In Memoriam Teungku Abdullah Syafii

HARI ini, 13 Tahun sudah Panglima Perang Gerakan Aceh Merdeka, Teungku Abdullah Syafii wafat. Sosoknya masih terkesan bagi anak-anak muda Aceh yang dulu pernah membaca setiap pernyataanya di beragam media, baik lokal maupun nasional. Bahkan saat dulu beliau wafat, Gerakan Aceh Merdeka berkabung selama 44 hari untuk mengenang kepergian sosok yang dijuluki “Panglima Seribu Wajah” ini, hingga akhirnya posisi Panglima GAM diganti oleh Muzakkir Manaf.

Kepergiannya tidak mewarisi apapun selain ilmu, kesan dan pesan untuk tetap mencintai dan berbuat untuk Aceh. Bagi anak-anak muda di desa Blang Sukon Kemukiman Cubo, Pidie Jaya sosok Teungku Lah tidak hanya sekedar Panglima Perang, tapi juga sebagai guru. “Jika ada waktu luang, beliau selalu mengajarkan kami ilmu agama dan cara menulis bahasa Aceh yang benar,” ujar Tgk Kaoy kepada penulis suatu ketika dulu.

Diakui atau tidak, Teungku Abdullah Syafii adalah sosok panglima perang yang tidak hanya berhasil mendidik pasukannya sebagai petempur sejati, tapi juga berhasil membangun moral anak buahnya saat konflik dulu, hingga beliau dicintai oleh pasukannya dan disegani oleh lawannya. Pernah pada Maret 2001, Menteri Pertahanan Mohd. Mahfud MD mengatakan akan menumpas habis-habisan Gerakan Aceh Merdeka. “Jika RI mengirimkan pasukan untuk menumpas GAM, kami akan segera mengirim pasukan AGAM ke Jakarta untuk beraksi disana,” ujar Tgk Lah menanggapi. Hal ini, bukan hanya sekedar ancaman, tapi juga pernyataan untuk menguatkan moral pasukannya dalam berperang. Walaupun tidak lama sesudahnya, beberapa bom meledak di Jakarta hingga puncaknya gedung Bursa Efek Jakarta-pun hancur dan pihak GAM membantah terlibat di dalamnya.

Di mata Zakaria Suud yang akrab disapa Pak Z (abang Tgk Lah lain Ayah), Abdullah Syafii adalah figur yang rendah hati serta bertanggung jawab. Pernah akhir tahun 1999, saat Tgk Lah pulang ke kampungnya di Matang Glumpang Dua, sambutan yang diberikan keluarganya dirasa Tgk Lah sangat berlebihan sehingga dia merasa risih. Bagi Tgk Lah, dia hanya menjadi pemimpin dan panglima dalam Gerakan Aceh Merdeka, dalam masyarakat dia hanya manusia biasa yang bisa diperintah oleh siapapun.

Syahid adalah cita-cita yang sangat diharapkan oleh Tgk Lah. Sehingga, saat dulu beliau sakit membuat Tgk Lah panik, karena beliau berharap agar meninggal dalam kondisi berperang, bukan dalam situasi sakit-sakitan. Cita-cita syahid sering beliau ceritakan pada siapapun tamu yang berkunjung bertemu dengannya. “Kalau bisa, saya mati tertembak tapi bukan dari belakang, melainkan dari depan,” ungkap Nurmalawati, istri kedua Tgk Lah bercerita perihal harapan Tgk Lah kepada salah satu media di Aceh.

22 Januari 2002, kepergian beliau begitu dramatis beliau meninggal bersama dengan istri dan dua pengawal setianya. Pihak militer Indonesia tidak tahu kalau Tgk Lah saat itu meninggal. Saat terjadi kontak senjata, Tgk Lah tidak berada di lokasi pengepungan. Saat beliau mengetahui istrinya meninggal, beliau menanggalkan semua ajimat yang melekat dibadannya dan ‘naik’ ke gunung untuk melawan dengan harapan syahid bersama istrinya. Hal ini sebagaimana diceritakan oleh beberapa pemuda Blang Sukon kepada penulis.

Bagi saya, kepergian Tgk Lah meninggalkan sejuta misteri. Karena sebelumnya, sikap Tgk Lah yang bertemu dengan Pejabat Sekretaris Negara, Bondan Gunawan menuai beragam kecaman, pun demikian dari petinggi GAM di Swedia saat itu. Bagi petinggi GAM, Tgk Lah tidak memiliki wewenang politik untuk bertemu pejabat Indonesia. Tapi bagi Tgk Lah, pertemuan itu hanya sekedar silaturrahmi dua anak manusia. Hingga akhirnya, Microchip dan Abdullah Puteh sebagai Gubernur Aceh saat itu dipersalahkan atas meninggalnya Tgk Lah.

Bagi saya, Teungku Abdullah Syafii adalah sosok Panglima Perang sejati, figur yang humanis, dinamis dan anti kekerasan, baginya Aceh adalah segalanya. Beliau ingin anak-anak Aceh berhasil dalam pendidikan untuk membangun Aceh yang lebih baik. Harapan Tgk Lah, beliau hanya ingin meninggal tepat saat Aceh Merdeka, sehingga kemerdekaan bisa dinikmati oleh penerusnya. Walau demikian, Aceh yang ditinggalkan Tgk Lah saat ini sudah ‘Merdeka’ dari kekerasan yang dulu sering kita alami. Kendati mungkin ‘Kemerdekaan’ ini lebih besar dinikmati dan dirampas oleh sebarisan pasukan yang mungkin dulu tidak berhasil di didik moralnya oleh alm. Teungku Abdullah Syafii. Tabek Panglima!