Demam Erdogan

BEBERAPA tahun belakangan ini, semua mata sepertinya tertuju ke wilayah Arab. Entah itu karena perang yang tidak berkesudahan, ISIS, Al-Qaida, Mujahid hingga Rezim Assad seolah menyita perhatian publik Indonesia (termasuk Aceh) dan membuat mereka sedikit melupakan nilai nilai rupiah yang melorot hingga 14.000/dolar. Drama pementasan Timur Tengah ternyata tidak cukup itu saja. Arab Saudi dengan Wahabi-nya, Iran dengan Syi’ah-nya dan Turki dengan Islamisasi Ala Erdogannya ikut pula mewarnai perhelatan media dan sosmed-sosmed kita. Entah disengaja atau tidak, entah fitnah atau bukan, kita mulai ramai-ramai ‘ikut berperang,’ saling memuji dukungannya entah itu dukungan terhadap Arab Saudi dengan Raja Salman-nya, dukungan terhadap ‘kemajuan’ Iran, hingga dukungan kepada Erdogan. Dan anehnya, jarang kita dengar publik tanah air mendukung Rezim Assad ataupun pemerintahan militer Mesir.

Pelan tapi pasti, rasa nasionalisme dan rasa keacehan kita mulai tergerus ketika kita lebih memilih untuk melirik perkembangan dunia luar, dibandingkan dengan ‘kedalaman’ dunia kita apalagi melirik kepada ‘hati yang terdalam.’ Apa yang kita harapkan sebenarnya dari bangsa ini, ketika selalu saja dalam hati tertanam falsafah kambing, “rumput tetangga lebih hijau, rumput tetangga lebih hijau, rumput tetangga lebih hijau?”

Apa yang kita lihat dari negeri luar terkadang tidak seperti apa yang terjadi. Bukan mengajak berburuk sangka. Tapi nyaris setiap pemimpin membutuhkan dukungan media. Nyaris setiap memimpin memiliki simpatisan fanatik yang terkadang menyebar berita secara berlebih-lebihan. Tak ubahnya dengan kita di Indonesia di hari ini. Tidak semua berita harus ditelan begitu saja. Ini adalah zaman dimana fitnah telah menyelimuti segenap penjuru negeri. Dan kemerdekaan itu, kata Iwan Fals, adalah mereka yang mampu menahan diri.

Negeri ini dari zaman dahulu memang sudah didesain untuk cocok bagi mereka yang hidup santai, dan goyang-goyang kaki di warung kopi. Negeri ini dari dahulu, memang wataknya untuk menerima berbagai perbedaan, mudah berasimiliasi, ramah namun kritis terhadap perubahan. Negeri ini, dengan segala corak kultur sosial dan budaya-nya pada dasarnya memiliki keunikan sendiri sehingga bagaimanapun caranya, negeri ini hanya akan cocok di pimpin oleh mereka yang memiliki rasa keislaman, keindonesiaan, kenusantaraan dan tentu saja cinta kedamaian.

Apa yang kita lihat di luar, terkadang memupus rasa kritis. Tidak jarang, keluar kata-kata tidak mengenakkan bagi bumi pertiwi, “Andai Erdogan yang memimpin Negeri ini,” “Andai Ridwan Kamil yang memimpin Banda Aceh ini, “Andai Negeri ini direbut oleh Raja Salman,” Begitu seterusnya.

Tidak pernah merasa nyaman dengan posisi kita baik ketika masih diatas maupun ketika terjerembab ke bawah. Padahal, setiap wilayah punya lagam dan keragaman masing-masing. Mungkin jika Erdogan menjadi walikota Banda Aceh ini, sudah dia tutup semua cafee karena dia lihat banyak pemuda ‘berleha-leha’ di sana. Mungkin jika seorang Ali Khomeini misalnya memimpin negeri ini, bukan saja situs porno yang diblokir, bahkan situs-situs pengetahuan sosial, politik dan filsafat seperti politik, Hegel, Derrida atau apapun itu yang memicu sikap kritis akan diblokir dan yang kita lihat hanya kampanye dan kampanye.

Mungkin saja, jika Raja Salman yang memimpin negeri ini, kita tidak bisa menikmati kebebasan berfikir, dan lebih jauh, kenikmatan bertoleransi terhadap hal-hal berbau klenik, penuh ritual dan acara-acara khenduri yang menjadi ciri khas bagi keberislaman ala Aceh dan Ala Indonesia.

Inilah yang kurang kita sadari. Seburuk-buruk pemimpin kita, dia lahir dan dipilih dari rahim negeri. Dia makan dan hidup serta merasakan pahit getir bersama kita. Terkadang tidak jarang pemimpin bahkan kurang tidur. Namun ketika sesekali dia lihat internet yang ada anak bangsa hanya ‘memuja-muja,’ pemimpin-pemimpin tetangga. Lalu mereka hanya bisa mengelus dada, sakitnya duh disini.

Demam Erdogan tentu tidak sepenuhnya salah, bahkan jika ia dapat menjadi inspirasi bagaimana seorang mampu mendongak dalam perhelatan dunia internasional, tentu pujian sekedarnya masih layak kita sanjungkan. Namun apa jadinya jika pujian tersebut mengarah pada ‘harapan’ yang sudah berada diatas ambang kewajaran.

Kami masih ingat ketika dulu ada celoteh dari netizen yang menuliskan ‘Putin, tolong arahkan rudal anda ke Senayan,.” Ini agak mengerikan karena Senayan (Gedung DPR) apapun ceritanya adalah salah satu ‘simbol’ Negara. Perkataan sepele itu, berindikasi sangat besar bagi sebuah kecintaan pada kedaulatan tanah air. Begitupun ketika ada yang latah berkata andai pemimpin kami seperti Erdogan, ini lagi-lagi mengindikasikan keputusasaan pada potensi diri sendiri bahwa akan ada pemipin yang lahir dari negeri ini, yang mengerti kebutuhan negeri ini, dan yang memperlakukan anak negeri sesuai dengan kehendak negeri.

Deman Erdogan, atau Demam Raja Salman tidak sepenuhnya salah. Namun akan sangat naïf, ketika demam negeri lain, secara psikologis telah merongrong kecintaan kita pada bangsa dan tanah air. Tidak ada serangan yang paling membahayakan suatu negeri selain ketika penduduk negeri tersebut telah kehilangan cinta pada bangsa dan tanah airnya sendiri. Mungkin jangan-jangan kita sedang diarahkan untuk tidak lagi mencintai negeri sendiri. Mungkin bukan oleh Erdogan atau oleh Raja Salman, tapi pihak-pihak lain yang selama ini berkepentingan ingin menguasai lahan, laut dan tanah-tanah kita. Entahlah, namun sepantasnya kita waspada. Tidak ada kebanggaan bagi si bapak dalam rumah tangga ketika anak dan istrinya setiap hari membanding-bandingkan dia dengan tetangga-tetangganya. Tidak ada kehormatan bagi seorang pemimpin ketika setiap hari ia berjibaku dan kurang tidur tapi dimata rakyatnya ia selalu dinilai kurang. Bahkan lebih miris lagi, didepan mukanya sendiri rakyat mengangkat spanduk memuji dan memuja pemimpin dari negeri lain,“ Hidup Erdogan!, Hidup Erdogan!”

Ramli Cibro, adalah Mahasiswa Pascasarjana UIN Ar-Raniry

KOMENTAR FACEBOOK