245 Mins, Menerjemahkan Surat Cinta bersama “Wali di Kota Para Raja”

Beberapa bulan yang lalu, Banda Aceh dihebohkan oleh Surat Cinta Yang ditulis oleh seorang Warga kota dengan Inisial SCNA, warga kota Banda Aceh asal Lamdingin, yang ditujukan kepada Walikota Banda Aceh. Surat itu di publis oleh salah satu media online yang ada di Provinsi Aceh. Sekilas memang surat cinta itu hanya surat biasa, sederhana, ditulis oleh penulis yang tidak populis dan diragukan indentitasnya, dan bila ditelisik lebih dalam pada kata-kata romantikanya jelas tidak sebanding dengan frasa romantika yang ada dalam surat Caisar Romawi yang ditulis untuk kekasih tercintanya, perempuan anggun dengan nama Cleopatra.

Tapi dari surat itu tersirat dengan jelas, bahwa itu surat bernada protes dari warga kota untuk Walikota, terkait pelayanan air bersih, listrik yang kerap mati, dan jalanan yang berdebu, taman taman kota yang mati akibat kemarau melanda. Takdir dari Allah seorang perempuan yang telah memenangi dua kali Pilkada Kota Banda, mendampingi almarhum Mawardi Nurdin, sepulang kerahmatullah walikota yang berlatar belakang birokrat – teknokrat itu, Sang Wakil yang kebetulan dari kaum hawa, menjadi Walikota.

Ya Banda Aceh dinakhodai oleh Walikota yang berasal dari kaum hawa, ini adalah yang pertama dari Aceh, seorang pimpinan setingkat Kotamadya dipimpin oleh seorang perempuan. Hal ini bagi rakyat Aceh serasa “De Javu“. Flasback kebeberapa abad yang lalu, ada Ratu yang memimpin kerajaan Aceh, dimana pernah dicatat sejarah dengan nama Sri Ratu Safiatuddin Tajul Alam (1641-1675) Sri Ratu Naqiatuddin Nurul Alam (1675-1678), Sri Ratu Zaqiatuddin Inayatsyah (1678-1688), Sri Ratu Zanatuddin Kamalatsyah (1688-1699). Demikian menurut Lombard, Denys, dalam Kerajaan Aceh, Kepustakaan Popular Gramedia, 2006.

Bahkan dalam sejarah perlawanan rakyat Aceh melawan imperialisme Belanda juga muncul tokoh tokoh perempuan Aceh yang dikenang rakyat Aceh sebagai pahlawan sepanjang masa, yaitu Pocut Meurah Intan, Laksamana Malahayati (Keumalahayati), Pocut Baren, Cut Meuthia, dan Cut Nyak Dhien. Untuk nama yang terakhir ini dikenal dengan azzam “selama aku masih hidup, masih berdaya, perang suci melawan kafir ini kuteruskan.” Itulah sepenggal nama nama perempuan Aceh yang telah tercatat dalam Geunines Book sebagai Tokoh Wanita, perempuan heroik dari Serambi Mekkah yang prestasinya melebihi kaum laki-laki.

Catatan sejarah diatas penulis narasikan bukan bermaksud menyamai Walikota Banda Aceh dengan para Ratu atau pahlawan perempuan dari Aceh. “Sungguh terlalu” mengutip kata bang Rhoma Irama si Raja Dangdut yang terkenal dari tanah Jawa. Dan sangat hiperbola memang bila itu dilakukan, tapi ini penulis merasa De Javu (Red: pernah terjadi, pernah mengalami) dimana Aceh pernah dipimpin oleh perempuan pada masa lampau kini terulang kembali. Banda Aceh sebagai barometer provinsi Aceh atau dengan kata lain Ibu Kota dari provinsi Aceh dipimpin oleh seorang walikota yang berasal dari kaum perempuan.

Lumrah dalam dimensi kehidupan di dunia ini, perempuan adalah sosok yang feminis, keibuan, kelembutan, penuh kasih sayang, yang punya domain wilayah operasi pekerjaan dengan memasak, mendidik anak atau menjadi ibu rumah tangga, yang kerap dihiasi dengan air mata yang terurai ketika menghadapi permasalahan, dan terus dipandang dengan mata terpicing dan terbentuk frame dalam logika kebanyakan laki-laki bahwa perempuan itu adalah kaum yang termarginalkan.

Tadi siang, seusai shalat Jumat saya mendapat telepon dari nomor 081269xxxxx. Terdengar suara dengan intonasi penuh kelembutan dibalik sang penelepon. Dan ternyata itu adalah suara ibu Illiza. Ya beliau adalah Walikota Banda Aceh saat ini. Setelah mengucapkan salam, beliau menanyakan kabar dan saya sedang berada dimana. Secepat kilat saya menjawab bahwa saya baru saja melaksanakan ibadah bagi kaum adam, yaitu shalat Jumat. Beliau, lantas menanyakan apakah saya punya waktu untuk berdiskusi? Saya jawab Insya Allah ada! Secepat kilat beliau memberitahukan alamat rumah beliau tempati. Mudah memang bagi saya mengetahui alamat rumah tersebut, karena saya pernah duduk dan tinggal di Gampong Lamdingin Kota Banda Aceh.

Tak saya sangka pertemuan tanpa perencanaan dan bahan yang mumpuni yang seharusnya saya siapkan lazimnya bertemu seorang pejabat (red: walikota) telah memakan waktu lebih kurang selama 245 menit. Bukan waktu yang singkat karena mengingat bertemu orang nomor satu yang punya segudang kesibukan dan seabrek aktifitas dalam keseharian memimpin Kota Banda Aceh.

Pertemuan berlansung santai, layaknya adik dan kakak yang lama sudah tidak bertemu. Nuansa damai dan keasrian rumahnya membuat pertemuan begitu nyaman, apalagi dilengkapi dengan disuguhi secangkir teh hangat dan sepiring potongan buah semangka, yang habis kami sikat seiring dengan diskusi “Muhibbah” berlansung. Beliau bercerita banyak, tentang pengalaman organisasi, segudang aktifitas sebagai pemimpin kota, dan sebagai ibu rumah tangga. Beliau merasa sedih, karena waktu yang tersita lebih banyak untuk publik dibandingkan waktu beliau dalam mengurus suami yang dicintainya dan anak–anak yang disayanginya.

“Inilah resiko bagi kita yang telah mewakafkan kehidupan untuk umum,” ujar beliau. Jadi persoalan rakyat sebagai amanah undang-undang dan mementingkan kepentingan rakyat kota Banda Aceh daripada kepentingan pribadi dan keluarga, harus beliau prioritaskan sebagaimana janji sumpah yang telah diucapkan pada saat pelantikan sebagai Walikota.

Sesaat nuasa hening pun terjadi, bola matanya yang semula menerawang tentang mimpi mewujudkan perjuangan Banda Aceh sebagai kota Madani menjadi binar. Ya, saya melirik ada bulir air mata di pipinya. Beliau menangis, karena keikhlasan menjaga Syariat Islam berbuah hujatan dan makian yang disempurnakan dengan sumpah serapah bagi dia secara pribadi dan keluarga.

Beliau berujar: “Saya tidak akan sanggup mempertanggung jawabkan di Mahkamah Allah nanti apabila saya tidak menjalankan Syariat Islam. Terlalu naif bagi saya secara pribadi apabila mengkebirikan syiar islam di kota Banda Aceh, karena menurutnya Provinsi Aceh telah menjalankan syariat Islam secara Holistik sejak tahun 2003.”

Ya, berbagai sebutan diarahkan untuk melakukan pembunuhan karakter pribadinya. Meme-meme yang beredar di sosmed kadang membuat hatinya menjerit. Sebutan Bunda suka gerebek, Bunda kuno, Bunda primitive kerap diterimanya sebagai penghukuman terhadapnya dalam suka dan duka menjalankan syariat islam secara kaffah di kota Banda Aceh.

Lanjut cerita seperti malam tahun baru dimana beliau menjalankan perintah Ulama (red: MPU) untuk melarang warga kota larut dalam hingar bingar eforia perayaan tahun baru yang melanggar aturan Islam dan tidak sesuai dengan adat dan budaya kita orang Aceh, namun yang didapat adalah sumpah serapah yang penuh intrik dan fitnah. Ada yang mempostikan bahwa dirinya sedang berada di Kota Cinta yang penuh romantika (red: menara Effeil Negara Prancis) padahal dirinya bersama ulama dan unsur kepolisian turun ketengah kota bersama rakyat untuk membentengi akidah dan moral anak muda warga kota yang mulai terdegradasi dan bergeser mengikuti arus globalisasi dan derasnya keterbukaan teknologi canggih.

Beliau heran, kenapa segelintir orang berlomba-lomba membuat sesuatu yang tidak sesuai syariat dan dilarang oleh Alquran dan hadist Rasullullah, membuang buang waktu untuk hal yang tidak ada manfaat dan tak ada akhir dari cerita sebuah kebahagiaan. Sembari menghela nafas beliau bercerita ratusan sms hujatan dan ribuan sms dukungan masuk kenomor selularnya, sejurus kemudian beliau menampakkan sms dari beberapa ulama dan pimpinan dayah serta pesantren di Aceh atas bentuk dukungan ulama dan pemuka adat serta budaya mengpresiasikan terhadap apa yang dilakukannya.

Satu sms yang membuat hati saya terenguh, sms itu datang dari seorang pemuda yang cacat sejak bawaan lahir tapi berjuang hidup keras dan menolak untuk menjadi pengemis, ya pemuda itu adalah seorang pemuda cacat fisik yang kerap saya temui di pasar ikan Peunayong, dia berjualan plastik, isi smsnya sebagai berikut:

“Bunda teruslah berjalan, apa yang zbunda lakukan sudah benar, doa ulama serta rahmat rasul diiringi dengan doa dari ribuan malaikat Allah menyertai bunda, lihat bunda mereka berhura-hura membakar rupiah dengan menyulut kembang api, membuang uang dengan pesta pora, minuman keras, dan menghamburkan uang untuk pesta layaknya sebuah kemenangan yang telah lama mereka impikan, mereka berpendidikan tinggi, punya bentuk tubuh fisik yang sempurna, penghasilan yang mumpuni, tidak ingatkah mereka ribuan anak yatim dan janda jompo dan fakir miskin, serta kaum difabel seperti saya membutuhkan uluran tangan mereka. Bunda doa kami bersama bunda.“

Itulah beberapa penggal kalimat yang masih terngiang dikepala saya, sehingga saya memcoba menarasikan dalam tulisan yang sederhana ini.

Sekejap staff ruma tangganya menyuguhi nasi bungkus khas Banda Aceh yang dibeli oleh staffnya. Saya mencoba mencadainya, tidak ada sie reuboh bunda? Kali lain ya? Karena ini bang Amir (red: panggilan ibu walikota untuk suaminya) sedang diluar kota menjenguk anak–anaknya yang sedang studi. Dan setengah heran saya menanyakan siapa anak-anak setengah baya yang dari tadi lalu lalang dirumahnya itu?

Beliau menjawab itu adalah anak yatim sebatang kara pasca tsunami diambil dan diasuh olehnya, semua di sekolahkan, hampir 50 orang dia biayai secara pribadi. Suaminya kerap berkelakar dia layaknya seorang ibu pengasuh dari sebuah panti asuhan hal ini dengan ramainya anak yatim korban tsunami dan korban konflik yang dibiayinya.

Beliau berujar rumah dua lantai seluas itu didiami oleh anak yatim tersebut, dia hanya tinggal dirumah sederhana 2 kamar tipe 45 yang ada disamping rumah induknya bersama sang suami. Dia bercerita sudah punya puluhan cucu dari anak asuhkan, dia bangga akan prestasi anak anak asuh tersebut, selain buah hati dengan suami tercinta anak-anak tersebut adalah penghibur dikala dia dicaci karena menjalan syiar agama Allah dikotanya, dan penghilang penat dikala dia lelah dengan pekerjaan yang tidak mudah dalam mengurus puluhan ribu warga kota.

Kelak dia mengatakan rumah yang mempunyai luas tanah selebar lapangan bola itu akan dia wakafkan untuk mendidik para hafiz Alquran di kota para raja (red: Banda Aceh). Pengalamanya yang sempurna adalah ketika menjadi pemateri di Muzakarah Majelis Ulama Aceh, dekat dengan ulama adalah amanah dari orang tuanya, karena menurutnya ulama adalah lentera penerang umat sepanjang masa, dengan ulama sebagai benteng akan menjaga akidah umat di Kota Banda Aceh. Perasaannya berkecamuk tatkala Prof Muslim Ibrahim MA ketua Menyampaikan kepada ulama diforum bahwa dia adalah satu satunya perempuan yang diberikan kesempatan di depan ulama dayah Aceh sebagai narasumber untuk mencari pola dan model implementasi syariat islam di Aceh.

Itulah sekelumit kisah dari cerita pertemuan “Muhibbah“ antara penulis dengan Walikotanya. Suara azanpun berkumandang merdu terdengar dari Mesjid Lamdingin, sebagai isyarat untuk mohon diri. Diujung cerita saya menyampaikan aspirasi warga kota, bahwa pelayanan air bersih yang belum maksimal, tingkat kesadaran warga kota dalam membuang sampah belum terukur yang menjadi tongkat utama kegagalan Kota Banda Aceh dalam meraih Adipura tahun 2015.

Jalanan yang berlobang di gampong dalam kota, listrik yang sering padam layaknya lampu disco yang merusak peralatan elektronik masyarakat Banda Aceh, pola pelayanan prima dari aparatur pemeritahan dan kekerasan dalam sekolah berasrama di Banda Aceh, dan kondisi perkonomian warga kota yang fluktuatif, lokasi wisata islami yang belum maksimal, lampu penerang kota yang belum semuanya tercover, hingga baliho yang saya kritik karena lebih menonjolkan foto figure sang para pemimpin.

Alangkah indahnya bila diisi dengan view pesan aqidah moral, intinya pola branding wajah kota sebagai Bandar Wisata Islami belum sepenuhnya berjalan, karena mengutip seorang filsuf barat yang ditulis di pusara nisannya: “Jika cahaya bintang di Langit dan bulan masih menyinari pundakku, hanya hukum moral, yang pantas bagi segenap kesalahanku.“

Di ujung pertemuan, saya memberanikan diri untuk bertanya, apakah dirinya akan maju sebagai walikota dalam pilkada mendatang? Singkat dan padat beliau menjawab: “Saya belum tahu, karena saya belum meminta petunjuk kepada Allah (red: istikharah) dan juga belum meminta izin dari suami tercinta serta belum ada arahan dan bimbingan ulama Aceh. Bila ketiga yang saya sebutkan tadi sudah saya konsultasikan, Insha Allah jika tiba pada saatnya, dan Allah akan mengizinkannya, saya akan menyampikan sikap politik saya kepada rakyat Kota Banda Aceh.

Saya menimpali: “Bunda semua kritik saya tadi adalah aspirasi yang saya konlusikan dari semua elemen warga kota, saya berharap di sisa penghujung akhir dari jabatan ini, Bunda bisa merealisiakannya.” Semoga!

Reza Vahlevi, Penulis adalah warga Gampong Lambuk, Kecamatan Ulee Kareng Kota Banda Aceh

KOMENTAR FACEBOOK