutama kombinasi uang dan media, massa bisa dibuat tidak menyorot lagi persoalan tersebut. Pembaca pun gampang dikibuli permainan kata-kata. Apakah hal yang demikian itu mengherankan bagi kita, publik yang responsif atau rajin mengamati situasi politik? Bukan pengamat politik, tetapi yang seharusnya heran dengan situasi atau cara berpikir banyak orang Aceh seperti itu adalah ahli biologi.

Manusia tidak akan memberikan kekuasaan kepada binatang, sebab ia merupakan spesies yang ditakdirkan tidak mempunyai keterampilan memimpin (mengatur kehidupan) manusia. Di negaranya masing-masing, setiap manusia hanya akan memberikan kekuasaan kepada manusia, meskipun penguasa dari spesies mereka lebih buas dari binatang buas. Mungkin Anda sudah pernah mendengar/membaca kisah Konghucu yang bersama para muridnya diusir dari kerajaan karena menentang kekejian raja. Sesampainya di hutan, mereka melihat seorang perempuan menangis di samping kuburan yang masih baru. Ia menangis karena mertua, suami, dan anaknya tewas dimangsa harimau penghuni hutan. Ketika Konghucu bertanya alasannya tak meninggalkan hutan agar tidak ikut dimangsa harimau, si perempuan menjawab, “Sebab tak ada pemerintah yang menindas di sini”. Lantas Konghucu berkata kepada para pengikutnya, “Ingatlah! Pemerintah yang sewenang-wenang jauh lebih menakutkan ketimbang harimau” (Tempo, 2011). Bagaimanapun juga, tidak akan manusia bersedia dipimpin spesies nonmanusia, sebab hanya penguasa-manusia yang mengerti cara memenuhi kebutuhan manusia lainnya (rakyat). Pada kedudukannya, ia, bermodal pengetahuan mengenai masalah kebutuhan biologis manusia, akan menggunakan wewenang politisnya untuk merumuskan program pengentasan masalah kekurangan atau kesulitan memperoleh makanan yang dialami populasi akibat kemiskinan.

Para pengambil kebijakan di Aceh sadar sedang berhadapan dengan krisis tersebut, tetapi malah memprioritaskan bendera (artefak identitas). Kejanggalan ini tentu harus diteliti oleh ahli biologi. Mereka harus membawa orang-orang yang sibuk menuntut dikibarkannya bendera bulan-bintang ke laboratorium. Mereka harus diperiksa dengan mikroskop. Dan tak mungkin ahli biologi tak heran dengan temuannya. Tidakkah ahli biologi heran dengan sekumpulan manusia yang kelaparan tetapi malah meminta pemerintah memberi bendera (kebutuhan nonbiologis) kepada mereka?

Tidak ada yang salah dengan usaha membangun atau merenovasi identitas. Itu juga kebutuhan manusia. Di samping kebutuhan biologis, manusia tidak bisa terlepas dari pemenuhan kebutuhan politis (mengutarakan kritik secara bebas, memperjuangkan hak-hak warga negara, memiliki identitas, mengekspresikan simbol-simbol kelompok). Tetapi manusia memiliki prioritas yang harus dipenuhi untuk kelangsungan hidupnya. Pada setiap dua atau lebih keharusan tetaplah ada perbedaan tingkat kegentingan dalam keharusadaannya. Bendera, sebagai salah satu kebutuhan politis, tidak bisa dimakan; kecuali kue yang didekorasi menyerupai bendera negara-negara seperti yang pernah dipamerkan di Sydney International Food Festival. Kue-kue berbentuk bendera itu bisa dimakan dan disebut delicious flags.

Seharusnya bendera dijadikan tuntutan utama ketika masalah kemelaratan telah selesai. Orang-orang sudah tidak punya masalah lagi dalam pemenuhan kebutuhan primer sehingga bisa fokus menuntut legalitas penggunaan simbol yang harus juga diberikan sistem. Anehnya, di Aceh bahkan ada yang sampai berani bilang tidak masalah perut lapar asal bendera berkibar.

Selama ini spesies dibagi dalam tiga golongan: herbivora (pemakan tanaman), karnivor (pemakan daging), dan omnivor (pemakan tanaman dan daging). Manusia adalah spesies yang memakan sayur-mayur dan daging. Dan sekarang telah muncul golongan baru: benderavor.

Benderavor adalah spesies pemakan bendera. Ia bentuk lanjutan dari omnivor. Spesies ini mengalami penyimpangan biologis akibat tidak terprogramnya nalar kritis dalam kerangka berpikir mereka sehingga rentan diperdaya para politikus yang hendak membuat masyarakat tidak mengutamakan isu kesejahteraan dalam wacana kesehariannya. Artinya mereka memakan bendera karena merasa itu kebutuhannya, bukan karena paksaan. Berbeda dengan yang dialami para korban kekejaman Belanda dahulu kala yang dipaksa meminum air kencing dan memakan bendera.

Mula-mula, propaganda tuntutan pengesahan dan pengibaran bendera bulan-bintang hanya memengaruhi beberapa orang, lalu semakin meluas hingga memberi “tekanan” bagi setiap orang yang belum mengambil posisi opini. Karena pendukung rezim mantan kombatan masih banyak, mendominasi dalam masyarakat, keadaan lingkungan seperti itu semakin meluas dan cukup efektif memengaruhi siapa saja yang tidak kritis. Dalam biologi gejala ini disebut responsi, yakni “kegiatan atau perubahan perilaku makhluk sebagai akibat rangsangan atau fluktuasi keadaan lingkungan”.

Para ahli biologi mengatakan perubahan fisik ditentukan faktor genetika dan lingkungan. Artinya kita memiliki dua lingkungan: dalam dan luar. Lingkungan dalam terdiri dari sel-sel dan organ-organ yang membentuk tubuh. Lingkungan luar terdiri dari komponen biotik (manusia, hewan, tumbuhan) dan abiotik (cahaya, air, batu, dan bentuk-bentuk tidak hidup lainnya). Batu, salah satu benda abiotik, secara mekanis tidak dapat dicerna tubuh manusia. Setiap makhluk hidup mempelajari hal-hal yang bisa dikonsumsi dan tidak. Bendera memang bukan “komponen penyusun ekosistem” seperti batu. Tetapi ia termasuk benda di lingkungan luar yang tak bisa dicerna, kecuali oleh spesies benderavor. Dalam sistem gastrointestinal, bendera memang bisa dimasukkan ke mulut, lalu melewati kerongkongan dan masuk ke lambung. Namun di lambung, ia akan ditolak. Lambung tidak bisa mencerna bendera.

Otak makhluk hidup berfungsi untuk mengoordinasi atau mengatur tindakan dan keinginan agar sesuai dengan kebutuhan fisik. Dalam keadaan lapar, otak mengatur tindakan kita untuk segera mencari dan memakan makanan yang bisa dicerna sebelum sel-sel dan organ-organ pada tubuh rusak dan terganggu fungsinya. Di samping itu, otak juga digunakan manusia untuk menyatakan bahwa ia seorang nasionalis atau etnonasionalis. Namun lambung manusia tidak punya posisi politis seperti itu; ia tidak nasionalis, tidak juga etnonasionalis. Dalam politik, posisi lambung netral. Lambung tidak mau mencerna bendera negara, apalagi bendera yang agak-agak mirip punya gerakan separatis. Akan tetapi mekanisme tersebut tidak berlaku pada lambung spesies benderavor. Lambung mereka dapat mencerna bendera, lalu mengolahnya menjadi gizi, energi, dan otot.

Jika manusia normal menerapkan pola 4 sehat 5 sempurna, omnivora menggunakan 4 sehat 5 sempurna 6 yahud. Dalam pola yang pertama, susu menjadi komponen pelengkap setelah mengonsumsi yang empat: makanan pokok, lauk-pauk, sayur-mayur, dan buah-buahan. Susu dikonsumsi apabila mampu. Sementara tidak semua orang mampu menjadikan susu sebagai santapan rutin. Namun bagi spesies benderavor, membeli susu untuk melengkapi nutrisi adalah perkara gampang. Mereka selalu mampu membelinya. Anak-anak mereka minum susu saban pagi hari sebelum berangkat sekolah. Mengonsumsi susu menyehatkan badan, kemudian dilengkapi dengan bendera agar semakin luar biasa bugar, perkasa, dan kebal seperti sosok Luke Cage di serial Jessica Jones. Bahkan kadang-kadang bendera dimakan dengan cara dicelupkan ke dalam susu terlebih dahulu.

Lebih dari makanan, bendera bahkan dianggap spesies baru ini sebagai solusi krisis-krisis lainnya. Tidak seperti generasi saya yang pada masa konflik mengalami banyak tekanan, anak-anak sekarang punya lingkungan aman untuk menuntut ilmu. Apalagi persoalan krisis energi listrik sudah selesai. Anak-anak sekarang bisa nyaman membaca buku atau menyelesaikan PR pada malam hari. Mereka tak perlu khawatir dengan kontak tembak dan mati listrik. Soalnya setelah konflik RI-GAM usai, di Aceh telah dibangun PLTB: Pembangkit Listrik Tenaga Bendera.

Bisma Yadhi Putra, kolumnis aceHTrend yang belum menikah

KOMENTAR FACEBOOK