“Akulah Wali Kota Itu”

"Walikota Kota Bunda di Jembatan Krueng Aceh."

KOTA kami meledak dalam perayaan, semalam suntuk kembang api membahana di angkasa raya. Kaum perempuan menyanyikan kidung-kidung cinta, mengeluarkan berbagai perhiasan terindah yang sudah mereka simpan, bertahun-tahun lamanya. Para penjual kue, nasi goreng, sate, dan berbagai makanan malam lainnya terhias senyum terkulum karna rasa syukur atas rezeki melimpah yang sedang berpihak kepada mereka. Di ujung jalan terlihat kerumunan orang-orang yang sedang mengantri di depan gedung bioskop demi sebuah tiket untuk menonton film terbaru sajian akhir tahun.

“Kamu tau? Ini malam tahun baru. Tahun baru pertama yang diperingati oleh rakyat bersama dengan pemimpin mereka.” Demikian aku menjawab kebingungan teman turisku. Ya, dia kebingungan, bagaimana tidak? Setahun yang lalu dia juga bertahun baru di kota ini, dan dia tidak menikmati apapun, selain aparat keamanan yang siap siaga menjaga agar kembang api tidak meluncur ke udara, layaknya malam ini.

“Iya, aku sangat bingung,” ujarnya lirih disertai tatapan kosong.

Dalam perjalanan dari bandara menuju penginapan, aku melihat tatanan kota yang begitu indah, trotoar yang tertata rapi, pepohonan tumbuh rinbun, menjadikan para pejalan kaki bisa berteduh di mana saja mereka kehendaki, area parkiran begitu teratur, tidak ada mobil yang terparkir suka-suka. Tidak ada umbul-umbul, spanduk dan banner yang bergantungan di pinggir-pinggir jalan, apalagi yang dilekatkan di pohon-pohon. Ketika itu aku berfikir kalau aku sedang tidak berada di kotaku tetapi sedang berada di kotamu, “Tokyo”.

Sebelum tiba di penginapan aku menyempatkan diri untuk singgah di sebuah warung kopi, tempat biasanya aku ngopi setahun yang lalu. Di sana aku menemukan mushalla yang sangat bersih, ada ruang privasi untuk perempuan dan anak-anak, pemilik warung juga menyediakan toilet yang sangat bersih dan sejuk. Tidak ada sampah yang berserakan dan WC yang sumbat serta mushalla yang berdesak-desakan seperti setahun yang lalu. Aku semakin takjub dengan kota ini. Awalnya aku berfikir mungkin warung kopi ini sudah bermetamorfosis menjadi warung kopi elit, begitu yang aku pikirkan. Dan ternyata pikiran itu salah, aku baru tahu kalau aku telah membuat peraturan agar semua warung kopi, restoran serta tempat publik lainnya wajib memiliki mushalla, WC dan semua fasilitas umum sebagai penunjang terlaksananya kota yang islami.

Iya, begitulah adanya sekarang, aku mencoba menjadikan kota ini aman bagi wargaku dan bagi tetamu yang datang berkunjung. Karna begitulah janji kampanyeku setahun yang lalu.

Kau tau, sekarang di kota ini juga sudah ada taman-taman tempat anak-anak bisa bermain dengan gratis, tidak boleh lagi ada penjaja makanan yang menjual makanan di kawasan tempat anak-anak bermain. Di sana anak-anak bisa bermain sepuasnya tanpa harus bayar. Dan ibu-ibu mereka tidak lagi was-was akan keselamatan anak-anaknya. Di kampung-kampung juga sudah ada berbagai macam produk hasil dari usaha pertanian, perikanan dan juga kerajinan.

Setiap kampung wajib menyediakan satu produk, seperti kampung Bali, kampung Bali khusus menghasilkan jeruk bali, jika kau ingin mencari jeruk bali, maka kau bisa ke kampung Bali, di sana kau bebas memetiknya, karna setiap rumah minimal wajib menanam tiga batang jeruk bali, jika tidak ada halaman yang memadai mereka wajib menanamnya di dalam pot. Hasil panen akan di ambil oleh pemerintah kemudian pemerintah yang akan menjualnya. Demikian juga kampung yang lain. Setiap kampung memiliki produk masing-masing. Selain untuk meningkatkan taraf ekonomi warga program ini juga bisa menjadi tempat wisata baru yang dapat kami jual ke turis-turis seperti dirimu. Dengan adanya aktifitas warga yang demikian peminta-minta di kota ini sudah tidak ada lagi, mereka harus pulang kampung untuk berkarya.

Aku yakin, kau pasti akan sangat betah berada di kotaku sekarang. Apalagi air PDAMnya tidak pernah lagi bermasalah. Selama setahun ini kami sudah bisa langsung meminum air dari krannya, aku mengolahnya dengan bantuan dari investor dari negaramu, Jepang. Begitu juga dengan listrik. Sejak geothermal berdiri, kami juga sudah memiliki listrik yang melimpah, bahkan kami sudah mengeskpornya ke provinsi tetangga. Dan kau tidak perlu heran jika malam ini engkau melihat semua batang pepohonan yang ada di trotoar jalan dipenuhi dengan lilitan bola lampu beraneka warna. Besok pagi kau juga akan melihat mobil pribadi hampir tidak ada yang lalu lalang di kota ini. Aku telah melarang warga untuk mengendarai mobil pribadi di dalam kota. Warga wajib memakai bus kota dan kereta api listrik yang sangat nyaman untuk ditumpangi.

Untuk kantor-kantor pemerintah, aku hanya menyediakan 3 mobil. Mobil tersebut yang berfungsi mengantar dan menjemput para pegawai yang memiliki keperluan dengan pekerjaan mereka. Dengan demikian mereka tidak leluasa lagi keluar kantor untuk ngopi ketika jam kerja, selain itu upaya ini juga aku lakukan untuk meminimalisir anggaran bensin untuk mobil-mobil dinas seperti tahun-tahun sebelumnya. Dengan adanya peraturan baru ini minat PNS untuk kredit mobil menjadi berkurang. Aku juga melarang PNS memakai tas dan sepatu serta asesoris seperti jam tangan dan lainya yang harganya di atas 500 ribu, mereka kuwajibkan hidup sesederhana mungkin, karna mereka adalah pelayan rakyat.

Dengan demikian mereka tidak bisa lagi berlomba-lomba untuk pamer kekayaan ketika berada di lingkungan kerja, sehingga kehidupan mereka bisa stabil tanpa perlu korupsi serta tak perlu lagi ada beban kredit yang harus mereka lunasi setiap bulannya. Masih tentang PNS, hampir 100% dari mereka menggerutu dan marah dengan kebijakanku, apalagi dengan kebijakan setiap ada acara pemerintahan mereka wajib mengadakannya di sini dan memakai ruangan kantor, tidak perlu menyewa hotel dan tidak perlu naik pesawat untuk pergi keluar daerah. Kecuali biaya transportasi dan akomodasi ditanggung oleh sipengundang, bukan dari Anggaran Pendapatan Belanja Daerah.

O ya, masih ingat dengan beberapa sungai yang membelah kota kami? Sungai-sungai tersebut telah berubah menjadi tempat wisata yang sangat menyenangkan, ketika sore hari kita bisa menyewa bout dengan harga Rp 75.000 rupiah per/jam, dengan bout tersebut kita bisa mengelilingi kota sambil menikmati sunset di sepanjang aliran sungai. Tidak ada lagi pemuda dan pemudi yang duduk berpasang-pasangan di semak-semak dan tempat-tempat tertutup. Aku telah mengatakan bahwa urusan pemuda-pemudi terutama yang sedang menempuh pendidikan di kota ini adalah tanggung jawab geuchiek di mana mereka tinggal atau ngekost. Dan geuchiek telah membuat peraturan gampong berdasarkan kesepakatan adat di gampoeng masing-masing. Tidak ada lagi petugas keamanan yang lalu lalang bertugas mengintai warga yang berdua-duaan di dalam gelap. Kau hanya akan menemukan petugas keamanan di pasar-pasar sayur dan pasar ikan serta daging.

Di sana mereka mengontrol harga makanan pokok. Setiap hari harga makanan pokok, sayur, ikan, daging dan lainnya akan ditempelkan di dinding-dinding pajak agar pembeli tidak perlu lagi bertanya dan tidak ada lagi tawar menawar. Tidak ada lagi perbedaan harga antara satu pedagang dengan pedagang lainnya. Pemerintah telah menetapkan persen untuk mereka di luar harga yang harus mereka jual kepada masyarakat. Begitu juga dengan harga sewaan atas bangunan seperti toko, rumah kontrakan dan juga kamar kost, semua harga aku atur sedemikan rupa tanpa perbedaan. Semua ada aturan yang telah aku tuangkan dalam Peraturan Walikota.

Banyak hal yang telah diperbaiki, dan kau dapat melihat bagaimana kondisi kota ini setahun yang lalu dan bagaimana sekarang. Kau pasti memiliki penilaian tersendiri, aku sebagai walikota wajib memberi penjelasan kepada tetamuku, informasi ini sebagai bagian dari upayaku untuk mempromosikan kotaku. Yaa kotaku, kota “BUNDA”.

Teman turisku manggut-manggut, akupun demikian.

“Sungguh sebuah kota yang luar biasa,” katanya disertai decak kagum yang keluar dari desahan sahabat turisku.

“Iya sangat luar biasa,” aku mengulangi kalimatnya dengan tatapan kekaguman atas apa yang telah aku lakukan.

Sejenak aku terdiam, dari kejauhan terdengar suara azan sayup-sayup, aku menggeliat seraya membuka mata secara perlahan. Aku berfikir, kenapa gelap sekali? Bukankah aku sedang berada di kerumunan orang-orang yang sedang berpesta kembang api?

Ooo Tuhan, shubuh telah menghampiri, aku harus segera bangun untuk menunaikan panggilanNya. Segera aku bangkit dari dipanku dengan membawa serta mimpi indah beberapa menit yang lalu. Mimpi menjadi Walikota di Kota Bunda. Sungguh kawan! Inilah mimpi yang takkan terbeli.

Selamat malam semuanya,,,,
Selamat bermimpi,,,