Dosa Besar Dalam Terminologi Aceh

KORUPSI: Bukan sebuah hal yang sangat serius dalam Islam. Bahkan diangap sebagai sesuatu hal yang lumrah karena berbagai alasan. Sebagai sebuah dosa, korupsi hanya dosa kecil saja. Para pelakunya, akan bisa tertawa lebar—dengan muka tebal—di warung-warungkopi, di majelis –majelis agama, bahkan diberikan kesempatan untuk memberi kata-kata sambutan di berbagai acara kemasyarakatan.

Lalu apa yang paling krusial dalam Islam? Mesum, khalwat, khamar, pariwisata dan perbedaan pandangan. Itu dosa besar. Musuh agama, musuh rakyat banyak. Pantas dipermalukan. Tidak boleh diberikan tempat di masyarakat. Harus dibuat malu dengan dicambuk di depan orang banyak.

Demikian definisi Islam dalam pandangan sebagian—yang diberi panggung–Aceh kekinian. Ini tidak mewakili cara pandang mayoritas. Tapi sudah menjadi kesepakatn tidak tertulis mereka yang diberi panggung untuk berteriak bahwa dosa-dosa kecil yang dilakukan oleh rakyat di pinggir jalan, akan menjadi aib bangsa, sampah masyarakat, serta ajang cari muka para “khalifah” di bumi Serambi Mekkah.

Maka ramai-ramailah mass media memberitakan –dalam beritanya—seseorang yang karena berada di semak-semak, atau karena berjudi di pinggir krueng Aceh, sebagai pendosa yang layak dipermalukan sekaligus mendapatkan hukuman fisik. Katanya ini efek jera, biar tidak terulang pada yang lain.

Namun di sisi lain, ketika dosa-dosa khalwat, mesum, khamar, judi dilakukan oleh mereka yang berpangkat, atau minimal dekat dengan kekuasaan, tak satupun di antara mereka yang dihadirkan ke panggung eksekusi. Tidak satupun dipermalukan di muka publik—publik yang abangan–. Demi alasan kemanusian ala penguasa, mereka tidak dicambuk. Bahkan dilindungi. Dan mass media pun cenderung tidak arogan terhadap mereka.

Bilapun kemudian ada mass media yang mencoba mewartakan itu, akan dituduh sebagai penggiat jurnalistik yang suka mencari-cari kesalahan penguasa.

Di sini,Tuhan “tidak bisa mengintervensi” terjemahan penguasa dan anasir-anasir busuk di pinggang kekuasan atas agama. Titah-titah-Nya dalam berbagai surah dalam Quran hanya digunakan sebagian dan ditinggalkan sebagian demi terwujudnya kekuasan yang absolut. Bahkan lembaga-lembaga yang (mengaku) mewakili Tuhan di bumi pun, mengambil sikap hati-hati dan cenderung tidak arogan terhadap pelanggaran oleh yang berkuasa atas negeri.

Orang-orang yang selama ini terlihat sangat keras dakwahnya via medsos ketika mendengar sebuah kesalahan yang dilakukan oleh seorang rakyat kecil yang tidak punya akses terhadap APBA, cenderung memilih sikap “tabayyun” dan kemudian menghilang, saat penguasa dan lingkar kekuasaanya melakukan pelanggaran yang sudah diatur dalam Qanun Syariat maupun kesalahan yang dilakukan dalam bingkai larangan UU yang berlindung di bawah ketiak sayap Garuda Pancasila dan UUD 1945.

Bagi penguasa, proses pengaminan secara massal terhadap pengabaian kesalahan-kesalahan serius oleh orang-orang yang diberikan panggung, tentu sebuah peluang. Hal ini kemudian dijadikan semacam senjata bahwa siapapun yang “merongrong” kekuasaan lewat kritik-kritiknya, dicitrakan sebagai bentuk perlawanan terhadap “Pemerintah Islam”.

Kalimat-kalimat: antek kafir!, kaum sekuler!, musuh agama!, Pengkhianat dan emblem negatif lainnya disebar melalui mulut-mulut yang dicitrakan keramat. Tujuannya hanya satu, menggunakan agama untuk membungkam mulut-mulut yang getol mencerca kebejatan sebuah kekuasaan.

Maka tidak heran, mereka yang menguras APBA dalam bentuk dana hibah, bansos dan dana-dana jen itam punggong lainnya tidak merasa menjadi penjahat. Bahkan, bila sebagian dana tersebut kemudian disumbangkan kepada kegiatan-kegiatan sosial, maka akan ada pihak yang memberi label bahwa si penderma adalah contoh pemimpin terbaik masa kini yang layak disandingkan dengan tokoh-tokoh Islam masa lampau, bila perlu menyamakan derajatnya dengan sahabat Rasul.

Keleluasaan para penjahat kelas berat dalam melakukan kejahatannya, telah membuat mereka berani muncul di manapun dan siap menerkam siapapun yang mencoba mengusik kenyamanan mereka. Maka tidak heran tidak sedikit orang-orang yang mencoba meminta pemerintah transparan, harus berhadapan dengan grup rompak yang petantang-petenteng sambil melakukan ancaman.

Akhirnya kita harus menyadari bahwa, Aceh sudah rusak dari hulu sampai hilir. Butuh orang-orang yang sudah putus urat takutnya untuk memperbaiki kondisi. Bilapun mereka tidak sanggup mengubah keadaan ke arah yang lebih baik, minimal masih berani bersuara dengan harapan mau didengar demi tegaknya keadilan yang hakiki.

Pada ujungnya kita harus menyadari bahwa siapapun—yang mendewakan nafsu–, dari berbagai golongan, dari berbagai rupa pakaian, tetap berhasrat untuk mendapatkan bagian segar dari APBA secara ilegal. Ujung-ujungnya dia tetap akan menghalalkan segala cara—termasuk mengahalalkan darah saudaranya—demi memuaskan nafsu angkara dan ketamakan. []

KOMENTAR FACEBOOK