Benarkah Turki Lebih Bagus Dalam Pengelolaan Air?

ACEHTREND.CO, Banda Aceh | Ketua DPRK Banda Aceh, Arief Fadillah mengatakan bahwa dalam pengelolaan air, Tukri lebih bagus daripada Belanda. Sebelumnya, Koordinator Masyarakat Transparansi Aceh (MaTA), Alfian mengatakan Kunjungan ke Istanbul untuk mempelajari tatakelola air bersih dianggap sebagai salah sasaran. Seharusnya, jika Banda Aceh ingin belajar tata kelola air bersih bukanlah ke Turki, tapi ke Belanda yang sudah diakui pengelolaan airnya.

Siapa yang lebih baik? Tentu masih debatable. Dari penelusuran aceHTrend, Gubernur DKI Jakarta sebelum Jokowi, Fauzi Bowo pernah akan menjalinkerjasama dengan Turki, salah satunya soal air. Menurut Bowo, Istanbul termasuk salat satu kota yang mampu memenuhi kebutuhan akan air bersih. Dengan penduduk 12 juta, sehari mereka mampu memproduksi 2 juta meter kubik air bersih per hari, paparnya.

Kemampuan memproduksi air tersebut juga diimbangi dengan pengelolaan air dengan teknologi tinggi, dimana pengelolaan air tidak menggunakan bahan kimia yang berlebihan. Pengolahan air menggunakan sistem ozonisasi, tuturnya.

“Namun untuk diterapkan di Jakarta, kemapuan penyediaan air mencapai hingga 2 juta meter kubik tersebut akan sulit dicapai. Hal ini disebabkan tingginya biaya investasi dalam pembangunan infrastruktur,” katanya.

Bowo menambahkan, kalau di Istanbul biaya investasi yang tinggi dibebankan kepada masyarakat dengan biaya tarif yang tinggi. “Kalau di sini (Jakarta–Red) tentu tidak diterapkan dengan tarif yang tinggi,” ungkap mantan Wagub DKI ini.

Bagaimana dengan Belanda? Selain dikenal dengan negeri Kincir Angin, Belanda juga mendapat sebutan sebagai “Selokan Eropa” karena air sungai baru akan sampai di daratan Belanda setelah melewati berbagai macam sungai dari berbagai negara.

Orang Belanda terus berpikir untuk membuat perbaikan demi perbaikan bagi kelangsungan hidup di negeri ini. Salah satu inovasi jangka panjang yang sudah dilakukan Belanda ialah inovasi dalam manajeman air. “Dari kondisi inilah Belanda berubah menjadi master air<” tulis Eka Putri Amdela dalam blognya. Lebih lanjut Eka Putri menulis sebagai berikut:

Di Belanda, tradisi untuk meningkatkan kualitas air minum sudah berumur 150 tahun. Awalnya air dinaikkan dari tanah di Amsterdam dengan harapan ada penyaringan dari pasir berkualitas baik dari gurun pasir di Amsterdam. Setelah filtrasi, pemurnian air ini dilanjutkan dengan ozonisasi dan absorbsi oleh karbon aktif tanpa chlorine hingga menjadi air keran yang siap untuk diminum.

Belanda saat ini tidak hanya menjual air yang bisa diakses secara fisik yang ditransportasikan ke daratan, tetapi juga teknologi yang bisa diinvestasikan bagi negara-negara lain yang ingin mandiri dalam pengelolaan air bersih. Dari dedikasinya ini, reputasi Belanda diakui oleh spesialis air di Cina, Turki, Indonesia dan Meksiko. Banyaknya inovasi yang dilakukan Belanda mengantarkan negeri kincir angin ini ke posisi 15 Negara Paling Inovatif di Dunia pada tahun 2014 versi Bloomberg.

Ahok sendiri dalam urusan mengolah air limbah menjadi air bersih lebih menjagokan Finlandia. “Jagonya Finlandia itu mengolah air limbah jadi air bersih,” kata Basuki. Bagaimana dengan Indonesia, apa tidak ada provinsi dan ahli yang bisa mengelola air?

Tentu saja ada. Salah satunya adalah PT Energy Management Indonesia (EMI). Perusahaan yang bernaung di bawah Badan Usaha Milik Negara (BUMN), memiliki usulan cara yang bisa dikembangkan untuk mengatasi krisis air bersih.

Direktur EMI, Aris Yunanto mengungkapkan, salah satu langkah untuk mengatasi krisis air bersih adalah dengan memanfaatkan air limbah sebagai sumber air bersih.

Sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak dalam bidang konservasi dan konversi energi dan air, EMI berupaya menghindari penggunaan air tanah. “Dalam rangka menjaga keseimbangan air darat dengan air laut, maka kami mengharamkan penggunaan air tanah dan memilih menggunakan air permukaan baik itu air sungai, air selokan, air limbah, bahkan air laut yang diolah menjadi air bersih atau air minum yang memenuhi standar kesehatan nasional dan WHO,” ungkapnya.

Pengolahan air laut menjadi air bersih adalah juga salah satu hal yang mulai dilirik untuk diterapkan di sejumlah daerah di Indonesia, misalnya di Balikpapan dan Jawa Tengah.

Terkait hal itu Aris mengatakan, pengolahan air laut menjadi air bersih sangat mungkin dilakukan karena Indonesia kaya dengan potensi air laut, di samping hal itu tidak membutuhkan biaya tinggi. “EMI misalnya, hanya membutuhkan sekitar 8-9 rupiah per liter untuk mengolah air laut menjadi air bersih,” katanya.

Namun Aris mengingatkan, salah satu persoalan dari rencana tersebut adalah belum ada aturan mengenai pengelolaan air laut sebagai air baku. Karena “Semestinya pemerintah pusat, provinsi dan kota harus segera menyiapkan peraturan tersebut dalam rangka memenuhi kebutuhan air bagi masyarakat Indonesia,” tegasnya.

Bagaimana dengan pakar air? Ada! Pakar Institut Teknologi Bandung (ITB) berhasil menemukan inovasi baru pengelolaan air bersih secara modern, berbiaya murah dan bisa ditetapkan dengan mudah di seluruh Indonesia.

“Temuan kami, Instalasi Pengolahan Air (IPA) Nusantara jauh lebih bagus dibandingkan dengan inovasi pakar-pakar luar negeri, bahkan kita terdepan dalam temuan baru ini,” ujar pakar Water Technology dari ITB yang juga salah seorang penemu IPA Nusantara Dr. Ing. Ir. Mohajit, MSc.

Inovasi ini merupakan temuan Mohajit bersama pakar lainnya dari ITB, seperti Dr. Ir. Bagus Budwatoro, Ir. Haryo U. Kustianto dan Ir. A. Hasan Bachri, M.Eng.

Mohajit mengatakan teknologi yang digunakan dalam IPA ini ditujukan untuk menambah kapasitas produksi air bersih yang dikelola oleh PDAM.

“Dengan luas area produksi yang sama, teknologi IPA Nusantara dapat memproduksi air bersih hingga 3 kali lipat. Dan teknologi ini diakui oleh pakar-pakar dari luar negeri,” kata alumnus Post Doctoral, Engineering Biology and Biotechnology, University of Karlsruhe, FR Germany ini.

Dr. Ir. Bagus Budwatoro yang juga merupakan salah seorang penemu IPA Nusantara mengatakan teknologi ini tidak dipatenkan hingga saat ini. Hal ini bertujuan agar inovasi tersebut dapat diimplementasi secara luas di seluruh Indonesia.

“Meskipun banyak yang ingin membeli patennya tapi kami tidak mau mempantenkan. Kami ingin teknologi ini digunakan secara terbuka oleh bangsa Indonesia,” kata pakar Pipeline ITB ini.

Bagus menginformasikan IPA Nusantara ini telah diimplementasi oleh PDAM Kota Bogor, Pangkal Pinang dan Bali. Keinginan agar teknologi anak bangsa Indonesia dapat tersebar luas ke seluruh Indonesia, sudah tentu harus mendapat dukungan dari berbagai pihak terutama pemerintah.

Untuk belajar soal pengelolaan air bisa juga berkunjung ke Banjarmasin. Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Bandarmasih, Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, berhasil mengolah air laut menjadi air bersih untuk melayani kebutuhan air bersih masyarakat yang terisolasi. PDAM Bandarmasih Kota Banjarmasin adalah PDAM terbaik yang mampu melayani pelanggan 140 ribu lebih pelanggannya.

Atau, bisa juga belajar ke Bogor. Perusahaan Daerah Air Minum Tirta Pakuan Kota Bogor sudah memiliki instalasi pengolahan air modern. Pembangunan pengelohan air minum dengan Kapasitas sekitar 400 liter/detik ini dana pembangunan berasal dari pinjaman Bank Dunia sebesar Rp 29 miliar dan dana pendamping sebesar Rp3,6 miliar. [Dari berbagai sumber]

KOMENTAR FACEBOOK