Jumud

SECARA bahasa jumud bermakna beku, statis. Kejumudan bermakna kebekuan atau kemandekan. Dalam beragama kejumudan bermakna mandeg, beku, beragama (beriman) tanpa ilmu. Ada ilmu namun ternyata kurang tepat. Maklum namanya manusia tempatnya salah.

Era pun berganti, namun bagi orang jumud tak boleh ada perdebatan, tak boleh ada kekritisan, tak boleh ada pertanyaan. Kalaupun belajar maka hanya dengan orang orang sepikiran saja.

Perbedaan dalam pandangan agama bagi orang jumud haram hukumnya, semua orang harus satu aliran. Kalau beda maka layak di pindah rumahkan dari alam nyata ke alam barzah.

Ternyata sikap jumud, yang sempit, beku dan stagnan itu, cukup pesat berkembang akhir akhir ini dan pelarangan terjadi di sana sini. Kadang kalau dikaji-kaji ya jadi kebingungan juga. Ada kebingungan besar antara idealisme, idiologis, dan pragmatisme fungsionalis.

Semua orang butuh tanggal, semua tanggal bermakna secara idiologis dan fungsionalis, sangat kontekstual sangat membumi. Namun saat ini negara sedang mencabut semua pemaknaan baik secara idiologis (karena masing masing pribadi punya area keyakinannya sendiri, tak berhak dihakimi) dengan area fungsionalis. Semua orang butuh tanggal, butuh pengingat, butuh moment, dan itu mendasar. Jadi makin banyak kebingungan yang muncul akibat kejumudan.

Sampai sampai saya terbayang, betapa ngototnya dulu kaum dari bangsa penemu teori bahwa bumi ini bulat, seorang penemu seperti Galileo Galilei harus terkorbankan karena penguasa saat itu tak mampu diyakinkan bahwa teori ini benar.

Seandainya saat ini ada seorang pintar yang satu satunya menyatakan bahwa semua tanggal bermakna sama maka bisa jadi dia akan menjadi korban tiang gantungan. Sebabnya karena penguasa berkacamata kuda, bahwa yang berbeda adalah musuh.

Kembali pada sikap dan sifat jumud, ia ibarat air tergenang penuh bakteri, penuh kotoran, maka air yang mengalirlah yang akan menjanjikan kemakmuran, karena ia akan bertemu dengan air dari sumber-sumber yang lain, yang muncul dari ceruk-ceruk tanah, yang lahir dari susunan bebatuan, kadang bersinggungaan dengan emas, berlian.

Bukankah hikmah adalah permata yang hilang dari ummat, seperti Iqbal sang penyair mengabarkan. Hikmah dan ilmu yang jernih tak kan di temui di setumpuk kitab usang, berdebu, yang di baca penuh dengan sikap tendensius. Tuhan takkan marah bila kita menjadi air, berfilosopi, beredarlah, carilah ilmu dimana saja, buka batok kepala, fungsikan semua terminal otak, beri dia stimulus, maka otak akan berkedip mengirim sinyal, kabar, dan berita.

Sekali lagi kejumudan akan membawa kita pada kemunduran. Dalam atmosfer yang penuh tekanan seperti ini, maka takkan lahir apresiasi, karena ekpresi sudah dibunuh sejak di rahim. Wallahu a’lam bissawab.

Tahun 2016, sangat layak disambut, karena dia menjadi penanda. Bukankah matahari Allah yang ciptakan, lalu kalau ada bangsa pintar yang menghitung hari berdasarkan matahari harus kita salahkan. Begitu juga bulan, dia pun ciptaan Tuhan, maka tak ada yang berhak menistakan hari-hari yang didasarkan hitungan bulan, hanya kejumudanlah yang mengekang, memperkosa, sehingga masehi terhukum sehingga hijriyah ternista.

Manusia sudah hidup ribuan tahun di muka bumi, maka selama akal manusia bisa mencerna, tanda-tanda dimulai nya hari dengan kemunculan sang surya, tenggelamnya menjadi selimut malam, dan bulan menjadi penerang para penjelajah, bintang gemintang adalah mercusuar, maka nikmat Tuhan mu yang mana yang engkau dustakan. Berhentilah berpolemik, berilah ruang pada siapa saja, tak perlu menjadi hakim di muka bumi. Karena cinta ada di mana mana, dalam pelukan rembulan dan matahari. []

Sri Wahyuni, SH.I, ibu tiga anak perempuan, sehari hari bertani dan menanam pohon.

KOMENTAR FACEBOOK