Silang Sengkarut Mubes IMPIJA Semakin Jauh Mengalir

ACEHTREND,CO, Banda Aceh I Empat pengurus paguyuban kecamatan, masing-masing Meureudu, Ulim, Panteraja dan Meurah Dua menolak hasil mubes Ikatan Mahasiwa Pemuda Pelajar Pidie Jaya (IMPIJA) yang digelar sejak 20-21 di Hotel 88, Banda Aceh.

Ketua Forum Silaturahmi Mahasiswa dan  Pelajar Meurah Dua (Fosmada) Arman, mengatakan, dalam mubes tersebut terdapat sejumlah kejanggalan serta terkesan sarat kepentingan oleh pihak-pihak tertentu.

“Kejanggalan tersebut terlihat dari ketidaksesuaian jalannya mubes yang berlangsung sejak kemarin,”katanya di Banda Aceh, Selasa (23/2/2016).

Ditambahkan, kejanggalan lain terjadi pada saat pergantian peserta mubes dari Kecamatan Panteraja tanpa sepengetahuan pengurus paguyuban dari kecamatan tersebut. Dalam surat tersebut kecamatan, nama perwakilan Panteraja dicoret walaupun akhirnya ditulis kembali.

Dalam musyawah yang berlangsung alot tersebut beberapa ayat dari isi AD/ART diganti sebelum mubes dilaksanakan. Isi ayat tersebut  berisi masa periode kepengurusan selama dua tahun. Tapi diganti menjadi tiga tahun. Seperti ada unsur politik pada penambahan masa periode itu. Hal ini mengingat pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Pijay pada 2018.

Arman juga mengatakan, mubes itu juga banyak terjadi campur tangan pihak dewan presidium saat berlangsungnya mubes.

Arman menambahkan, suasana mubes sempat memanas. Sehingga terpaksa diskor. Sayangnya, ketika skor sidang dicabut tidak diberitahukan kepada kecamatan Meureudu, Meurah Dua, Panteraja, dan Ulim. Sehingga mubes hanya diikuti oleh empat kecamatan lainnya saja.

“Ketua Umum IMPIJA terpilih ditetapkan pada saat kuota forum mubes tidak terpenuhi. Tentu saja hal ini dianggap tidak sah. Keputusan pemilihan ini tanpa sepengetahuan empat kecamatan. Masa kita tahu kalau Ketua IMPIJA sudah terpilih melalui media. Bukan kita langsung yang hadir,”imbuhnya.

Sudah Sesuai Aturan

Ketua Panitia Mubes IMPIJA Rahmad Hidayat mengatakan bahwa kandidat kecamatan Meureudu, Meurah Dua, Ulim dan Panteraja memilih walk out dari ruang sidang karena pada saat voting terhadap perubahan masa jabatan.

“Jumlah kekuatan mereka tidak mungkin menang. Sehingga mereka memilih jalan walk out dan berusaha menggagalkan jalannya mubes, namun upaya mereka lagi-lagi gagal. Sehingga alternatif terakhir dari mereka adalah dengan cara membuat mosi tidak percaya ini,”tutur Rahmad.

Dia juga mengatakan, karena kuota forum mencukupi sesuai AD/ART yang telah ditetapkan, maka mubes dilanjutkan dan selesai sebagai mana mestinya dan terpilih seorang ketua umum yg baru,”imbuhnya.

Tambahnya, mengenai dengan tidak ada pemberitahuan pencabutan skor, menurutnya, panitia telah bernegosiasi dengan mereka untuk kembali mengikuti sidang lanjutan. Namun mereka tetap memilih walk out dan hanya meminta surat mandat dikembalikan. Tetapi, surat mandat tidak bisa di kembalikan lagi.

“Berkaitan adanya ikut campur tangan presidium mubes, hal ini sah-sah saja karena posisinya sebagai steering commitee. Di situ mereka memiliki peran karena suasana mubes tidak kondusif lagi,” katanya menutup pembicaraan.

Bantah Walk Out

Pernyatan Rahmat tentang walk out nya empat perwakilan kecamatan di atas, dibantah keras oleh perwakilan Kecamatan Ulim, Martunis. Di depan teman-temannya dari kecamatan lainnya membantah bila peserta dari Meureudu, Ulim, Panteraja dan Meurah Dua walk out saat sidang berlangsung. “Mereka keluar dari ruang sidang dikarenakan mubes sudah diskor,”tegasnya.

Pihaknya juga menolak voting terhadap perubahan AD/ART mengenai masa kepengurusan IMPIJA dari dua tahun menjadi tiga tahun. Ia mengkhawatirkan bahwa masa kepengurusan yang terlalu lama tidak bisa melahirkan generasi penerus IMPIJA selanjutnya.

Mantan Pengurus Ikut Bersuara

Terkait kisruh politik organisasi tingkat pemuda Pidie Jaya itu, membuat Khairul Akmal, S.IP ikut bersuara. Mantan pengurus IMPIJA periode sebelumnya, menilai apa yang dilakukan oleh panitia mubes merupakan bentuk pembohongan publik.

“Panitia pelaksana mubes, dalam hal ini Rahmat Hidayat telah melakukan pembohongan publik. Dengan mengatakan mubes berjalan  dengan tertib, aman dan lancar, dia telah membohongi semua pihak, termasuk masyarakat Pidie Jaya,” ujarnya.

Pernyataan Rahmat, tambah Khairul Akmal, sangat bertolak belakang dengan kejadian di arena mubes.

“Kemudian ketua panitia juga menyebutkan mubes dihadiri oleh berbagai  elemen perwakilan Pidie Jaya dan memilih saudara fikri sebagai ketua. Ini juga menjadi pertanyaan bagi saya pribadi elemen yang mana yang dimaksud oleh   ketua panitia.  Apa pengurus partai politik, pejabat, atau masyarakat pidie jaya?,”

Dia menambahkan, seharusnya ketua panitia menyebutkan elemen apa saja yang hadir pada saat pemilihan ketua IMPIJA. Juga sah atau tidak karena quorum yang tidak mencukupi.

“kapasitas saya hanya sekedar mengingatkan, bahwa IMPIJA adalah milik semua mahasiswa dan pemuda serta pelajar Pidie Jaya. Setiap warna harus dilibatkan. Jangan giring ke politik praktis. Ini rumah bagi kita semua, sebagai tempat belajar, termasuk belajar membangun jati diri yang berintegritas,“ imbuhnya. []