Sanusi Junid, Permata Aceh di Malaysia dan Kisah Amalan Sepotong Ayat oleh Presiden Korsel

Sanusi Junid, atau lengkapnya Tan Sri Dato’ Sri Sanusi bin Junid. Nama ini tidak asing bagi telinga orang Aceh, apalagi bagi anak-anak Aceh yang tinggal atau bersekolah di Malaysia. Tapi, siapa Sanusi Junid di mata rakyat Malaysia sendiri?

Fahmi M. Nasir, melalui Rian Firmansyah berkenan berbagi laporan lamanya kepada aceHTrend, dengan maksud agar pembaca di Aceh khususnya makin akrab mengetahui dan mengambil inspirasi dari Sanusi Junid, dan berharap Pemerintah Aceh atau calon pemimpin di Aceh bersedia mengambil pembelajaran berharga dari Permata Aceh di Malaysia itu.

***

Rektor Universitas Islam Antarbangsa Malaysia (UIAM) Prof. Dato Sri Dr. Zaleha Kamaruddin, yang merupakan rektor wanita pertama sepanjang sejarah UIAM, pada acara wisuda yang ke-31, 7-9 November 2015, pernah menguraikan profil singkat kegemilangan karir Sanusi Junid.

Tan Sri Sanusi Junid dilahirkan pada 10 Juli 1943, di Kampung Aceh, Yan, Kedah, Malaysia. Tan Sri Sanusi Junid memulai karirnya sebagai banker di Chartered Bank pada usia 20 tahun, pernah juga menjadi anggota Parlemen selama 30 tahun.

Sanusi Junid juga pernah menjadi Menteri Kabinet selama lebih kurang 25 tahun dalam berbagai portfolio, seperti Kementerian Tanah dan Pembangunan Regional, Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Nasional dan Pembangunan Luar Bandar, Kementerian Pertanian dan Menteri Besar Kedah.

Di UIAM sendiri, Sanusi Junid pernah menjadi Presiden UIAM Keempat, mulai Februari 2000 sampai Juni 2008.

Selain itu, Sanusi Junid juga merupakan salah seorang pendiri Angkatan Belia Islam Malaysia (ABIM) pada tahun 1971 di mana beliau menjadi Wakil Presiden. Rumahnya malah menjadi kantor pusat ABIM pada awal pendiriannya.

Sanusi Junid juga pernah menjadi Presiden Persatuan Kelab Belia Malaysia (MAYC) selama 30 tahun. Jabatan sebagai Sekretaris Jenderal UMNO juga pernah diembannya tahun 1984-1988. Kemudian pada tahun 1990, Sanusi Junid menjadi Wakil Presiden UMNO.

Prestasi, sumbangan dan jasa-jasa dari Sanusi Junid itu telah mendapatkan berbagai penghargaan dari dalam dan luar negara. Di Malaysia, berbagai medali dan anugerah darjah kebesaran telah diberikan kepadanya. Atas jasa dan sumbangannya dalam bidang pertanian pula, Nanjing University, China pada tahun 1996 menganugerahkan Professor Honoris Causa kepada Tan Sri Sanusi Junid.

***

Pembacaan profil anak Aceh oleh Rektor UIAM itu dilakukan dalam rangka memberikan gelar Doktor Honoris Causa dalam bidang Manajemen kepada Tan Sri Sanusi Junid. Gelar ini diberikan langsung oleh Sultan Pahang, Sultan Ahmad Shah selaku Ketua Konstitusi UIAM. Hari itu, 5.470 mahasiswa diwisuda.

***

Acara wisuda itu menjadi momen yang sangat istimewa bagi mahasiswa dan masyarakat Aceh di Kuala Lumpur. Disamping bisa menyaksikan langsung Sang Permata Aceh, Sanusi Junid, pada hari itu juga ada 9 putera-puteri terbaik Aceh yang berhasil menyelesaikan program studi di berbagai bidang dan berbagai jenjang pendidikan.

***

Amalan Ayat oleh Presiden Korsel
Tan Sri Sanusi Junid dalam pidato penerimaan gelar Doktor Honoris Causa di UIAM secara ringkas memberikan beberapa kisah yang menarik untuk diteladani.

Kisah yang paling menarik adalah, bagaimana Park Chung Hee, Presiden Korea Selatan, yang hanya mengenal dan mengamalkan sepotong ayat al-Quran, yang dia lihat dalam Kamar Operasi Wakil Perdana Menteri Malaysia waktu itu, Tun Abdul Razak, dapat menstimulasi perkembangan Korea Selatan secara pesat.

Sanusi Junid berkisah. Presiden Park Chung Hee menjadi Presiden pada 17 Desember 1963. Setelah pelantikannya dia mengadakan kunjungan kerja ke Malaysia. Di dalam Kamar Operasi Kementerian Nasional dan Pembangunan Luar Bandar, di mana Menterinya adalah Tun Abdul Razak yang juga merupakan Wakil Perdana Menteri Malaysia. Waktu itu ekonomi Malaysia lebih maju daripada Korea Selatan.

Pada papan di dalam kamar tersebut ada sebuah kaligrafi bertuliskan ayat Al-Quran yang berbunyi: ‘Innallaha la yu ghairuma bi qaumin hatta yu ghairuma bi anfusihim’ (Q.13. Ar-Rad: 11) yang artinya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum sehinggalah kaum tersebut merubah nasibnya sendiri.

Bagi Park Chung Hee, kata Sunusi Junid, itu artinya berdikari yang menjadi inspirasi menggerakkan program pembaharuannya yang diberi nama Saemul Undong. Park Chung Hee tidak membaca dan memahami seluruh Al-Quran. Dia tahu hanya satu ayat. Tetapi berawal dari program ‘Saemul Undong’ itulah Korea Selatan telah maju dari negeri yang dulunya di belakang Malaysia dari segi pembangunan ekonomi kini berada jauh di depan Malaysia.

“Tentunya ini merupakan tantangan bagi kita umat Islam untuk tidak sekedar membaca dan menghafal Al-Quran tetapi bagaimana dapat mengimplementasikan dalam seluruh aspek kehidupan untuk meniti kejayaan dalam segala bidang,” tegas Sanusi Junid kala itu.

***

Tan Sri Sanusi Junid sendiri sekarang ini, di samping mengelola perusahaan keluarganya di bawah bendera perusahaan Seulawah Holdings Sdn Bhd, masih sering diundang untuk menjadi pembicara kunci di berbagai forum di Malaysia.

Melihat kepada rekam jejaknya yang panjang dalam dunia politik, manajemen dan pembangunan, tidak salah sekiranya Pemerintah Aceh, memiliki inisiatif untuk meminta pandangan dan nasihat dari beliau tentang hal-hal berkaitan dengan pembangunan di Aceh. Setidak-tidaknya bertanya kepada beliau apa kesilapan-kesilapan yang dilakukan oleh Malaysia dalam membangun negara mereka agar Aceh tidak mengulangi kesalahan yang sama.

***

Universitas Islam Antarabangsa Malaysia (UIAM), didirikan pada 20 Mei 1983 diilhami oleh Tun Dr. Mahathir Mohamad, Perdana Menteri Malaysia Keempat, saat ini memiliki 24,126 mahasiswa dari 115 negara. Sampai tahun 2015, UIAM mempunyai 75,696 alumni dalam berbagai jurusan baik program S1, S2 maupun S3, di mana 65,322 merupakan warganegara Malaysia dan sisanya 10,374 adalah alumni dari mancanegara. []

Laporan Fahmi M. Nasir, Mahasiswa Program Doktor Fakultas Hukum Universitas Islam Antarabangsa Malaysia (UIAM).