Chef: “Bumbu” Sosial Media

KESUKSESAN tidak serta-merta berbekal bakat dan keahlian, media sosial seringkali menjadi faktor pendukung kesuksesan, sekaligus penghancur reputasi seseorang bagi pengguna yang tidak bijak.

Inilah setidaknya pesan moral dari film berjudul Chef (2014). Film ini mengisahkan tentang seorang chef di sebuah restoran yang karirnya tiba-tiba bermasalah karena kritik dari seorang food blogger. Rating yang diberikan si food blogger terkenal itu sebenarnya cukup baik, dua bintang. Hanya saja ia merasa terhina dengan deskripsi yang menurutnya menghinanya secara personal. Chef Carl Casper kesal terlebih lagi saat sang pemilik restoran tidak mengizinkannya untuk memasak diluar menu yang sudah jadi ketetapan restoran selama sepuluh tahun. Ia akhirnya memilih berhenti. Sempat menemui si food blogger dan mengamuk didepannya hingga akhirnya ia terkenal dengan reaksi spontan emsionalnya melalui rekaman video yang diambil oleh pengunjung.

Sebenarnya penilaian food blogger ini tak terlalu berkesan berat pada dirinya. Hanya saja kemudian ia yang gagap teknologi informasi merasa kaget dengan respon di dunia maya yang secara terus-menerus membicarakan tentang tanggapan food blogger pada dirinya. Apalagi kicauan di twitter khususnya yang terus meretweet hal tersebut.

Para juru masak yang pernah menjadi bawahannya di restoran, coba merahasiakan topik obrolan dunia maya tentangnya. Namun akhirnya ia tahu melalui anaknya, sebagaimana anak jaman sekarang, anaknya merupakan pengguna aktif sosial media. Ia meminta untuk dibuatkan akun twitter dengan akun @ChefCarlCasper.

Ia membaca di linimasa komentar si food blogger tentang dirinya dan membalasnya dengan kata-kata yang kasar. Ia mengira hanya semacam membalas sms, tak tahu jika tweetnya dibaca oleh seluruh followernya. Ia mendapat begitu banyak follower sesaat setelah membuat akun twitter hanya karena namanya menjadi begitu terkenal setelah penilaian menghina–yang bagi sebagian orang dianggap lucu.

Balasannya kepada food blogger, sebagaimana twitwar dan saling ejek di twitter merupakan favorit pengguna media sosial ini, ia menjadi makin terkenal. Namun kini keadaannya berbeda, ia telah memutuskan untuk berhenti menjadi chef di restorannya yang artinya ia sekarang pengangguran dan hanya terkenal dengan reputasi buruk sebagai seorang chef yang memaki di media sosial dan bahkan mengamuk didepan food blogger. Kini ia merasa hancur dan kelimpungan. Sosial media telah memancing emosinya di dunia nyata dan membawanya dalam kondisi terburuk dalam hidupnya.

Dunia belum berakhir baginya. Dianugerahi seorang anak dari mantan istrinya, ia memutuskan pergi ke Miami, kampung halaman mantan istri sembari membawa anaknya berlibur. Juga bersama mantan istri. Disana mereka menikmati roti isi Miami yang terkenal. Akhirnya ia mendapat ide untuk menjual roti isi khas Miami (dengan citaras khas warga Latin disana). Temannya yang merupakan jurumasak di restoran tempat dahulu iya bekerja dan sang anak membantunya. Roti isinya cukup diminati dan enak. Akhirnya mereka melakukan perjalanan darat dari Miami ke LA, California sambil menjual roti isi di food truck milik mereka. Di tiap kota yang mereka singgahi, selalu saja dipadati oleh orang yang mengantri untuk membeli roti isi mereka.

Ternyata si Chef menyadari bahwa anaknya yang bersedia membantunya berjualan juga membantu pemasarannya melalui foto dan kicauan di yang diupload di twitter. Bagi @ChefCarlCasper, ia jera dengan bully di dunia maya, sebagaimana orang yang gagap dengan teknologi informasi. Namun bagi anaknya yang aktif menggunakan media sosial, hal itu dianggap sebagai hal yang biasa. Peran si anak dengan kreativitasnya di media sosial, terutama twitter, akhirnya mampu menjadikan bisnis baru ayahnya menjadi terkenal dan digemari oleh pelanggan.

***

Film ini memberi pesan bahwa media sosial sebagaimana lazimnya seringkali memberikan pengaruh di dunia nyata. Dimana ‘opinion of others’ yang beragam bentuknya bisa memberikan dampak psikologis secara personal. Media sosial bisa saja merugikan bila kita latah dalam menggunakannya. Dalam kicauan yang hanya 140 karakter, bagi yang gagap dunia maya, pengguna twitter hanya menumpahkan sisi terburuknya berupa cacian dan makian sementara sisi lain dari pengguna ini tidak diketahui publik.

Menjadi menarik ketika tiap orang berkesempatan membangun citranya secara bijak atau hanya terjebak oleh efek ‘bullying’ yang kerap terjadi dan justru mencitrakan dirinya dalam bentuk yang buruk dan merugikan. Di dunia maya, popularitas seseorang bisa berbanding terbalik dengan reputasi. Bisa saja seseorang terkenal luas dengan citra buruknya, sebagaimana di dunia nyata.

Namun hal ini merupakan sesuatu yang bukan tidak bisa diubah. Berbekal manajemen media sosial sederhana yang dilakukan oleh anaknya, @ChefCarlCasper memanfaatkan popularitasnya di linimasa sebagai media promosi baginya. Sebenarnya ini merupakan hal yang sangat biasa dan tentu telah dimanfaatkan oleh tiap pengguna media sosial, baik bisnis besar maupun usaha kecil-kecilan yang biasanya dilakukan oleh anak muda.

Menjadi menarik dalam film ini adalah bukan soal peran media sosial yang digunakan dalam mengembangkan bisnis, namun kebijaksanaan dalam penggunaan media sosial yang gagal dilakukan oleh seorang pria dewasa dan punya karir. Sebaliknya, kebijaksanaan, kreativitas dan kelihaian justru ditunjukkan oleh seorang bocah sepuluh tahun. Hal ini yang menarik untuk digarisbawahi bahwa, generasi yang lebih muda merupakan pengguna media sosial yang bijak. Kebiasaan mereka dalam mengenal jejaring dunia maya pada usia yang lebih dini mengajarkan kebijaksanaan dalam berjejaring, membangun citra atau sekedar berperilaku normal di dunia maya.

Generasi yang lebih muda secara disadari ataupun tidak, sudah hidup dalam tatatan etika dan norma dunia digital. Hal ini sekaligus menyatakan mereka adalah masyarakat era digital. Bukan hanya dunia maya dilihat sebagai era digital dalam konteks waktu atau zaman. Namun dunia maya adalah sebuah ruang, tempat yang merupakan dunia baru, dunia digital yang telah melalui evolusi kemasyarakatan dan kebudayaannya sendiri sehingga terbentuklah konsensus bersama tentang apa yang dianggap normal di dunia maya dan bagaimana ‘way of life’ yang bijak di dunia maya, juga sebagaimana dunia nyata.

Bagi yang tua dan gagap teknologi, Belajarlah hidup di dunia maya dan bermasyarakat di media sosial pada yang lebih paham dan bijak, generasi yang lebih muda sebagai generasi internet.

Jabal Ali Husin Sab, Penikmat buku, film dan kopi.

KOMENTAR FACEBOOK