Aceh Needs One

Aceh Need One

JANGAN persoal judul dalam bahasa Inggris di atas. Sebab, judul itu hanya untuk menyamakan saja dengan irama judul sebuah film berjudul Air Force One.

Pada film bergenre action yang dirilis tahun 1997 itu diceritakan kisah pembajakan pesawat Air Force One yang di dalamnya ada Jim Marshall, Presiden Amerika Serikat berserta istri dan anaknya, juga staf presiden lainnya. Anak buah Jenderal Ivan Radek yang berhasil menyusup ke pesawat setelah menyamar sebagai wartawan Moskow berhasil menguasi pesawat, sekaligus berhasil mendikte Wakil Presiden AS untuk mengikuti keinginannya.

Menariknya, presiden yang sudah dikira lari keluar pesawat menggunakan kapsul penyelamatan khusus dan oleh pimpinan pembajak disebut pengecut karena meninggalkan istri dan anaknya, ternyata masih ada di pesawat. Sang presiden tidak meninggalkan keluarga dan stafnya hanya untuk menyelamatkan diri, meski itu sudah menjadi prosedur bagi seorang presiden.

Tanggungjawabnya sebagai suami, ayah, bahkan presiden dimana semua stafnya telah menjadi sandera di pesawat dan lebih utama tanggungjawab untuk tidak berkompromi dengan penjahat membuat ia mengerahkan seluruh kemampuan, pengetahuan dan pengalamannya guna melakukan langkah-langkah pelumpuhan penjahat. Memang, ada saatnya ia tidak punya piliha, yaitu ketika kepala anaknya diarahkan senjata bila ia tidak memerintahkan Presiden Moskow untuk membebaskan Jenderal Ivan Radek, sang pemimpin pemberontak di Moskow.

Beruntung, ia memiliki istri dan anak yang tegar, yang memilih untuk tidak tunduk kepada penjahat yang memang tidak mengenal kata kompromi. Beruntung pula ia memiliki Wakil Presiden yang setia dan tidak mengambil kesempatan di dalam kesempitan.

Mengikuti kisah film yang menegangkan sekaligus mengharukan, padahal sudah beberapa kali saya tonton, melambungkan ingatan saya pada seseorang. Seseorang yang kini kerap diwartakan dan dibincangkan di media sosial dengan aksi penerbangannya, termasuk terbang dilangit Aceh.

Usai menonton film Air Force One melalui layar kaca, pikiran saya memainkan satu drama “pembajakan” Aceh. Ya, Aceh kini telah dibajak oleh orang-orang yang menyamar dengan ragam profesi. Mereka terlihat hebat tapi sesungguhnya mereka adalah diri, group, dan kumpulan pembajak Aceh. Bedanya, mereka tidak sedang ingin membebaskan pimpinan mereka, melainkan mereka sendirilah yang menjadi pemimpin, dengan pura-pura memiliki pemimpin. Jadi, ini drama pembajakan yang lebih dasyat ketimbang drama pembajakan di film Air Force One.

Lantas bagaimana? Ya, Aceh butuh seseorang, yang memiliki pemikiran, kemauan, dan kecakapan dalam menyelamatkan Aceh. Dia adalah seorang suami/istri yang mencintai istri/suami, seorang ayah yang mencintai anak-anaknya, dan seorang bos yang peduli dengan stafnya, dan lebih utama seorang pemimpin yang memiliki dedikasi dan komitmen serta profesionalisme untuk mendedikasikan kepemimpinannya bagi Aceh. Aceh juga butuh seorang yang tidak menjual negerinya kepada seorang atau sekelompok penjahat. Adakah ia sang yang senang terbang saat ini?! Aceh Needs One