Teuku Umar, Pahlawan Muda yang Penting Bagi Generasi Muda

11 Februari 1899 atau 117 tahun lalu, peluru dari senjata prajurit Belanda melayangkan nyawa dari jasad Teuku Umar. Suami Cut Nyak Dien itu tersungkur di Suak Ujong Kalak, Meulaboh, syahid dalam usia masih muda dan produktif, 45 tahun.

Bisa dibayangkan, betapa kacau balaunya keadaan saat itu. Bulan ramadhan, ketika pasukan pejuang melaksanakan sahur, Teuku Umar sebagai pemimpin terkena peluru maut. Jelas kacau balau.

Tapi, kesetiaan prajurit tidak melayang bersama peluru musuh. Jasad Teuku Umar pemimpin yang amat dihormati, dibawa lari ke Pasi Meungat untuk dikuburkan di samping pusara sang ibunda. Namun, tak lama, jasad pahlawan itu, kembali digali untuk dipindahkan ke Gunong Cot Manyang. Di sini kabarnya sempat di kubur selama 8 bulan. Terakhir, jasad yang masih terus dihormati itu, dimakamkan di Meugo.

Begitu lama posisi makam Teuku Umar tidak diketahui. 18 tahun kemudian baru diketahui. Begitu pentingnya keberadaan Teuku Umar. Jika kabar syahidnya diketahui bisa dipastikan akan mempengaruhi spirit perlawanan. Begitulah arti seorang pemimpin di mata rakyat kala itu.

Kini pun, Teuku Umar yang lahir 1854 di Gampong Mesjid, sekarang Gampong Belakang, Johan Pahlawan juga masih dikenang. Nilai-nilai kepemimpinannya digali untuk menjadi inspirasi bagi generasi muda. Bayangkan, anak pasangan Cut Mahmud dan Cut Meuhani ini sudah terjun dalam medan perjuangan sejak berusia 19 tahun. Kerasnya medan perjuangan membuat Teuku Umar hanya bisa berkhitmat kepada negeri ini selama 26 tahun.

Kisahnya dengan Belanda yang penuh drama persahabatan dan permusuhan terkadang menimbulkan kontroversi yang tidak mudah terutama ketika berhadapan dengan sesama kaum pejuang. Tapi, yang namanya Teuku Umar, dengan segenap kemampuan strategi yang dimilikinya, ia menjadi sosok yang dihormati sebagai tokoh oleh Belanda, Sultan dan sesama aktor pejuang.

Di mata Belanda Umar adalah sosok yang dianggap paling berani untuk dipakai sebagai alat menghadapi kaum pejuang lainnya, dan Umar memandang Belanda sebagai pintu masuk guna merebut persenjataan yang menjadi kunci bagi sukses tidaknya mengusir Belanda itu sendiri. Bagi Sultan, Teuku Umar adalah sosok donatur yang bisa menjadi sumber pendapatan kerajaan melalui aktivitas perdangan lada dimana Teuku Umar salah satu pemain kuncinya.

Maka, tidak heran bila dari Belanda ia memperoleh gelar Johan Pahlawan dengan jabatan Panglima Perang Besar Kompeni untuk urusan memadamkan pemberontakan. Sedang dari Sultan ia memperoleh gelar Amir Ul Bahar. Seakrab apapun Teuku Umar dengan Belanda, di dalam lubuk hatinya, dan di dalam pikirannya, ia mesti menggelorakan perlawanan massal dengan Belanda. Kesempatannya di tengah Belanda akhirnya menjadi pintu untuk membalikkan serangan kepada musuh sebenarnya, Belanda.

Kepala Bappeda Aceh Barat kepada aceHTrend mengatakan nilai-nilai kepemimpinan Teuku Umar sangat penting untuk diteruskan kepada generasi muda. Setidaknya, ada 14 sifat keteladanan Teuku Umar yang sangat perlu di contoh oleh generasi saat ini. Klik 14 Sifat Kepemimpinan Teuku Umar.

Sebagai Kepala Bappeda di Pemerintahan Haji Tito Teuku Dadek mengatakan bahwa Pemkab Aceh Barat telah dan sedang terus membangun jejak Teuku Umar di aceh Barat. Salah satunya adalah pembangunan Tugu Teuku Umar yang di Batu Putih.

“Masterplannya sudah siap dan pembangunan tugunya sudah di mulai. Tahun ini di mulai lagi. Dana awal sekitar Rp 500 juta. Tahun ini ditambah Rp500 juta lagi. Di APBK-P juga dialokasikan untuk pembebasan tanah,” katanya.

Di area Teuku Umar ini, kata Dadek ada museum, lapangan olah raga, parkir, kantin, dan lainnya yang terkait dengan Teuku Umar. Di samping pembangunan tugu juga dilakukan pemugaran makam Teuku Umar dengan dana APBN secara bertahap. Juga ada kerja sama dengan Universitas Teuku Umar untuk melakukan studi tentang Oemarian, di samping kegiatan-kegiatan yang selalu dilakukan saban tahun. Juga di cetak buku-buku berkaitan dengan sejarah Teuku Umar. []

KOMENTAR FACEBOOK