Editorial: Kartu Parnas Nan Panas

kartu parnas nan panas

Siapapun calon gubernur Aceh pasti butuh kartu politik dari partai nasional (parnas). Kebetulan, semua kartu itu ada di tangan pengurus pusat, khususnya di tangan ketua umum masing-masing parnas.

Bagi Muzakir Manaf, meski tidak membutuhkan kartu parnas untuk mengusung calon, tetap saja perlu untuk membuat kemenangan makin mudah diraih, setidaknya dari sisi membangun kekuatan mesin politik.

Bagi calon lain, seperti Tarmizi A Karim, Irwandi Yusuf, Zaini Abdullah, TM Nurlif, Ahmad Farhan Hamid, Zakaria Saman atau nama lain yang bila muncul, kartu parnas juga dibutuhkan. Ini artinya, kartu parnas sangat berharga. Jika salah satunya berhasil mendapat kartu parnas yang cukup maka dirinyalah yang bakal diusung oleh koalisi parnas.

Sebaliknya, bila yang lain mendapatkannya, meski tidak cukup maka lawan-lawan akan makin mudah dilemahkan, setidaknya dari sisi mesin politik partai.

Bahkan, oleh calon yang sudah mantap memilih jalur independenpun berkepentingan untuk mendapatkan kartu parnas, setidaknya membuat kartu parnas tidak menjadi milik siapa-siapa apalagi menjadi koalisi pengusung.

Maka, sangat wajar manakala kartu parnas berubah menjadi kartu panas. Ada yang yakin bisa mendapatkannya, dan ada juga yang terus berusaha untuk mendapatkannya, bahkan ada yang berusaha kartu parnas itu menjadi kartu panas yang semakin panas dan bila perlu sampai hangus terbakar.

Jadilah kartu parnas itu menjadi kartu yang mahal harganya, istimewa kedudukannya, dan tidak mudah untuk mendapatkannya, dan karena itu perlu usaha keras, cerdik, dan terkadang perlu ilmu khusus made in Aceh yaitu cakologi.

Beruntungnya, pihak parnas umumnya memiliki langgam yang hampir sama. Mereka selalu menyebut perlunya menyerap aspirasi dari tingkatan paling bawah guna penjaringan, lalu usulan-usulan yang ada di proses lewat mekanisme kajian, survey, dan ragam macam metode lainnya.

Dengan alasan itulah, pengurus pusat terus membidik siapa yang ingin didukungnya. Bahkan, dengan alasan itu juga pengurus parnas di daerah berpeluang untuk mengelola calon yang ada. Ada yang betul-betul mengikuti garis partai masing-masing dan ada pula yang menggunakan kesempatan yang ada untuk ragam kepentingan yang tidak mudah terdeteksi oleh mata publik, apalagi yang tidak melek politik.

Keadaan ini juga yang menarik minat pihak-pihak luar untuk mengambil keuntungan sebelum pemilu di mulai. Ada yang rajin mendorong calon, dan ada pula yang rajin menipu calon. Kartu parnas benar-benar menjadi kartu panas.

Bagi rakyat, inilah kesempatan memperhatikan gerak gerik semua kandidat, termasuk tim suksesnya, bahkan para makelar politik. Kumpulkan sebanyak mungkin informasi, telaah dan berbagilah dengan sesama.

Sepanas apapun kartu parnas, rakyatlah yang punya mandat. Kepada siapa mandat diberikan? Keputusannya ada pada kita semua selaku rakyat.

Sudah saatnya rakyat turun tangan, tidak sekedar berpangku tangan, apalagi dalam menentukan siapa pemimpin negerinya. Tidak boleh lepas tangan.

Sudah saatnya, rakyat memilih pemimpin berani, bukan hanya berani menang saja, tapi lebih utama berani memenangkan harapan rakyat Aceh!