Masjid Raya Baiturrahman di Bugarkan, Masalah atau Solusi

Mesjid Raya Baiturrahman Banda Aceh

TEPAT pada tanggal 28 Juli 2015, Gubenur Aceh Zaini Abdullah meresmikan pengembangan dan pembugaran Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh yang menjadi Masjid Kebanggaan Orang Aceh ini. Dengan menghabiskan dana sekitar Rp 458 miliar yang diambil dari Anggaran dan Belanja Aceh (APBA), masjid ini akan dibangun seperti Masjid Nabawi dengan pemasangan 12 payung elektrik yang dipasang di perkarangan masjid, basement tempat parkir kenderaan roda 2 dan roda 4, tempat wudhu dan perbaikan beberapa interior bangunan. Akan tetapi apakah itu yang selama ini dibutuhkan oleh masyarakat Aceh?

Masjid Raya Baiturrahman yang berdiri megah dan penuh sejarah ini akan dibugarkan kembali, supaya terlihat lebih indah dan modern ujar Gubernur Aceh Zaini Abdullah, sebagaimana yang dikutip dari (Tempo.co 13/10/2015). Lantas apakah dengan pembugaran ini akan menambah makna dari kemegahan masjid itu sendiri? Kita tahu bahwa masjid ini penuh dengan sejarah, begitu juga dengan arsitekturnya. Jikalau dilakukan pembugaran dengan sentuhan gaya modern tentunya akan menghilangkan ciri khas dari masjid yang berusia hampir setengah abad ini.

Perkarangan halaman masjid yang ditumbuhi oleh rumput hijau, sebentar lagi akan berubah dengan lantai semen. Dan bahkan Pohon Kohler yang menjadi saksi berbagai peristiwa di Aceh, juga ikut ditumbangkan untuk melancarkan jalannya proyek ini. Biasanya pengunjung bisa duduk bersantai bersama keluarga di rerumputan, hal seperti itu tentunya tidak bisa dinikmati lagi karena suasananya akan berbeda jika duduk di atas lantai yang panas. Aceh yang memiliki iklim tropis basah tentunya tidak cocok jika lahan hijau ditutupi dengan keramik. Suhu di Aceh yang mencapai 36,6ÂșC akan membuat area Masjid terkesan tandus saat musim panas, dan saat musim hujan kemungkinan airnya akan tergenang karena penyerapan air tidak langsung ke tanah. Tentunya hal ini harus dipikirkan secara lebih mendalam, jangan sampai ingin mempercantik justru memperburuk keadaan masjid.

Pembangunan proyek yang menghabiskan dana hampir setengah triliun itu, tentunya harus dibarengi oleh riset yang mendalam, mengenai dampak jangka pendek dan jangka panjangnya. Jangan sampai setengah jalan pembangunan, atau sudah selesai dibangun tidak sesuai dengan fungsi. Seperti proyek terbengkalai di Aceh Singkil dalam pembangunan Gedung Sekolah Rintisan Bertaraf Internasional, proyek pengembangan benih ikan yang tak fungsional di Padang Tiji Sigli dan persengketaan pembangunan Islamic Center Aceh dengan pembangunan Meuligoe Wali Nanggroe di Aceh Besar (Laporan Eklusif Serambi, 23/02/2015).

Kebutuhan atau Keinginan?
Pembangunan fisik dalam sebuah proyek, merupakan salah satu cara menunjukkan eksistensi kepala daerah selama masa pemerintahannya. Karena pembangunan fisik dapat dilihat meskipun masa jabatan mereka sudah habis. Namun terkadang pembangunan fisik yang dilakukan bukan atas dasar kebutuhan rakyat, tapi untuk keinginan pejabat dan para elite pemerintahan atau hanya sekedar pencitraan, sehingga tidak jarang gagal dalam tahap implementasi.

Kita sangat mengapresiasi pemerintah yang ingin menjadikan Masjid Raya Baiturrahmah, sebagai pusat kegiatan Islam di Aceh dan Nusantara. Namun apakah dengan pembangunan dan pembaharuan masjid hal yang diinginkan itu bisa terujud? Cantik fisik bukanlah satu-satunya cara untuk menjadikan masjid sebagai pusat kegiatan Islam, untuk apa bangunan megah tapi kosong dari jamaah? untuk apa masjid indah namun hanya digunakan sebagai rutinitas ibadah?

Untuk menjadikan masjid sebagai pusat kegiatan Islam seperti pada masa kekhalifahan dulu, bukan hanya sekedar memperbaharui yang sudah ada, tapi lihat juga substansial yang membentuk masjid tersebut, terutama Sumber Daya Manusia (SDM)nya. Mungkin sampai saat ini kita masih melihat jejeran pengemis yang berada disekitar Masjid Raya. Mulai yang dari anak-anak, dewasa, orang tua, yang mempunyai cacat fisik dan berbagai jenis pengemis masih terdapat disekitaran masjid raya. Lantas bisakah ini disebut sebagai pusat kegiatan Islam, sedangkan rakyatnya masih melarat? Jangan sampai nanti setelah selesai dibangun, ini merupakan lahan baru bagi para pengemis Aceh untuk meminta belas kasihan dari wisatawan.

Penguatan SDM
Pengalokasian dana untuk pembaharuan Masjid Raya jangka pendek sebanyak Rp458 M, dan jangka panjang mencapai Rp1,4 triliun itu, mestinya bisa digunakan untuk penguatan SDM nya. Kegiatan Islam tidak akan berjalan tanpa adanya SDM yang mengerti tentang Islam itu secara kaffah(menyeluruh). Banyak sekarang terjadi perdebatan yang diperkarai oleh perbedaan cara pandang terhadap Islam itu sendiri, sehingga muncullah golongan-golongan yang menganggap pihaknya lebih benar dibandingkan yang lain. Kita tidak mengetahui jelas apa yang mendasari semua ini, apakah karena dangkalnya akhlak atau terlalu mendalamnya kajian sehingga terjadi kesalahpahaman.

Yang perlu dilakukan ialah menghidupkan kembali Syiar Islam di masjid seluruh gampong yang ada di Kota Banda Aceh, bukan hanya berpusat satu ke Masjid Raya saja. Ingatkah dulu saat masjid dan meunasah di gampong dipenuhi oleh kaum muda untuk belajar ilmu agama? majelis seperti itu haruslah dihidupkan kembali yaitu dengan cara sosialisasi ke masyarakat tentang syiar Islam itu sendiri. Memang sulit untuk membuat kegiatan Islam di masjid gampong, apalagi pemuda sekarang lebih suka berada di cafe, semua aktifitas dilakukan di cafe. Nah, kenapa tidak dijadikan masjid yang ada di gampong itu lebih bagus fasilitasnya dibandingkan cafe?

Kemudian untuk penguatan SDM itu dibutuhkan orang-orang yang seide dan sevisi, dan terbentuklah komunitas atau kelompok. Kalau dulunya dikenal dengan kelompok atau organisasi Islam, sekarang disebut sebagai komunitas sosial. Meskipun tidak mencantumkan nama Islam dibelakangnya, namun kegiatannya tidak lain untuk membantu sesama dan memberi manfaat untuk banyak orang. Apalagi sekarang para kaum muda lebih senang terlibat dalam aksi sosial sperti komunitas Griya Schizofren Aceh yang merupakan komunitas peduli kesehatan jiwa masyarakat, komunitas Turun Tangan Aceh yang peduli terhadap pendidikan anak, komunitas Sobat Budaya yang peduli terhadap budaya lokal dan banyak komunitas kepemudaan lainnya.

Jikalau pemerintah mampu merangkul komunintas-komunitas itu dan diperbaharui dengan Syiar Islam, ini tentunya akan menjadi sebuah kekuatan Islam terbesar di Aceh. Bukankan para pemuda adalah penerus bangsa? dan banyak sejarah yang menceritakan bagaimana keperkasaan pemuda seperti Sultan Usmani, Mahmet II (Muhammad Al-Fatih), pemuda 21 tahun yang menaklukkan kota Konstatinovel. Tentunya pelatihan tentang kepemudaan yang berorentasi Islam juga harus gencar dilakukan.

Tidak hanya itu, riset tentang kajian Islam juga harus dilakukan karena Aceh dulu adalah pusat kerajaan Islam Nusantara di bawah pemerintahan Sultan Iskandar Muda. Buku-buku terkait sejarah Islam perlu dibugarkan kembali, jika perlu dialokasikan dana khusus untuk percetakan buku, karena sumber ilmu itu ialah buku, bukan bangunan dan gedung mewah. Semoga saja pemerintahan Islam di Aceh kembali bangkit dan berkembang sebagaimana di masa lalu. []

KOMENTAR FACEBOOK