14 Sifat Kepemimpinan Teuku Umar

“Beungoh singoh geutanyoe jep kupi di keude Meulaboh atawa ulon akan syahid.”

Teuku Umar Johan Pahlawan lahir pada tahun 1854 di Meulaboh, tepatnya di Gampong Masjid, sekarang Gampong Belakang, Kecamatan Johan Pahlawan. Beliau dilahirkan dari seorang ayah yang bernama Teuku Tjut Mahmud dan ibu Tjut Mohani dimana pasangan ini dikarunia empat anak yaitu Teuku Musa, Tjut Intan, Teuku Umar dan Teuku Mansur.

Teuku Umar seorang Aceh dan memiliki silsilah dengan Teuku Laksamana Muda Nanta, seorang Laksamana Aceh yang ditugaskan oleh Sultan Iskandar Muda pada tahun 1635 sebagai Panglima Angkatan Perang Aceh di Andalas Barat dan sekaligus ditunjuk menjadi Gubernur Militer Aceh di Tanah Minang.

Pada Tahun 1800 – anak keturunan Teuku Laksamana Muda Nanta mendapatkan tekanan dari kaum ulama di tanah Andalas sehingga menyebabkan mereka kembali ke Aceh lewat jalur laut sebelah barat dan kemudian mereka mendarat di Meulaboh dimana salah satu pemimpin rombongan tersebut bernama Machdum Sakti Yang Bergelar Teuku Nanta Teulenbeh yang kemudian diangkat oleh Sultan Aceh sebagai penjaga Taman Sultan di Kutaraja.

Teuku Umar memiliki pengaruh yang sangat besar dalam sejarah perang Aceh yang panjang dan lama tersebut. Beliau sudah memanggul senjata dan bertempur melawan Belanda sejak usia 19 tahun ketika dimulainya agresi Belanda pertama pada tahun 1873 yang dipimpin Jenderal Kohler sebagai utusan salah satu gampong dari Meulaboh dan ada info spekulatif yang mengatakan bahwa peluru Teuku Umarlah yang menembus Jenderal Kohler.

Teuku Umar juga yang membangkitkan semangat perlawanan terhadap Belanda, Tercatat beliaulah yang melakukan kampanye perang melawan Belanda di wilayah barat dari Meulaboh sampau dengan Uleelheu sampai Pidie, bahkan Beliau menekan para ulee balang untuk ikut perang melawan Belanda.

Pada tahun 1896 beliau juga mengajak seluruh orang Aceh melawan Belanda secara massal. Bahkan beliau juga yang terus mendorong Sultan, Panglima Polem serta Teungku Di Tiro untuk melakukan perlawanan dengan memberikan uang sabil ke Keumala, tempat sultan mengendalikan perang.

Sifat Keteladanan Teuku Umar
Sebagai seorang pahlawan, Teuku Umar memiliki nilai dan sifat yang dapat kita teladani yaitu :

1. Disiplin
Sebagai seorang pimpinan militer setingkat Panglima Besar, Amirul Bahar dan Panglima Perang Aceh, Teuku Umar harus bersikap disiplin terutama dalam membangun jiwa patriot kepada seluruh pengikutnya dan masyarakat pada umumnya, beliau dikenal sebagai seorang panglima perang yang paling kuat dalam menanamkan kedisiplinan kepada tentaranya.

2. Seorang Motivator
Teuku Umarlah yang memberikan motivasi kepada seluruh masyarakat di Pantai Barat Aceh dan Aceh pada umumnya untuk melakukan perlawanan kepada Belanda, beliaulah yang mengembleng pasukan dari mulai Meulaboh sampai Ke Ulee Lheu, Kuta Raja sampai ke Pidie. Ketika beliau membutuhkan mata‐mata untuk meninjau perjalanannya, mata‐mata itu bahkan bersedia menyerahkan hidupnya tanpa berpikir panjang saat Teuku Umar berkata, “Pergilah. Matamu adalah mataku, telingamu adalah telingaku”

3. Dermawan
Beliau juga seorang sangat dermawan terutama untuk kepentingan perang baik yang beliau lakukan sendiri maupun memberikan sokongan dana berupa uang sabil kepada Sultan, Teungku Cit Ditiro dan Panglima Polem untuk membiayai pasukan melawan Belanda.

4. Sangat Memperhatikan Bawahan
Teuku Umar juga seorang yang sangat memperhatikan para pengikutnya baik kesejahteraan mereka maupun membangun rasa percaya diri untuk duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi dengan bangsa lain.

5. Organisator yang Handal
Teuku Umar adalah seorang organisator yang handal, hal ini beliau buktikan dengan membagi pengikut beliau dalam 17 panglima daerah dengan satu komando penuh. Bahkan beliau juga membentuk satu batalion dengan 250 anggota tentara yang berseragam militer penuh dengan kepangkatan resmi dan tinggal di barak layaknya sebuah organisasi ketentaraan.

6. Suka Belajar dan Sangat Sopan
Teuku Umar adalah seorang sangat terpelajar dan mau terus belajar, hal ini diakui oleh Paul Van Teer dalam Bukunya Perang Aceh yang mengatakan Teuku Umar punya hobbi membaca koran-koran Belanda dan Inggris untuk menambah pengetahuannya tentang dunia internasional dan perpolitikan Belanda dalam menjajah Aceh.

7. Sangat Menghargai Kaum Ulama
Hal ini dibuktikan dengan fatwa ulama terkenal yaitu Teungku Tjiek Kuta Karang yang menyatakankan bahwa perjuangan Teuku Umar harus didukung dan beliau juga sangat mendengar nasehat dari seorang ulama yang bernama Teungku Husin Di Tanoh Abee agar Umar segera kembali mendukung perjuangan rakyat Aceh. Beliau memperoleh dukungan dari kaum ulama dengan memberikan dukungan pendanaan kepada para ulama sebagai sumbangan terhadap Perang Suci. Beliau juga memperoleh dukungan dari Teungku di Tiro.

8. Seorang Tokoh Pendukung Gender
Teuku Umar juga dikenal sebagai seorang yang sangat memperhatikan peran kaum perempuan, hal ini dbuktikannya dengan mendengar nasehat Cut Nya’Din agar supaya balik melawan Belanda secara terbuka.

9. Seorang Serius namun Humoris
Teuku Umar adalah seorang yang sangat serius dalam membangun sistem pertahanan dan perlawanan dengan Belanda namun beliau juga dikenal sebagai seorang sangat humoris dan santun kepada rakyat Aceh dan pengikutnya.

10. Pembangun Kesetiaan Pengikut
Teuku Umar sangat memperhatikan pengikutnya sehingga pengikutnya sangat menjaga keamanan dan keperluan beliau, bahkan ini dibuktikan sampai setelah beliau wafat pada tanggal 11 Februari 1899 dimana pengikutnya menyembunyikan kuburan dan jasad beliau selama 18 tahun, baru pada tanggal 11 Nopember 1917 seorang Belanda baru dapat menyaksikan secara langsung kuburan beliau ini.

11. Seorang Bisnisman yang Matang
Disamping sebagai seorang panglima prang, Teuku Umar juga memilki imperium bisnis Lada dengan masyarakat Internasional baik dari Belanda maupun negara lainnya.

12. Memilki Jiwa Kebangsaan yang Kuat
Teuku Umar juga seorang yang sangat menjunjung tinggi nilai kebangsaan dimana beliau sangat peka terhadap sikap merendahkan dari Bangsa Belanda dan ini dibuktikan dengan surat yang ditulis kepada Gubernur Jenderal Deijkerhoff. Bahkan Paul Van Teer mengatakan bahwa Teuku Umar adalah bangsawan agung, yang dapat tegak sama tinggi dan duduk sama rendah bergaul dengan gubernur-gubernur dan jenderal-jenderal Belanda tanpa harus merasa inferior menghadapi Belanda yang sangat diskriminatif.

13. Ahli Strategi dan Politik
Beliau mampu meyakinkan orang lain melalui kata kata, demgan menerangkan visi yang akan dicapai dan misi yang akan dilaksanakan, JJ Smicth mengatakan bahwa beliau sangat menghormati dan menyanjung pemimpin atau Uleebalang yang beliau harus segani dan mempengaruhi orang untuk melakukan apa yang ingin beliau capai. Di mata orang Aceh, beliau adalah teladan seorang ahli strategi dan politikus.

14. Siap Berkorban demi Membela Bangsa
Teuku Umar sudah hidup mapan dengan uang dan rumah serta dunia bisnisnya yang besar, namun itu semua ditinggal demi untuk melakukan perlawanan terhadap Belanda.

Perjuangan dan Jasa
Teuku Umar Johan Pahlawan seorang pejuang sejati dan salah satu dari dua pahlawan Aceh yang syahid karena ditembak oleh Belanda memiliki perjuangan yang panjang dalam menghadapi Belanda dengan perang yang dimotori dan diikuti oleh beliau diantaranya yaitu: Perang Aceh 1 dan II Pada Tahun 1873, Perang Meulaboh 1877, melakukan Kampanye Perang dari tahun 1881 mulai Meulaboh sampai ke Ulee Lheu agar rakyat bangkit melawan Belanda, Perang Pateh, 1881, Perang Rigaih dan Perang Ulee Lheu 1882, Perang Aceh Besar – 1882 , Perang Pantai Puteh – 1883 Peristiwa Nisero – 1884.

Teuku Umar bahkan menjadi sasaran Belanda pada Tahun 1885 dimana Belanda mengumumkan siapa saja yang bisa menangkap Teuku Umar Belanda akan dalam keadaan hidup atau mati akan dibayar sebanyak $ 25.000,-

Teuku Umar juga menjadi aktor dalam peristiwa Kapal Hok – 1886. Pada Tahun 1896, mengambil alih 800 pucuk senjata Belanda, Perang Montasie, Mengepung Kuta Raja, Perang Aneuk Galong – 1896, Pertempuran Leupung – 1897, Pertempuran Lhong, Perang Pidie, Menyerang Meulaboh pada tahun 1899 – namun syahid dan masih banyak perang-perang lainnya yang dilakukan Teuku Umar untuk menghalau supremasi Belanda di Aceh.

Teuku Umar Syahid
Pada tanggal 10 Pebruari 1899 di Keudee Lhok Bubon, Teuku Oemar bersama pasukannya mengatur rencana penyerangan terhadap Belanda yang berada di Tangsi Meulaboh. Mendengar rencana ini, Jendral Van Heutzs memerintahkan Letnan Ver Brugh untuk memimpin pasukannya berpatroli ke arah Barat dengan menyusuri pantai serta melakukan penjagaan di Suak Ujong Kalak, 2 kilometer dari kota Meulaboh.

Teuku Umar seakan‐akan tahu bahwa beliau akan menemui akhir ajalnya. Saat berjalan dari Lho’ Bubon, beliau berkata kepada Teungku Kali Nya Ali, “Besok kita akan minum kopi di Keude Meulaboh atau saya akan mati di Perang Suci”.

Teuku Umar bergerak menyusuri pantai bersama pasukannya dari Lhok Bubon menuju Meulaboh pada malam hari tanggal 11 Pebruari 1899. Sebelum melanjutkan perjalanannya untuk melakukan penyerangan ke Tangsi Meulaboh, pasukan Belanda yang telah lebih dahulu bersiaga di seberang Suak Ujong Kalak melepaskan tembakan.

Pasukan Teuku Umar terkepung. Teuku Umar terlihat memegang dadanya yang berlumuran darah. Peluru Belanda bersarang di dada kirinya dan usus besar. Seketika tembak-menembak terhenti. Suasana menjadi hening dan masing-masing pasukan mengundurkan diri tanpa melepaskan tembakan.

Jenazah Teuku Umar dibawa lari oleh pengikut-pengikut setianya ke Pucok Luung pedalaman Suak Raya, dan melalui Reudeup dibawa lagi ke Pasi Meungat Tanjong Meulaboh untuk dikebumikan didekat makam ibunya. Enam bulan kemudian, karena khawatir diketahui pihak Belanda maka masyarakat membongkar pusara Teuku Oemar untuk kemudian dikebumikan di Gunong Meulintang (Cot Manyang) Mugo. Setelah 8 bulan, jenazah Teuku Umar dipindahkan ke Gunong Glee Rayeuk Tameeh di Mugo Kecamatan Kaway XVI, 42 kilometer dari kota Meulaboh.

Perjuangan beliau dilanjut oleh Cut Nyak Dhien, yang bermarkas di bagian utara Meulaboh tepat di daerah Krueng Manggi seputaran Krueng Meureubo. Pada tahun 1905, dalam keadaaan sakit sakitan dan kondisi mata tidak dapat melihat, Cut Nyak Dhien diserahkan kepada Letnan van Vuuren dan diasingkan Ke Sumedang dan meninggal pada tahun 1908.

Kuburan Teuku Johan Pahlawan mantan Panglima Perang Besar Gubernemen Hindia Belanda baru diketahui langsung oleh orang Belanda pada tanggal 1 Nopember 1917 atau 18 tahun setelah ia mangkat. Seorang pegawai purbakala Belanda J.J.De Vink melihat kuburan Teuku Umar setelah mendapat izin Teuku Chik Ali Akbar (Uleebalang Kaway XVI) dan Teuku Panyang, Ulee Balang Meugo, dengan syarat kuburan tersebut tidak diganggu lagi.[]

KOMENTAR FACEBOOK