Cerpen: Dia

Sumber: www.gambarzoom.com

SENYUMNYA terus menempel di dinding-dinding bilik keropos ini. Sempurna merajai pikiran ringkihku. Dia telah kumiliki, dalam diksi dan mimpi yang tak bisa kuraba. Di alam nyata, sisi lain diri membisik lembut, terkesan mengejek :Engkau anak dayah yang hanya bermain dengan sarung usang dan kopiah lusuh. Engkau tidak mengerti mode, pakaian up to date apalagi trend hp terbaru. Kuliahmu pun hanya cilet cilet, didaerah lagi dan bla bla bla.

Dia memang gadis sempurna di unit kami, paras sekelas dara pajangan pemegang hp di Koran-Koran nanggroe, kepintarannya pun sudah teruji.

Balutan jilbab panjang jingga disertai dengan pakaian yang menutupi sempurna tubuh anak dayah itu menambah pesona tersendiri. Keteduhan tatapan sering kali mampu menghilangkan kegalauan saat dosen yang hobi dikte pelajaran beraksi. Kadang aku pun sering dimanjakan dengan pertanyaan pertanyaan yang menggigit tapi tetap keibuan. Juga pernah telinga ini menangkap suara yang amat merdu saat dia melafalkan syair Arab di ruangan yang masih kosong. Dengan suara lirih dan saat itu dia tidak tahu kalau aku sedang berdiri di balik jendela ruangan kuliah.

Awal tahun 2012 malapetaka datang, kami wisuda dan ini pertanda serius kalau pemandangan teduh akan segera berakhir. Saat wisuda masih sempat aku mencarinya hanya untuk meminta foto bersama. Dalam pekarangan yang tidak begitu luas, misiku gagal. Dia tidak terlihat, kemana dia? Inilah calon pendamping yang sangat layak dimiliki. Akan kusematkan melati putih dilingkaran jilbab panjangnya. Tapi Perasaan ini belum sempat kusampaikan.

***

Tiga tahun lebih waktu telah berjalan, ingatan itu kembali muncul. Apakah ini karena rasa sentuhan yang diakibatkan oleh seorang syaikh yang sedang membaca Alqur’an dis alah satu saluran tv yang konsen pada baca Quran? Ini rasa yang dimulai saat awal awal semester, tepatnya sembilan tahun yang lalu. Tahun kami disematkan gelar mahasiswa.

Setahun terakhir, Ibu yang sakit sakitan karena umurnya yang sudah kepala tujuh selalu menyindir dengan lagunya.

”Gam, kapan kau nikah, ibumu pingin nimang cucu,”

Pernah juga di lain waktu ibu mengemukakan secara lebih terbuka.

”Ibu hanya minta satu nak, bila saat nyawa masih di kandung badan ibu tidak bisa menimang cucu, paling tidak bisa memberkatimu saat di pelaminan,” katanya sambil terbatuk-batuk.
Kesehatan ibu menurun drastis minggu minggu terakhir. Sempat juga aku berpikir kalau ini ada hubungan sebab akibat dengan keinginannya yang tak kunjung aku kabulkan.

Beberapa kali paman dan tante disaat membesuk ibu merayu dengan beberapa foto gadis.

“Ini Gam, Qurratun yang diujung desa, anak Haji Amin, dia baru pulang dari Malaya, sudah selesai kuliahnya disana,” kata paman sambil memperlihatkan foto gadis idola gampong itu. Aku masih tetap seperti semula, membatu.

Desakan ibu tidak salah, sudah lama aku mengulur waktu. Selesai kuliah, ibu meminta langsung mencari pendamping hidup. Dengan beragam jurus yang kupunya, ibuku selalu kalah berdebat. Beliau mengalah.

Tahun kedua ibu mulai sakit sakitan, permintaan untuk segera melengkapi sebahagian agama semakin kencang. Tidak tanggung tangung, keinginanya pun mulai dibisiki pada pimpinan pesantren tempatku mengajar.

”Ustaz, sekarang santriwati kita seribu orang lebih,” kata pimpinan pesantren dengan lembut saat makan malam dirumahnya.
Aku tahu arahnya, pasti ini efek ibu datang ke pesantren tadi pagi.

“Ustazah kita yang ngajar yannah (logat daerah) dikelas 4d itu siapa,?” tanya abu.

Itu bukan pertanyaan karena tidak tahu, karena saya paham betul ke arah mana ujung pembahasan ini.

”Jika ada yang cocok dan sesuai dan dapat menguatkan ustaz dalam jihad ini, jangan sungkan beritahu Abu,” ucapnya berterus terang.

***

Ah, aku sudah seperti orang gila. Terlalu dalam rasa cinta ini kupendam. Gadis berkerudung besar yang ku kenal di kampus telah menyita seluruh konsentrasiku. Dia, telah mengkudeta semua harapan dan cinta. Sehingga selain namanya, tak ada tempat bagi hati yang lain.

Dia tidak salah. Dirinya tidak pernah mengetahui isi hatiku. Tak satu kalam pun sempat kuucapkan kepada dirinya tentang rasa yang kumiliki. Aku telah memberikan harapan yang tak pasti kepada diriku sendiri. Aku menyandera hati tanpa sang pemilik nama tahu apa yang kurasakan. Aku tersesat dalam belantara yang aku sendiri tidak mengetahui rupanya bagaimana.
Tentu pihak yang paling menderita adalah ibu. Perempuan yang telah melahirkan dan membesarkan diriku dengan penuh cinta itu, telah kubuat merana dengan sikapku yang serba tak pasti.

Berkali-kali aku mencoba melacak keberadaan sang gadis. Namun sampai kini tak pernah bersuara. Jiran sang gadis pun tak mengetahui lagi ke arah mana jalan yang dirinya tuju. Dia raib bak ditelan bumi.

“Oh habibah, ke mana aku harus mencari dirimu, aku ingin berterus terang pada dirimu. Aku tak bisa hidup tanpa engkau, wahai sang pujaan,” bisikku pada angin malam pada purnama lima belas.

Tahun ketiga ibu sudah tak lagi memberiku peluang. Beliau mengultimatum.

“Ini sudah memasuki tahun ketiga. Bila engkau masih menganggap perempuan tua ini sebagai ibu, bulan depan engkau sudah harus menikah. Titik!,” kata ibu. Final dan mengikat.

***
Hatiku luluh lantak. Seorang perempuan yang selama ini kucari, tanpa sengaja kami berpapasan di toko perlengkapan bayi. Dia sedang tawar menawar dengan pemilik toko terkait harga satu apket perlengkapan bayi. Kulihat dia hendak membeli satu paket peralatan bayi yang harga paling ekonomis.

Nyaris saja aku hendak menegur. Namun seorang lelaki telah memegang pergelangan tangan gadis itu. Mereka beranjak keluar dari toko. Si gadis sempat selintas menatapku. Dirinya sempat tersenyum. Aku yang kaku bagai batu, tak sempat membalas senyum itu.

Selera makan ku hilang. Jiwaku merana. Telah begitu lama harapan ku pupuk dalam sanubari, hari ini sirna begitu saja. Dia telah berkeluarga, begitulah aku menyimpulkan.

Tiga kali panggilan masuk di telepon genggam, kuabaikan begitu saja. Nomor itu pun menelpon untuk kali ke empat. Kutatap layar hp. Pemiliknya tidak terekam di alat komunikasi ku. Aku mengangkatnya dengan perasaan malas.

Glek!, suasana hatiku kembali bertambah kacau. Suara di sevberang telepon sangat kukenali. Ah, dia menelpon diriku. Ada apa?

“Maaf, tadi saya tidak sempat menyapa akhi. Sebab abang kandung saya buru-buru hendak pulang,” ucapnya.

Alhamdulillah. Aku lega. Namun belum begitu aman.

“Ukhti belum berkeluarga?,” tanyaku penuh selidik.

“Belum,” jawabnya singkat.

“Kenapa?,” tanyaku.

“Belum ada yang cocok?,” jawabnya manja.

Ah, hatiku kembali kecut. Apakah aku cocok dengannya?

“Mungkin ukhti terlalu pemilih?,” kataku.

“Tidak juga. Hanya saja seseorang itu belum pernah datang kepada saya. Saya merindukan dirinya. Saya mengharapkan dirinya,” katanya.

Aku terdiam beberapa saat. Aku kehabisan kalimat.

“Dari mana ukhti mendapatkan nomor saya?,” tanyaku mencoba mengalihkan pembicaraan.

“Dari Riefa, teman kita satu letting dulu,”

“Oh….,”

kami kemudian sama-sama diam. Hingga akhirnya dia dia bertanya.

“Akhi Agam sudah berkeluarga?,”

“Belum,” jawabku.

“kenapa?,”

“Aku kehilangan dia. Aku mencintainya terlalu dalam,w alau tak sempat rasa itu kuluahkan padanya. Karena dia terlalu cepat menghilang. Gadis itu telah menyita semua relung hatku hanya untuk memahat namanya.

Dia, jilbaber yang paham agama, santun berbicara, cerdas dan aktif dalam berbagai acara di kampus dulu, telah sukses membuat diriku jatuh cinta. Aku sempat kehilangan harapan, hingga akhirnya Allah memberikanku jalan. Walau pada pertemuan tersebut, aku sudah tidak yakin, akankah diriku mampu menaklukkan hatinya?,”

Dia terdiam beberapa saat. Aku pun demikian. Kami saling membisu.

“Bilakah aku boleh menebak, adakah gadis yang akhi Agam tunggu itu adalah aku? Maaf bila kali ini aku lancang. Bilakah benar, maka aku akan mengambil keputusan yang tepat malam ini,” ujarnya pelan. Suaranya agak berat.

Iya,”

“Alhamdulillah. Telah terlalu lama diriku memendam rasa tersebut. Akhi, segera lamar aku. Aku menunggu kehadiran keluargamu ke rumahku,” katanya. Kemudian dia pamit.

Bulan purnama genap lima belas malam ini. Aku bahagia. []

KOMENTAR FACEBOOK