Reportase dari Negeri Changsyi-Changsyi Chaholee (Bagian 1 dari 3 Tulisan)

Negeri Ngeri-ngeri Sedap

Telah lama saya ingin berkunjung ke negeri ini. Sebagai bentuk kesungguhan dan kerinduan saya berdestinasi kenegeri ini saya secara berkala berselancar di google dan membaca sejumlah buku guna menambah referensi terkait seluk beluk negeri ini.

Negeri ini masih berada di kawasan Benua Asia. Tapi karena negeri ini terlalu kecil maka di peta dunia pun negeri ini nyaris tidak terlihat. Sesungguhnya negeri Changsyi-Changsyi Chaholee ini adalah negeri yang kaya raya dan eskotis.

Negeri ini di karunia Tuhan dengan limpahan berbagai sumber daya alam. Indahnya pun luar biasa. Berjalan dan menikmati keindahan negeri ini nyaris seperti kita berada di alam imajinasi. Tidaklah berlebihan bila kita berprasangka bahwa benar adanya negeri ini adalah bagian dari kepingan taman syurga yang jatuh ke bumi. Indahnya luar biasa. Sulit dinarasikan dengan kata-kata.

Salah satu hal yang menarik dari negeri ini adalah kemajemukan penduduknya. Bila kita lihat dari komposisi etnis yang mendiami negeri ini maka pantas bila kita menyebutkan inilah salah satu tipikal negeri yang heterogen tapi tidak pernah terjadi faksi apalagi konflik etnisitas.

Di negeri ini ada orang Arab, orang China, Eropa juga orang Hindia. Mereka semuanya bersatu padu dalam sebuah entitas kebangsaan yang erat. Agama mayoritas di negeri ini adalah Islam, sekalipun saat shalat lima waktu dan shalat Jumat tidak semua orang Islam di negeri ini datang kemesjid. Ada yang merasa cukup shalat sendirian di rumah, bahkan ada yang tidak shalat sama sekali.

Nama lengkap negeri ini adalah Republik Demokratik Changsyi-Changsyi Chaholee. Negeri ini juga berhimpun dalam organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), sekalipun tidak pernah terdeteksi dalam berbagai kancah diplomasi internasional.

Bahasa resmi negeri ini mirip-mirip bahasa Melayu karena memang berada di Benua Asia. Berbagai suku kata dalam bahasa Negeri Changsyi-Changsyi Chaholee bersumberkan dari budaya bahasa empat etnis penghuni negeri ini: Arab, China, Eropa dan Hindia.

Sejarah panjang perjalanan bangsa Changsyi-Changsyi Chaholee ini sangat dinamis dan penuh tantangan. Negeri ini sering dilanda konflik, bahkan sering dalam durasi setiap tiga puluh tahun sekali. Yang menarik ujung dari setiap konflik yang menderai negeri ini selalu diakhiri dengan solusi damai. Dan usia damai di negeri ini cenderung relatif: kadang lama kadang singkat. Kadang di permukaan terlihat damai tapi di dalamnya terus membara.

Kondisi konflik kemudian berdamai, konflik lagi berdamai lagi, dan seterusnya ternyata menginsiprasi para the founding father negeri ini untuk memberi nama negeri mereka dengan nama Republik Demokratik Changsyi-Changsyi Chaholee.

Pemilihan bentuk negara yang republik dan demokratis adalah pelajaran berharga bagi mereka ketika dulu mereka hidup di bawaha ketatanegaraan yang monarkhi. Kepala negara mereka adalah raja. Sebagai seorang raja kepala negara mengatur negara sesukanya. Raja tidak perlu meminta pendapat rakyat terkait kebijakan yang akan dibuatnya, cukup hanya bermusyawarah dengan isteri, adik iparnya, adik kandung dan beberapa keluarga dekat serta beberapa penjilat yang setia mengelilinginya.

Membaca nama negeri Changsyi-Changsyi Chaholee, seakan-akan kita merasakan negeri ini ada di dataran China. Tidak, sama sekali tidak. Ya, negeri ini ada di Benua Asia. Bahasa China memang ikut mempengaruhi dalam penamaan negeri ini, karena etnis China adalah salah satu etnis yang dominan di negeri ini.

Tapi seluruh rakyat Changsyi-Changsyi Chaholee bangga dengan nama negeri mereka itu. Bila diterjemahkan secara bebas ke dalam bahasa Aceh, Changsyi-Changsyi Chaholee bermakna sangsui-sangsui, peu saho lee. Kalau ke dalam bahasa Indonesia dapat saja diterjemahkan: Setelah Berserakan lalu Dikumpul Kembali.Nama negeri ini memang sesuai dengan kenyataan sejarahnya. Negeri ini dilanda konflik, kemudian dirajut perdamaian, selanjutnya bersatu kembali. Dan ini terjadi berulang kali.

Di samping menikmati keindahan alam, saya berkunjung ke negeri ini dalam rangka studi banding terkait dengan tatakelola pemerintahan. Tapi tidak banyak informasi yang saya peroleh terkait tatakelola pemerintahan, karena ternyata di negeri ini akses informasi publik masih sangat terbatas.

Secara terbatas saya hanya sempat berkomunikasi dengan beberapa PNS di negeri ini. Ternyata komentar mereka terkait kondisi pemerintahan negeri ini mengejutkan saya. Seorang PNS bercerita bahwa nasip karir mereka di Negeri Changsyi-Changsyi Chaholee lebih buruk dari nasip seorang tukang panjat kelapa.

“Kenapa demikian?”, tanya saya.

Dengan spontan dia menjawab, “Tukang naik kelapa itu tau kapan naik dan tau kapan turun”.

“Jadi?”, saya menimpali.

“Kalau kami PNS di sini memang tahu kapan saatnya naik, tapi tidak tahu kapan saatnya turun”, jelasnya. Melalui pengandaian itu PNS Negeri Changsyi-Changsyi Chaholee ingin menjelaskan kepada saya bahwa di negerinya itu pola promosi karir PNS begitu centang perenang. Negeri Changsyi-Changsyi Chaholee ternyata diurus layaknya manajemen perusahan keluarga.

Karena terbatasnya akses informasi, saya tidak tahu persis bagaimana sesungguhnya isi perut dari Pemerintahan Changsyi-Changsyi Chaholee itu. Juru bicara pemerintahan negeri ini memang mengakui bahwa pemimpin mereka telah berbuat banyak untuk negeri. Banyak program unggulan yang telah dirasakan manfaatnya oleh rakyat. Dan yang menarik hari pertama saya berada di Ibu Kota Negeri Changsyi-Changsyi Chaholee , sebuah koran di sana menurunkan sebuah headline dengan judul: Saya Akan Maju Lagi. Oohh… ternyata Presiden Republik Demokratik Changsyi-Changsyi Chaholee akan berkompetisi lagi pada pilpres yanga akan datang. Yang menarik hanya beberapa jam setelah koran dengan headline di atas beredar di Negeri Changsyi-Changsyi Chaholee, sebuah hastage dengan tagline #nafsubesartenagakurang membahana di berbagai medsos di negeri penghasil bakong itu.

Saat istirahat di sebuah kantin di tengah ibukota Negeri Changsyi-Changsyi Chaholee , sambil bercanda saya berkata kepada pemandu wisata yang menemani saya selama disana. “Coba Anda komentar tentang kondisi negeri Anda ini hanya dengan tiga kata saja ”, pinta saya.

“Negeri Ngeri-ngeri Sedap”, jawabnya dengan mimik seserius. Seserius itukah sesungguhnya isi perut negeri Republik Demokratik Changsyi-Changsyi Chaholee itu?.[]

Tunggu reportase bagian kedua dengan judul Geliat Pilkada di Caholee ….

KOMENTAR FACEBOOK