Tafsir Senyum Abu Doto

Setelah isteri dan anak-anak, yang paling saya rindukan adalah senyum yang mengambang di bibir Abu Doto. Abu Doto yang saya maksudkan adalah yang mulia Dr. Zaini Abdullah, Gubernur Aceh.

Selama tujuh bulan di awal-awal pemerintahannya saya sering bertemu dan menimati senyum khas putra kesayangan Tgk. Abdullah Trubue ini. Setelah itu sampai hari ini saya tidak pernah jumpa dan tidak berusaha berjumpa, sehingga saya tidak dapat lagi menyaksikan dan menimkmati senyum yang merekah dari bibir orang nomor satu di Aceh ini. Karena pernah melihat dari jarak dekat Abu Doto tersenyum, sungguh harus saya akui bahwa saya sangat rindu dengan sunggingan beliau.

Alhamdulillah, kerinduan saya terobati sejak malam dan hari Selasa (29/12/2015) ketika sejumlah media sosial, media online dan media cetak mempublikasikan foto Abu Doto yang tersenyum lebar sambil memeluk hangat Mualem yang didampingi Direktur Jenderal Bina Keuangan Daerah Kemendagri Reydonnyzar Moenek beberapa saat setelah pertemuan membicarakan rencana pembahasan RAPBA 2016 di Kemendagri.

Khusus di medsos, pasca dipublikasikannya foto “mesra” Abu Doto tersebut berbagai komentar berseleweran. Bermacam tafsir dalam berbagai perspektif dapat kita baca. Dari yang memuji, menertawakan sampai mencaci. Misalnya, ada seorang ibu yang aktif tiga kali sehari memposting statusnya di facebook berkomentar renyah, “alah hai polem, nyan buet pih payah selesaikan di keu Jawa”.

Tentu semua komentar dan tafsir di medsos terkait senyum Abu Doto sambil memeluk Mualem itu — baik yang memuji, menertawakan maupun mencaci — sifatnya subjektif. Bisa saja salah, dan dapat saja akurat.

Tapi saya yakin makna senyum Abu Doto saat memeluk Mualem itu hanya Abu Doto sendiri dan beberapa orang lain yang diberitahukannya yang tahu. Mualem sendiri yang dipeluk Abu Doto belum tentu tahu.

Yang pasti bagi kita rakyat, senyum Abu Doto adalah sebuah harapan. Sebuah optimisme. Kita harap Abu Doto terus tersenyum dan ini sekalian menjadi jawaban bahwa tidak benar kalau Abu Doto suka marah. Orang yang suka senyum pasti jarang marah. Memang ada juga sih orang yang seketika marah seketika pulang senyum.

Lalu dengan mengedepankan husnuzan apa kira-kira tafsir dari senyum Abu Doto itu?.

Mungkin saja, Abu Doto tersenyum karena dalam pertemuan tersebut di sepakati bahwa RAPBA 2016 akan dilanjutkan pembahasannya. Jadi wajar saja Abu Doto tersenyum karena masalah berat yang dihadapinya itu dalam beberapa hari ini mulai terbuka jalan keluar.

Mungkin saja, lewat senyumnya itu Abu Doto ingin menyampaikan pesan verbal kepada semua pihak bahwa Abu Doto tidak memiliki masalah apa pun dengan Mualem. “Kalau ada masalah mana berani merangkul Mualem sambil tersenyum lagi”, barangkali demikian lebih kurang penjelasanannya.

Mungkin saja, lewat senyum nya itu Abu Doto ingin mengingatkan kita bahwa tanpa Jakarta kita tidak dapat berbuat apa-apa. Kita masih butuh Jakarta. Sekedar untuk merangkul Mualem saja harus ke Jakarta.

Terakhir, mungkin saja, sambil tersenyum Abu Doto ingin mengajarkan kita bahwa seberat apa pun masalah yang kita hadapi kita harus tetap rileks. Kepala boleh panas tapi hati harus tetap dingin. Seperih apa pun rasa dan cita rasa yang ada, kita harus tetap tersenyum. Maka Abu Doto pun dengan ringan mempersembahkan senyum manisnya kepada kita semua.

Sepertinya senyum manis Abu Doto itu adalah pelajaran sekaligus bahan renungan kita bersama!. .[]

Usamah El-Madny

KOMENTAR FACEBOOK