Menjenguk Jeurat Nenek Moyang Orang Peudada

Mendoakan nenek moyang.

Jam 16.00 WIB petang Arhas Peudada rehat kerja. Dia mengajak Muhammad Faty (seorang anak Mabar, Peudada –yang pernah mencoba eksis ngeband di Bireuen bersama Darwis Micola– jalan-jalan sambil menikmati sunset pada Minggu (28/2/2016). Langkah ragu tanpa tuju itu mereka hentikan di Simpang Mawôt, Gampông Garôt, Peudada–masih dalam kawasan Bireuen–. Atas sebab pemandangan lhoëng (kalong) bergelantungan di atas sebuah bukit, di belakang rumah Tgk. Yusuf, penjaga makam Tgk. Meureuhôm Muda.

Mendoakan nenek moyang.
Mendoakan nenek moyang.

Kebetulan, sang Teungku tengah mengumpul dan lalu membakar sampah di bawah curam bukit. Bertanyalah si hitam manis yang berlakab Benzo Rain (muasal dari kata Bén Surén, sebutan nama jin dalam penamaan oleh orang Aceh) kepada Teungku jaga kubu (penjaga makam-red) usai memperkenalkan diri kembali –padahal mereka sudah pernah saling kenal, satu waktu dulu di Dayah Abu Kamaruzzaman, Nurul Islam–, “Ho rot tateungöh uë wateüh cöt nyan, Tgk?,” (Tolong tunjukkan pada kami jalan untuk ke kubur, tgk!)”.

“Ke arah sebelah kirimu, jalannya sudah saya bersihkan, naiklah. Nanti ketika turun singgahlah di rumah. Kita berbincang!,” Jawab Teungku mengakrabi.

Lebih kurang 10 menit, sampailah mereka di atas bukit itu. Jam di hapenya sekira jam 16 lebih setengah. Mereka memotret. Membersihkan makam dengan tanpa peralatan lengkap.

membersihakn jeurat indatu manusia Peudada.
membersihakn jeurat indatu manusia Peudada.

“Ini hanya permulaan, Nyak. Besok2 kita daki lagi. Memberitahu siapa yang mahu ikut. Dengan senjata lengkap,” tutur Arhas kepada Lelaki tampan di sampingnya. Lelaki tampan penurut yang suka mengoleksi potret2 itu hanya mengangguk. Mengiyakan.

Setengah jam mereka berdua di atas bukit. Membaca dua tiga patah do’a untuk ahli kubur, memotret, membersihkan sealakadar dan menancap kayu tanda, ‘bahwa mereka pernah ke sana’. Dan lalu turun.

Corong penebar suara di menara masjid Tgk. Meureuhôm Muda, Blang Kubu memutar kaset tilawatil Qur-an. Teungku Yusuf memanggil mereka untuk berbagi cerita sekian saat saja. Dan mereka berjanji, akan kembali lagi untuk berbicara dan sambil ‘jak rhah muka bak jeurat éndatu (menziarahi qubur moyang) orang Peudada tersebut.

Azan mengudara membuncah bicara. Mereka pamit, mengenderai motor butut ke Mesjid Baiturrahman kota kecil, Peudada.

Merenungi sebuah perjalanan.
Merenungi sebuah perjalanan.

Arhas kembali dengan kelegaan yang tak dapat ditafsir. Seperti kebiasaan, dituangkannya rasa bangga itu ke coretan2nya di page fb @Benzo Rain. Ini satu si antaranya:

“Menziarahi makam adalah setingginya pengabdian ke pada leluhur
Di sana kesusahan itu sirna
hanya tersisa ketenangan yang dahsyatnya tiada kata untuk di nukil
Aku, kamu mereka dan kita sama
Akan kembali ke hadhiratNya.”

Mabar City, Peudada
29 02 2016.
foto oleh: Muhammad Faty &Arhas Peudada.
Penulis Arhas Bén Surén di Peudada
fb: Arhas Peudada
page fb: Benzo Rain.

KOMENTAR FACEBOOK