Aceh, Sejarah yang (Hampir) Terabaikan

Beberapa waktu yang lalu saya menghadiri acara pelantikan pengurus Keluarga Aceh Besar Yogyakarta (KABY) sekaligus peringatan maulid nabi di Bale Gadeng Yogyakarta. Setelah penceramah menjelaskan panjang lebar tentang perjalanan hidup nabi Muhammad SAW salah satu nasehat yang dapat saya catat adalah pelajarilah sejarah, dengannya kau dapat mengubah masa kini dan masa yang akan datang. Jangan hanya belajar sejarah untuk sekedar mengetahui. Bisa-bisa kau yang akan terkubur bersama sejarah itu sendiri.

Sebagai orang Aceh saya meyakini betul bahwa sejarah bangsa sendiri tak boleh dilupakan. Walau semanis atau sepahit apapun ia tetaplah fakta sejarah yang telah terjadi di masa lampau. Sekonyong-konyong, saya terkejut, ternyata selama 12 tahun sekolah di Aceh saya tak pernah diajarkan sejarah Aceh kecuali tentang pahlawan Cut Nyak Dhien, Teuku Umar dan sejenisnya. Itupun disinggung sebagai pahlawan nasional bukan dari sudut pandang kesejarahan Aceh.

Hasan Tiro merupakan orang pertama yang membuka mata saya ke hadapan pintu sejarah Aceh. Bagi saya, Hasan Tiro merupakan pemikir besar yang pernah dimiliki oleh Aceh, khususnya di bidang politik. Ia merupakan aset besar bagi bangsa Aceh. Dengan skill penguasaan berbagai bahasa dunia semakin memudahkannya untuk melacak dan merujuk kepada pemikir-pemikir dan ahli-ahli sejarah yang otoritatif. Hal ini terlihat jelas dalam referensi tulisan-tulisan yang dikarangnya.

Adalah suatu keberuntungan baginya tentu juga bagi kita semua karena ia sempat meninggalkan warisan pemikiran melalui tulisan-tulisan yang dikarangnya sehingga orang-orang yang hadir belakangan juga dapat mempelajari pemikirannya. tapi sayang kebanyakan orang Aceh tidak terlalu akrab dengan karya-karyanya. Mungkin, karena sangat terbatasnya akses untuk mendapatkan buah pikirannya dalam bentuk buku.

Tulisan-tulisannya secara garis besar memiliki semangat untuk menyadarkan kita akan sejarah sebuah bangsa besar yang terletak di Asia Tenggara, bangsa itu bernama Aceh. Aceh memiliki sejarah yang luar biasa dalam perjalanannya. Tapi kebesaran nama bangsa ini yang banyak tidak disadari oleh bangsa Aceh sendiri.

Ketika pulau-pulau lain di Hindia Timur atau sekarang dikenal dengan nama Indonesia sedang dijajah oleh Belanda, Aceh merupakan sebuah kerajaan yang merdeka dan berdaulat. Sampai pada tahun 1873 ketika Belanda menyatakan perang melawan Aceh dengan mengirim tentaranya dibawah pimpinan Jenderal Kohler. Konon jumlah pasukan yang dikirimkan Belanda tersebut adalah yang terbesar dalam sejarah bangsa Eropa tetapi pasukan itu dapat dihancur-leburkan oleh bangsa Aceh saat itu. Ia disegani oleh bangsa-bangsa lain bahkan sampai mendapat julukan dengan “The Fighting North” orang-orang pemberani di Utara.

Kita boleh bertanya seberapa besar sekolah-sekolah di Aceh memberikan porsi untuk pelajaran sejarah, khususnya sejarah Aceh sendiri. Sejarah ini penting untuk mengenal jati diri sebagai sebuah bangsa besar yang pernah berdaulat atas dirinya sendiri. Terkadang kita terlalu disibukkan dengan sejarah bangsa lain sehingga mengabaikan sejarah bangsa sendiri.

Berapa banyak orang yang menyadari bahwa dahulu Aceh, bahkan sebelum adanya negara yang bernama “Indonesia”, adalah sebuah kerajaan besar yang berdaulat atas dirinya sendiri; diakui oleh dunia internasional; dikenal diseluruh penjuru angin; wilayahnya hampir mencakup seluruh pulau Sumatera; menjalin hubungan diplomasi dengan berbagai bangsa besar yang ada di muka bumi, seperti Inggris, Jepang, Spanyol bahkan dengan kekhilafahan Turki Utsmani.

Ketika Belanda hendak memperluas wilayah jajahannya dengan memerangi Aceh pada tahun 1873 mereka mengirim surat pernyataan perang kepada kerajaan Aceh. Ini menjadi bukti akan kedaulatan Aceh atas dirinya sendiri pada saat itu. Puluhan tahun Belanda berperang dengan Kerajaan Aceh, ratusan ribu nyawa melayang namun cita hendak menguasai tanah Aceh tak kunjung sampai bersebab perlawanan yang membabi buta dari prajurit mujahidin Kerajaan Aceh.

Hal-hal yang seperti inilah yang hampir luput dari ingatan bangsa Aceh saat ini. Sejak kecil kita tidak diajarkan tentang sejarah bangsa kita sendiri. Padahal, seperti yang ditekankan Hasan Tiro, sejarah merupakan elemen penting sebagai jembatan yang akan menghubungkan masa lalu dengan masa kini serta masa yang akan datang, agar kita paham akan perjuangan para pendahulu di masa silam yang telah berjuang mati-matian, mengorbankan nyawa dan harta benda demi mempertahankan kedulatan bangsa ini.

Saya khawatir jika generasi saat ini asing dan tidak pernah mendengar nama-nama pahlawan Aceh seperti Muhammad Saman di Tiro (1874-1891) , Muhammad Amin di Tiro (1891-1896) sampai pemegang tampuk kekuasaan terakhir Kerajaan Aceh Ma’at di Tiro (1911). Saya khawatir jika generasi saat ini tidak mengenal orang-orang yang telah berjuang bersama endatunya demi mempertahankan kedaulatan bangsa ini, dan sebaliknya menghafal semua pahlawan dan pejuang bahkan penjajah dari bangsa lain.

Bangsa Aceh memiliki sejarah yang begitu luar biasa. Namun sayang sekali jika sang pemilik sejarah itu sendiri tidak memiliki kesadaran akan sejarah. Sayang sekali jika sejarah sebesar itu harus tenggelam seiring berjalannya waktu. Maka pemerintah Aceh melalui dinas pendidikan selayaknya menambahkan porsi untuk pelajaran yang sangat penting ini untuk meningkatkan kesadaran sejarah bagi generasi muda.

Wallahu a’lamu bi al-shawab