Dalam Pelukan Banjir

Ilustrasi

Lelaki senja berusia lebih setengah abad itu hanya mampu pasrah. Padinya yang sedang menghijau kini sudah terendam banjir. Lahan persawahan tempat ia menyemai harapan, kini sudah berubah menjadi lautan air. Hancur sudah mimpinya untuk merengkuh untung di akhir masa panen kelak.

Di sudut lainnya, nun jauh dari posisi lelaki itu berdiri, dibatasi oleh ratusan kilometer, warga harus meratapi padi yang sudah dituai hanyut dibawa banjir. Bilapun ada yang berhasil diselamatkan, apalah artinya padi yang sudah terendam. Di musim hujan pula.

Hei! Lihat itu, kebun pisang yang hampir berbuah, kini lintang pukang dihantam air bah yang datang semalam. Gunung yang meranggas tak peduli lagi. Ia sudah tak punya kalkulasi. Semua air ditumpahkan ke sungai oleh lereng-lerengnya yang terjal.

Kini air, tanpa malu-malu masuk sampai ke bilik-bilik santri di dayah. Menembus rumah si kaya dan si miskin. Mematikan ayam, kunyit, lada, pisang, pepaya, kambing dan domba.

Membuat barang dagangan membusuk dan tak laku dijual. Fasilitas publik rusak. Bahkan tak jarang nyawa harus melayang. Jangan gugat lagi tentang kehilangan kehangatan di malam-malam musim hujan. Karena banjir yang sudah tak malu-malu akan memaksa siapapun belajar berenang dalam genangan.

Eits! Lihat itu. Para bupati dan gubernur serta berbagai kepala ini itu datang. Mereka membawa mie instan, beras, ikan asin, telur, buku catatan, kamera dan sedikit kata sambutan.

Mereka, sambil dibidik kamera akan berceramah tentang kebaikan bersabar. Legowo menerima ujian dan musibah untuk persiapan naik kelas. Oleh para penulis istana, lekas akan jadi berita: Duh, Bupati/Gubernur pulan menerobos banjir demi rakyatnya. Penulis istana lainnya akan menulis: “Umar bin Khattab” masa kini makan mie instan bersama korban banjir.

Dengan ceramah moral penuh kibulan, mereka meminta rakyat untuk bersabar menghadapi musibah. Karena ini bentuk ujian untuk menuju “kemerdekaan” batiniyah.

Pelan nan samar mereka menolak mengakui bahwa segala petaka ini akibat dari pengrusakan lingkungan hidup besar- besaran. Pembangunan yang dilakukan hanya sekedar berorientasi ekonomi instan.

Mereka tak peduli bila atas nama uang, hutan digunduli secara vulgar. Sungai ditimbun, gunung “diperkosa” secara beramai-ramai. Mereka hanya menghitung kapital saja.

Hei! Petinggi kampung juga telah mengikuti hal demikian. Lihat, program pembangunan gampong mayoritas merusak tata lingkungan. Tali air disumbat. Jalan semakin tinggi dari rumah warga. He! Mereka ikut-ikutan jadi “penjahat”lingkungan.

Ah, seruan aktivis lingkungan hidup semisal Walhi Aceh, acap dianggap sebagai suara kebencian yang menolak kemajuan. Ya, penggiat lingkungan dituduh orang-orang yang dibayar asing untuk menghambat pembangunan Aceh.

Mulut-mulut busuk tak bertanggung jawab itu, ya melalui lisan dan tulisan mereka, mencoba menikam pembela lingkungan dengan kalimat anyir sok peduli. Bahkan, mereka mengklaim bahwa banjir bukan hanya milik Aceh, tapi juga milik Amerika. Padahal, 20 tahun lalu, sebelum bandit bandit itu merusak lingkungan, kita hanya menonton banjir di televisi.

Mereka juga mencoba mengaburkan fakta bahwa, banjir akan melahirkan kemiskinan baru. Karena banjir bisa merusak apapun, termasuk tanaman petani kecil di ujung jalan hitam. []

KOMENTAR FACEBOOK