Haram untuk Dibaca

Bulan lalu aku keluar malam hari untuk cari angin di luar rumah. Tiba di Kota Matangglumpangdua, Bireuen, aku singgah di tempat orang berjualan durian.
Tanpa terasa aku menikmati individu yang bertransaksi durian. Banyak yang menggeleng namun banyak pula yang sepakat dengan harga hasil tawar menawar.

Sebenarnya aku tak peduli soalan jual beli durian itu, andai saja bukan karena seorang ayah dan seorang anaknya yang memotong bagian dalam kulit durian. “Untuk makan kambing saya,” kata anak itu.

Sambil terus membantu sang ayah, anak berbaju kumal yang kuperkirakan bersekolah kelas tiga atau empat SD, tangan kirinya gesit menyapu sisa daging durian dan segera memakannya.

Dia acapkali gesit bergerak bila ada durian busuk yang dibuang ke dalam tong sampah. Aku kembali melihat, dengan alasan memotong kulit bagian dalam untuk pakan kambing, dia kembali memilah, siapa tahu bila ada daging durian (yang tidak busuk) untuk dimakan.

Aksi itu baru berhenti, ketika dia menyadari aku memerhatikannya.

Oh Tuhan, aku merasa bersalah, aku sudah merusak kebahagiaan seorang anak kecil di tengah malam buta di sebuah emperan toko di Kota yang lumayan besar ini.

Kali lain, seorang ibu, masih di kota yang sama, menyeret tangan anaknya karena sang anak terus merengek minta dibelikan martabak.

Ibu itu malah mencubit pipi lekaki kecilnya karena mengetahui aku memperhatikan mereka.
“Dasar anak nakal, kau buat mamak malu di depan orang,” kata sang ibu.

Oh Ilahi, kali ini seorang ibu merasa kehilangan marwahnya, seorang anak harus disakiti karena tak ada lagi sisa uang di dompet untuk membeli kue kecil. Dan aku kembali diberikan kesempatan untuk melihatnya.

Sudah, jangan minta dilanjutkan. Hentikan saja membaca ini. Aku sudah tidak mampu bercerita. Karena, dengan mata ini, di pasar rakyat nan becek, terlalu banyak kisah miris yang berhasil ku tatap.

Aku juga punya cerita tentang penjual buah yang baik hati. Kemudian dia meninggal dunia. Istrinya tercinta, satu hari sebelum seunujoh sang suami masih harus berjualan buah buah layu, karena mereka masih memiliki hutang yang harus dibayar.

Hei! Jangan paksa aku terus bercerita. Kau tahu? Mutia Dewi, istriku yang baik hati itu, rutin tiap kepulanganku, bercerita tentang kisah-kisah sedih yang ditemuinya di pasar.

Ada banyak air mata yang keluar ketika dia berbisik” Bi, kita masih sangat beruntung”

Hei! Dia, ketika mengatakan hal demikian, sebenarnya sedang menghiburku. Karena dia tidak ingin merusak mood ku dalam menulis. Istriku yang baik itu, seringkali berbohong. Ya, dia pintar berbohong. Dia selalu mengaku punya simpanan uang, bila aku gagal memberikannya uang belanja bulanan.

Kau, cukuplah mendengar kisahku ini dengan keyakinan bahwa aku sedang berbohong. Semua ysng kuceritakan di atas, semuanya bohong.

Aku sedang berdusta. Ya, bukankah aku salah satu penulis yang penuh tipu daya?. Tidak ada orang miskin di Aceh. Semuanya kaya-kaya. Bila aku masih melarat secara ekonomi, itu murni karena aku lelaki malas.

Jangan juga percaya pada tulisan Risman A. Rahman. Dia juga penipu. Kami sama-sama penipu. Kami terlalu benci pada Pemerintah Aceh yang adil ini.

Kami adalah kolaborator penulis yang hendak membuat malu penguasa. Padahal semua tahu Zaini, Muzakir Manaf dan seluruh kepala daerah di Aceh, adalah orang-orang baik. Bahkan kebaikan mereka melebihi Umar bin Abdul Aziz, sang khalifah yang legendaris itu.

Tulisan yang penuh tipu daya ini bagian dari anasir busuk yang haram untuk dibaca.[]

KOMENTAR FACEBOOK