Penguasa di Aceh harus Diruqyah

Haji Leman tidak jadi memakan pisang goreng yang sudah di tangan. Dia meletakkan-setengah mencampak- bada pisang klat barat itu ke dalam cipe. Dia marah karena headline salah satu koran lokal memberitakan tentang orang-orang yang siap maju sebagai orang nomor satu di Aceh.

“Tidak tahu malu. Tiap hari berdakwa-dakwi di koran. Tak punya etika ketika berbicara, rakyat yang semakin hari semakin nyata lapar, eh berani-beraninya mencalonkan diri kembali. Dasar buta huruf,” kata Haji Leman setengah berteriak.

Sontak semua pengunjung warung kopi Bang Ih mengalihkan matanya ke Haji Leman, yang sudah haji dua kali dari hasil menanam kakao di kebunnya.


Ada yang tersenyum. Ada yang acuh tak acuh. Bahkan tidak sedikit yang merah mukanya ketika mendengar ucapakan haji yang dikenal ceplas-ceplos itu. Mungkin yang merah muka itu barisan timses yang dulu sangat yakin dengan kemampuan sang jagoan.

Kemarahan Haji Leman tentunya sangat beralasan. Jumlah pengangguran di Aceh hingga Agustus 2015 bertambah 26 ribu orang dibandingkan Agustus 2014 pada saat itu jumlah orang yang menganggur sebanyak 191 ribu orang. Dengan demikian dalam berita resmi Badan Pusat Statistik Aceh mencatat jumlah pengangguran di Aceh hingga Agustus 2015 sebanyak 217.000 orang. (Sumber: Serambi Indonesia)

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), penduduk miskin Aceh pada posisi Maret 2015 mencapai 851.000 orang atau bertambah 14.000 orang dibanding posisi September 2014.Data yang dirilis secara periodik oleh BPS Aceh mencatat jumlah penduduk miskin di provinsi ini pada posisi Maret 2015 mencapai 851.000 orang atau 17,08 persen. Artinya, bertambah sebanyak 14.000 orang bila dibandingkan dengan September 2014 yang jumlahnya 837.000 orang atau 16,98 persen. (Sumber: Serambi Indonesia)

Angka korupsi juga semakin menggila. Walau dia tidak punya data khusus tentang itu, namun kabar yang disampaikan oleh koran, menunjukkan bahwa perilaku korupsi di jajaran elit di Aceh semakin menjadi-jadi.

“Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang, Tengku Haji?,” tanya Apa Dakir yang dari tadi mendengar umpatan Haji Leman.

Sejenak lelaki itu diam. Kemudian-dengan mimik serius- dia berkata.

“Mereka yang tidak tahu diri itu harus diruqyah. Ini metode Islam untuk mengusir jin Ifrit dari tubuh dan jiwa mereka. Jin ifrit lah yang selama ini telah membuat mereka tebal muka, tak tahu malu serta merasa tidak akan pernah mati.

Jin Ifrit harus segera diusir dari jiwa-jiwa mereka, agar kelak, mereka-mereka itu tidak lagi berperilaku jahannam dan pungoe,”

“Intinya mereka harus diruqyah?,” tanya Dakir.

“Iya, mereka harus diruqyah. Kalau tidak akan semakin pungoe di pemilu 2017,” imbuhnya. [Muhajir Juli]

 

 

 

KOMENTAR FACEBOOK