Dari Atheis Menemukan Islam di Aceh

Lee Yoon Seok (31 tahun), pemuda Korea yang sebelumnya tidak percaya adanya tuhan (Atheis) kini menemukan ketenangan hati di Aceh.

Dulu, Lee termasuk seorang atheis yang sangat membenci Islam. Kampanye ‘Islam adalah Teroris’ yang ditabuh Pemerintah Amerika ke seluruh dunia sanggup membuah hati Lee mendidih saat bertemu dengan orang Islam. Dilahirkan dari keluarga tak bertuhan, Lee menjalani hidup di sebuah Kota pinggiran Seoul yang supersibuk. Dominasi warga Korea yang tidak mempercayai adanya tuhan dalam kehidupan ini telah mencampakkan kehidupan Lee hanya fokus pada duniawi saja: bekerja-pulang-tidur-bangun-kerja lagi dst, berkutat disitu saja dengan irama yang sangat membosankan dan kering hati.

Dalam ceritanya kepada Halim El Bambi dari acehtrend.co, Lee mengungkapkan kalau orang di Korea sana memiliki hati yang kering, psikologis yang labil. Dalam sehari ada puluhan kasus bunuh diri dinegaranya, padahal masalahnya terkadang hal sepele, misalnya dimarahi bos dikantor langsung bunuh diri.

Dilain waktu ada remaja putra-putri yang begitu mudahnya mengakhiri hidupnya hanya karena cintanya ditolak atau karena tidak dibelikan playstation (PS) oleh orang tuannya. Bahkan kalah dalam permainan komputer saja seorang pemuda bisa nekad terjun dari gedung pencakar langit. Semua itu karena dalam hati mereka tidak memiliki pegangan kepada tuhan, iman yang sangat tipis dan bahkan tidak ada iman sama sekali.

Ketika Lee tiba di Aceh lewat perantara kawan dekatnya seorang pengusaha, Lee menemukan arti hidup di Kota kecil Banda Aceh. Di Kota yang pernah dilanda Tsunami terbesar didunia ini, kehadirannya begitu dihargai warga Aceh. Orang Aceh yang terkenal agamis dan ramah-tamah itu telah membuah hati Lee bahagia. Orang Aceh mengayom dirinya, mengajari banyak hal tentang arti kehidupan, tentang adanya tuhan dialam semesta ini dan tuhan itu satu, yaitu Allah SWT. Tuhan yang telah menciptakan manusia dari beragam macam suku bangsa. Tuhan yang telah melahirkan dia kedunia lewat perantara ayah dan ibunya, sebelumnya orang atheis mengatakan bayi lahir itu karena mutlak kerjasama antara ibu dan bapaknya, tanpa ada campur tangan tuhan.

Azan yang selalu didengar dihampir tiap masjid di Kota Banda Aceh telah membuat hatinya bergetar. Berbagai arti kehidupan yang baru selama di Aceh telah mengubah cara pandangnya kepada Islam. Baginya, kampanye Amerika itu salah besar, Islam bukan teroris, Islam bahkan mendamaikan hatinya. Didalam Islam tidak hanya melulu memikirkan duniawi tapi juga ukhrawi (akhirat). Lama-lama dia menemukan pemahaman baru bahwa setelah manusia mati ternyata itu bukan akhir dari segalanya. Kematian hanyalah perjalanan awal menuju alam yang lebih fana (kekal) dan disana ada dua pilihan yang pasti: nikmat di syurga atau merana di neraka.

Hatinya jadi mantaf untuk menggapai kedamaian, Lee akhirnya mengucapkan dua kalimah syahadat di Masjid Raya Baiturrahman. Kini Lee telah memilih Islam, pemuda yang dulu kering hati dan membenci Islam sekarang telah menemukan jalannya yang lurus di Serambi Mekkah. Namanya kini menjadi Muhammad Yusuf. Sekarang sudah menikahi seorang gadis manis Islam asal Solo bernama Annie Lee dan tinggal di Banda Aceh dengan damai.

“Awalnya saya marah-marah saat dibangunin istri untuk shalat subuh karena tidak terbiasa bangun pagi-pagis sekali, tapi sekarang saya sudah tau kalau shalat subuh itu bisa membuat tubuh kita sehat dan awet,” akunya dengan sumringah.

Foto: Muhammad Yusuf berfoto dengan Irwan Faisal, Wakil kepala BPKS Sabang yang menjadi guru spiritualnya. Hendaknya kepada orang-orang yang berjumpa dengan dirinya agar bisa memberikan ilmu yang lurus kepada Yusuf agar dia lebih mantaf dalam Islam.(Halim El Bambi/Milah Yabmob/Acehtrend.co)

KOMENTAR FACEBOOK