Kisah Getir Dua Kontestan Aceh di D’Academy 3 Indosiar

Nonie diminta segera pindah dari rumah sewa, sedang Boi harus nginap di mesjid saat tiba di Banda Aceh. Lebih pilu lagi, Nonie dan keluarganya harus segera minggat dari rumah sewanya. Malah ada ajudan yang bilang, acara kek gini ndak bisa dibantu

ACEHTREND.CO, Banda Aceh | Getir nian nasib dua wakil Aceh di ajang pencarian bakat D’Academy 3 Indosiar ini.¬†Keduanya memang sudah berangkat, meninggalkan Aceh, negeri berlimpah rupiah.

Nonie malah sudah tiba lebih awal sehari di Jakarta. Selasa (12/1/2016) ia terbang meninggalkan Aceh dengan segenap kisah getir. Sedang Boikuni berangkat hari ini, Rabu (13/1/2015).

Jadilah Nonie berangkat dengan bekal yang minim tapi penuh doa dari keluarga dan teman-temannya. Saat di acara shooting, kala ditanyai perihal keluarganya Nonie pun tidak kuasa menahan tangis. Berurai air matalah kala ia mengenang keluarga yang ditinggali berserta nasib yang menyertai diri dan keluarganya.

“Dukungan ala kadar ada,” kata Nonie kepada aceHTrend. Namun, dukungan yang memadai masih sangat diharapkannya. Ada yang membuat hatinya sedih kala menjumpai seorang ajudan di Banda Aceh. Katanya, acara-acara begini tidak mungkin untuk dibantu. Duh, isi kepala mereka begitu parno untuk dangdut.

Tidur di Mesjid
Saat berita ini terwarta, mungkin Boikuni sudah tiba di Jakarta. Seperti Nonie, Boi juga akan melakukan shooting untuk keperluan D’Academy 3 Indosiar.

Ketika di temui Ria Rosja dari aceHTrend tadi malam Boi berkisah kembali tentang awal Boi mengikuti ajang ini. Lewat info dari seorang teman Boi berangkat dengan rekannyanya ke Banda Aceh. Mereka menggunakan sepeda motor dari Pidie Jaya, tepat nya dari Gampong Jiem-Jiem menuju Banda Aceh.

Tiba di Banda Aceh Boi istirahat di mesjid karena tidak ada sanak saudara. Keesokan harinya Boi datang lebih awal ke Radio Toss FM, sebelum acara dimulai.

Boi dapat no tampil pertama. “S1001 no tampil Boi. Alhamdulillah lancar dan ngak nyangka bisa lolos,” kenang Boi.

Boi juga bersyukur Aceh sudah aman. Jadi kita bisa melakukan perjalanan jarak jauh walaupun hanya dengan motor. “Tidak seperti zaman konflik dulu kita tidak bisa kemana mana,” kenang Boi.

Boi tinggal di desa yang jauh dari kota, ia tinggal tepat nya di Jiem Jiem. Rumahnya sempat dibakar pada saat konflik dulu. Saat itu Boi masih kecil.

“Sekarang Aceh sudah aman, jadi semua anak Aceh bisa mengejar¬† cita-cita bahkan keluar daerah,” katanya.

Boi berterimakasih kepada Bupati Pidie beserta ibu yang telah memberikan suport mulai dari keperluan seperti kostum pentas dan keperluan Boi lainnya, meski tempat tinggal Boi masuk wilayah Pidie Jaya.

Kedua kontestan ini mengaku masih butuh bantuan dukungan dari masyarakat Aceh agar bisa bertahan sampai target 5 besar bahkan 3 besar.

Akankah pemerintah Aceh tergerak untuk membantu mereka? Atau, nasib mereka terabaikan dari riuh anggaran milyaran bahkan triliunan yang kini sedang diperbincangkan. Atau, dua kontestan ini baru didukung manakala telah menjadi juara, minimal telah menjadi pujaan khalayak ramai. Atau mereka akan dibantu manakala tiba musim Pilkada. []

Ria Rosja

KOMENTAR FACEBOOK