Kisah Risti KDI: Derita di Awal Berujung Bahagia (2)

Masih ingat kisah nyata Risti KDI awal melangkah ke tangga sukses di episode 1 sebelumnya…Dan ini lah Episode 2

Sambungan..

Setelah mendapatkan Pin BB Risti, Om Fajar mengirim pertanyaan lewan pesan BBM: ”siap jadi artis ga”? Risti cuma jawab: “insyaallah siap, om.”

Pertanyaan itu, kembali ditanyai via telepon: “Apakah risti siap jadi artis? Yang mesti di siapkan adalah mental karena artis itu juga perlu perjuangan fisik, mental disiplin, jangan loyo dan aleman (bahasa jawa dari manja),” kata si Om. Lalu si Om bertanya lagi: “Ada acara baru di MNCTV DMD, kamu mau berangkatkan mengadu nasib di Jakarta?” Saat itu Risti juga menjawa insyaallah siap, terus bagaimana mengenai hal hal yang lainnya?” jawab risti sambil bertanya. Si Om hanya menjawab singkat dan menambah penasaran: “entar aja penjelasannya di Jakarta,” kata om fajar

Dan makin penasaran sebab sebelum mengakhiri percakapan Si Om Fajar bilang: “Jangan panggil saya Om, panggil Ayah aja.” Risti terkesima bagai terhipnotis: “Iya Ayah,” jawab Risti.

Begitulah mulai saat itu risti punya Ayah angkat sekaligus pembimbing risti.
”Oh iya Ayah, risti bisa minta waktu, buat mempersiapkan sesuatu halnya sebelum berangkat ke Jakarta?
”Boleh, entar kalau udah siap, kontak Ayah aja,” jawab ayah.

***

Selesai dapat telepon Risti bicarakan dengan Abah dan Mamah. Saat itu Abah dan Mamah masih ragu dengan berita itu. Maklumlah kami dari kampung harus waspada apakah orang ini benar atau tidak, khawatir akan penipuan seperti yang di sinetron jadi ngak jelas gitu ujung ujungnya, seperti itulah kecamuk pikiran kala itu.

Namun Mamah bilang ke Abah: ”Abah aja yang temani Risti  ke Jakarta. Soalnya Risti masih takut lagian Mamah ngak pernah ke Jakarta,” kata Mamah Risti seperti itu. Setelah berembuk dengan keluarga dan dengan modal bongkar celengan jago di atas lemari, ditambah hutang koperasi di tempat kantor Abah bekerja kami pun mempersiapkan keberangkatan dengan membawa bekal seadanya, kami berangkat berdua dengan Abah dari Kapuas menuju Banjarmasin, untuk melanjutkan perjalanan menuju ibu kota.

Setelah terbang dengan pesawat kurang lebih 1 jam 40 menit, kamipun sampai di bandara suta (Soekarno Hatta) di Jakarta. Dengan modal alamat yang di sms si Om, eh si Ayah, kamipun berangkat dengan dengan taxi menuju studio MNCTV karena direncanakan malamnya mulai bertanding di acara DMD show.

Masalahnya, selama perjalanan kami sudah mabok, Abah dan Risti mabuk darat dan muntah sepanjang jalan menuju MNCTV, malah telepon dari Ayahpun ngak bisa lagi Risti angkat karena peningnya kepala dan mual perutnya, sepanjang jalan serasa disiksa. Singkatnya sampailah di halaman parkir MNCTV dan bertemu Ayah yang sudah berdiri menyambut kami.

Ayah nanya: ”Pada kenapa nih kok muka Abah ama Risti pucat?” Risti ga jawab, Risti malah nanya: ”Tong sampah di mana ayah”? “Mau ngapain, tuh di sana!”sambil menunjukan arahnya.

Setengah berlari Risti tumpahkan separuh isi perut ke dalam tong sampah, karena setengahnya udah Risti tumpahkan di taxi (ketawa kalau ingat hal itu) yang lebih lucu lagi Abah dan Risti muntah berbarengan.

Setelah agak lega aku lihat muka Ayah kelihatan panik dan khawatir akan  penampilan nanti malam dan mau bertanding sekarang kondisinya begini sambil pegang pundak Abah yang kelihatannya lebih tersiksa. Setelah minum sedikit teh manis hangat, dunia udah mulai kelihatan tapi muka Ayah masih telihat panik melihat kami berdua terkulai di pelataran MNCTV.

Masih dalam kondisi sempoyongan Risti menunaikan sholat ashar, selesai sholat keadaan sudah agak mendingan kemudian si Ayah memberi motivasi dan pengarahan ke Risti, diantaranya yang masih ingat: ”Risti, kamu nggak boleh minder atau kecil hati, yang bertanding hari ini belum tentu lebih baik dari kamu, jadi kamu harus percaya diri, nggak usah takut juri dan penontonnya, mereka masih makan nasi, kalau juri dan penontonnya udah makan beling atau makan besi, kamu boleh takut,” ayah memberi motivasi sembari ketawa, dan Ristipun ikut ketawa. Tak lama kemudian Risti dipanggil dari crew MNCTV untuk masuk ruang make-up, Ristipun make-up sendiri dengan dibantu beberapa crew make-up, lebih kurang satu setengah jam.

Kemudian para peserta dikumpulkan untuk audisi pertama di dalam tenda, rupanya audisi ini untuk penentuan siapakah yang bakal di adu malam. Spontan Risti melirik ke pintu dan kebetulan melihat Ayah memanggil Risti. Setengah berbisik ayah bilang: “Pilih lagu yang betul betul kamu kuasai ya Ris, jangan alay alay atau sok sokan pakai lagu yang ngga kamu kuasai.” Risti menjawab: “iya Ayah!” Risti segera kembali ketempat duduk kontestan lainnya.

Setelah selesai audisi risti menghampiri Ayah. ”Insyaallah kamu bisa on air malam ini,” kata si Ayah. Tapi Risti belum yakin saat itu karena melihat persaingan mulai terlihat saat audisi tadi, sempat terpikir bagaimana jika Risti ngga terpilih nanti?

Acarapun akan segera mulai. Risti kembali menghampiri Abah yang masih di pelataran masjid untuk minta doa restu dari Abah dan Ayah. Kemudian Risti segera masuk ruangan studio live DMD. Abah dan Ayah mengikutiku dari belakang. Si Ayah masih berbisik ke risti. ”Ingat pesan Ayah ya, juri dan penontonnya masih makan nasi, penonton dan juri cuma pengen lihat penampilan para kontestan, maka itu tunjukan kemampuanmu di atas panggung.”

Kami bertiga lalu berdoa bersama sebelum masuk studio, di dalam studio sudah mulai penuh sesak penonton, crew tv dan masing-masing peserta. Abah dan Ayah memilih berdiri di samping panggung, tibalah acara on air live masing-masing menunjukan kemampuannya. Hati Risti agak dag dig dug juga karena baru kali ini ikut audisi live tv yang di lihat berjuta pasang mata penonton.

Risti agak terkejut waktu dipanggil suruh naik ke panggung, dengan langkah ragu Risti mulai menggerakkan langkah, tapi Risti bikin supaya tidak kelihatan ragu-ragu, soalnya Risti ingat pesan ayah kalau penonton ama juri masih makan nasi (kalau inget itu ketawa geli rasanya).

Akhirnya beberapa tugas di atas panggung dapat Risti selesaikan, babak penyisihanpun dapat Risti lalui. Allhamdulillah, tiba saatnya di adu dalam 3 besar dan lagu di suruh pilih 1 lagu dari 6 lagu yang disediakan. Risti ingat kata si Ayah: “Pilih lagu yang betul kamu kuasai dan familiar di telinga.” Di situ aku melihat deretan lagu dan mataku tertuju dengan lagu “hujan” Erie Susan. Ristipun pilih lagu itu untuk dipertandingkan.

Allhamdulillah Risti membawakan dengan tenang dan merasakan isi lagunya. Kembali Risti di kejutkan, di akhir acara Risti memenangkan DMD di episode tersebut. Tidak terkira senangnya Risti saat itu. Dengan gembira Risti menuju Abah dan Ayah yang masih berdiri di samping panggung sambil tersenyum.

Allhamdulillah Risti dapat hadiah uang 5jt, kami pun pulang menuju rumah ayah dengan perasaan syukur. Dalam perjalanan terdengar suara musik lain yang berbunyi di perut kami yaitu musik keroncongan, kami pun mampir di warung pinggir jalan sekalian mengisi perut kami yang sudah protes keras minta di isi.

Sambil makan si Ayah memberi kabar kalau nanti juara satu DMD akan di adu lagi di bulan depan. “Oh iyakah?!” kata Risti. Sambil mengunyah makanan si Ayah memberi instruksi lagi. “Jaga kesehatan dan tetep latihan ya Ris. Nanti ayah kasih tahu lagi strategi untuk memenangkan kompetisi bulan depan!” Risti reflek bertanya: “apa itu ayah?”

kamu harus……..
bersambung lagi ya sahabat ..
Tunggu kiat-kiat khusus Risti masuk KDI

KOMENTAR FACEBOOK