6 Agustus 2016 Bank Aceh Dibubarkan

ACEHTREND.CO, Banda Aceh | Sabtu, 6 Agustus 2016 akan menjadi hari bersejarah bagi perekonomian dan perbankan di Aceh. Pada hari itu, bank milik rakyat dan Pemerintah Aceh, yaitu Bank Aceh, akan dibubarkan. Ia akan diganti/diubah (konversi) menjadi Bank Syariah Aceh atau Bank Islam Aceh.

Hal itu disampaikan oleh Haizir Sulaiman, Direktur Syariah Bank Aceh sebagai Ketua Tim Konversi Bank Aceh dari unsur Bank Aceh dan Azhari Hasan, Asisten II Pemerintah Aceh sebagai Ketua Tim Konversi Bank Aceh dari unsur Pemerintah Aceh, dalam workshop Kesiapan Bank Aceh Konversi ke Syariah yang digelar Kaukus Wartawan Peduli Syariat Islam (KWPSI), Selasa-Rabu (19-20/1/2016), di Hotel 88 Atjeh Lamdingin, Banda Aceh.

Workshop itu menghadirkan tujuh narasumber yaitu Prof. Dr. Tgk. Muslim Ibrahim, MA (Ketua Dewan Pengawas Syariah Bank Aceh), Abdurrahman Ahmad (Ketua Fraksi PKS-Gerindra DPRA), Kautsar Muhammad Yus, SHI (Ketua Fraksi PA DPRA), Jafar SH, M.Hum (staf ahli Gubernur Aceh), Dr. Adiwarman Karim (konsultan konversi Bank Aceh ke Syariah), dan Ahmad Wijaya Putra (kepala Otoritas Jasa Keuangan/OJK Aceh).

Haizir Sulaiman menyebutkan, dalam proses konversi mencuat dua opsi untuk penamaan Bank Aceh. “Ada beberapa orang yang menginginkan nama dan logo Bank Aceh tidak diganti dengan alasan Aceh memang sudah identik dengan Islam. Jadi, tidak perlu embel-embel Islam pada namanya. Sementara di lain pihak banyak desakan agar nama bank yang baru harus menggunakan nama Islam atau Syariah”, katanya.

Ditambahkan Haizir, menurut UU perbankan, harus ada kata syariah pada nama bank hasil konversi itu. “Yang penting, konversi ke syariah harus terjadi pada 6 Agustus 2016. UU mengharuskan ada kata syariah. Soal penambahan kata Islam silahkan diwacanakan dan kita serahkan kepada OJK untuk proses selanjutnya”, tambah Haizir.

Sementara Adiwarman Karim mengatakan, konversi Bank Aceh ke Syariah akan menimbulkan double side impact (berdampak ganda), yaitu pertama akan menambah aset perbankan syariah di Indonesia sebesar Rp 20 triliun dan kedua pada saat yang juga menghilangkan Rp20 triliun aset bank konvensional.

“Jadi beda dampak konversi dengan spin off (pemandirian bank, red). Kalau spin off tetap uang itu-itu saja, tidak ada penghilangan aset konversional,” kata Adiwarman.

Adiwarman menambahkan, pertumbuhan Bank Umum Syariah (BUS) dan Unit Usaha Syariah (UUS) pada 2016 sangat signifikan. “Pertumbuhan BUS dan UUS berkisar 48 sampai 61 triliun rupiah”, katanya.

Beda Bank Syariah dengan Konvensional
Sementara itu, kata Adiwarman, dampak lain adalah Aceh akan  langsung menempati peringkat lima pemilik bank syariah terbesar di Indonesia dengan total aset Rp20 triliun, dan menguasai sekitar 50 persen pasar perbankan Aceh.

“Setelah proses konversi ini selesai, Aceh akan langsung menempati rangking lima nasional pemilik bank syariah terbesar di Indonesia. Rangking satu sampai empat ditempati bank syariah nasional yang berkantor pusat di Jakarta. Sementara Bank Aceh Syariah lingkup kerjanya hanya Aceh, hanya satu provinsi”, sambung Adiwarman.

Dalam kesempatan itu, Haizir Sulaiman dan Prof. Muslim Ibrahim juga memaparkan konsep perbankan syariah yang membedakannya dengan sistem konvensional. “Akad transaksi dalam sistem perbankan syariah dapat dipilah dua, yaitu akad tabarru’, dan akad tijarah,” katanya.

Yang pertama (tabarru’) bertujuan untuk kebaikan, non-profit oriented dan bersifat memberi atau meminjam. Sementara yang kedua (tijarah) memiliki tujuan bisnis yang tentu saja bersifat profit oriented. Dalam akad tijarah ada kesepakatan margin keuntungan dan sistem bagi hasil. []

Hasan Basri M Nur

KOMENTAR FACEBOOK