Pantaskah Aku Disebut Guru?

Ilustrasi. Sumber foto: The Globe Journal.com

Mengapa saya disebut guru? Apakah karena mendidik anak orang, padahal diri ini pun sering tidak terdidik. Bagaimana mungkin saya jadi pendidik? Bila keseharian dipenuhi dengan cerita-cerita bergenre gosip, bak acara-acara TV perusak moral itu. Bahkan sering saat berkumpul di kantor, dimeja piket, dan di tempat tempat lain, aib saudara yang dibicarakan. “inikan kita bicara yang sebenarnya”, dalihku.

Saya tidak mampu lagi membedakan mana ghibah dan bukan. Seolah, mantra tenung gadis orang. Saban waktu mengulangnya agar “makbul”. Sehari tidak berkumpul untuk membicarakan “keunikan” saudara, serasa tidak lengkap. Ada yang berbeda jika sehari saja tidak “berkumpul”. Waktu istirahat adalah waktu yang sangat ampuh untuk  bercerita ria.

Bagaimana mungkin saya mendidik anak orang agar ikhlas, jika saya selalu berteriak kencang. Bahkan, di setiap kicauan kami di media sosial, tweeter dan facebook, tentang keterlambatan tunjangan ini itu. Protes keras akan saya lakukan. Bila perlu, akan melakukan penggalangan massa untuk meneriaki mereka yang menahan bea tunjangan .

Jika hal yang paling ekstrim saya berpikir. Mungkinkah saya akan mengajar anak disekolah, jika tidak digaji seperti ustad-ustad di dayah tempoe doeloe ? Mendidik di pagi hari, kemudian siangnya mencari nafkah, untuk menghidupi keluarga, mungkinkah itu?

Ah, itu bagai “mimpi pemimpi saat kampanye”. Bahkan, kegiatan-kegiatan di sekolah harus ada kompensasi, agar urat dan otot bekerja maksimal. Keikhlasan hanya milik siswa yang benar-benar harus ikhlas, saat hanya buku paket yang datang ke dalam kelas, menggantikanku yang tidak bisa masuk, karena ada urusan pribadi di luar. Siswa yang harus ikhlas menerima perlakuan ketika  kesalku berkelindan, padahal kekesalan ini adalah permasalahan di rumah tadi, mereka tidak tahu menahu dan tidak ada sangkut pautnya sedikitpun.

Saya, guru yang selalu mengajarkan kreatifitas pada anak didik. Tapi, acapkali diksiku selalu mempertanyakan kapan buku paket tiba. Kambing hitamkan kurikulum, salahkan dinas, kepala daerah dan siapapun yang bisa ku jadikan tumbal. Padahal wifi sekolah 24 jam, komputer sekolah menganggur, bahkan laptop kami pun tidak terpakai.

Saya mengajarkan mereka tentang arti kedisiplinan dan tanggung jawab. Mereka akan “dibina”, jika terlambat datang kesekolah. Saat mereka dibina, dengan leluasanya  langkah kuayun di depannya, padahal duluan siswa tersebut datang kesekolah.  Akan menindak keras jika ada tugas yang lalai dikerjakan. Walau terkadang, hanya paraf dan disertai sedikit tanggal sebagai bukti tugas itu sudah kuperiksa.

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), yang harus dibawa sebagai rujukan saat proses pembelajaran pun sering lupa. Mungkin, RPP sudah melekat di kepala, hingga tidak perlu dalam bentuk hard copy. Terkadang RPP menyusul setelah pembelajaran selesai. “Ah itukan hanya formalitas, proses di kelas kita yang tahu”sifat pengacaraku teriak.

Giliran datang tim penilai, baru rancangan belajar ku buat, atau cari jalan pintas di mbah google. Berlakulah rumus jalan pintas dianggap pantas. Apakah sesuai RPP dengan proses pembelajaran ?,  Jawabnya tergantung deal.

Aku mengajarkan mereka cinta kasih. Saat bersamaan, suara teriakan kami terdengar dari ujung ke ujung sekolah. Bahkan sesekali, umpatan pun melayang. Terkadang juga meja guru sering kujadikan drum untuk menenangkan siswa. Anak anak akan kami “takuti” dengan nilai yang buruk jika berani melawan kami. Cinta kasihkah kami?

Saya mengajarkan mereka kejujuran, menindak tegas siapapun yang tidak amanah. Bahkan, melebihi hakim dalam memutuskan perkara salah benar siswa. Terkadang, Penelitian Tindakan Kelas (PTK) adalah hasil sulap sulapan. Saat ujian akhir nasional ada jawaban jawaban yang bergentayangan.

Saat menyampaikan materi, terkadang kurang dalam penyampaian, hasil dari kurangnya belajar. Saya berpikir cukup dengan modal kuliah belasan tahun yang lalu, plus pelatihan- pelatihan atau pengalaman mengajar yang sudah “menjadikan” alumni alumni-menjadi “orang”. Jika ada yang mencoba memberi masukan apalagi mengkritik, maka akan ditampung, sekali dua kali, selebihnya akan kudebat dengan logika panjang hingga mulut mulut mereka bungkam.

Iman, ilmu dan amal adalah rangkaian yang tidak bisa dicerai beraikan. Pengetahuan tidak bisa melayang layang, dia harus aplikatif. mengajarkan ilmu, tetapi sering lupa pada sang pemilik ilmu. Kewajiban sering kami lalaikan bahkan sering kami lupakan. Pergi pagi pulang sore, malam dirumah, sabtu minggu berlibur. Masyarakat di sekeliling terus dikegelapan padahal ada obor ditengah tengah mereka, tapi obor mengunci diri dibalik tembok-tembok menjulang.

Dengan semuanya itu, layakkah saya ditiru dan digugu? Katanya,penerus bangsa terletak pada mereka-mereka yang sekarang berada dibangku sekolah. Sedang pengajarnya adalah SAYA. []

 

 

KOMENTAR FACEBOOK