Hutang Indonesia & Tukang Sunat

Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Jakarta

Membaca berita Waspada edisi 13/2/2016, hati saya bercampur riang dan sedih. Mengapa? Pemerintah Indonesia kembali menambah utang sebesar USS 120 juta atau senilai 1,6 triliun pada Asian Development Bank (ADB). Kekecewa penulis beranjak dari fakta bahwa dengan hasil bumi yang melimpah, tapi Indonesia tidak pernah dapat melunasi utang-utangnya kepada Negara lain, bank-bank international ataupun pihak ketiga.

Dalam kondisi kalut sedemikian rupa, rasa riang juga muncul karena penulis teringat pada sebuah lagu Rhoma Irama berjudul Gali Lobang Tutup Lobang (GLTL). Inilah perilaku yang sejak dahulu sampai sekarang dipraktikkan oleh Indonesia.

Memang harus diakui, sebuah Negara tidak akan bisa maju tanpa bantuan dari Negara lainnya. Baik bantuan itu dalam bentuk material maupun non material. Bahkan Negara-negara maju seperti Amerika, Jepang dan China maju disebabkan utang yang menggunung tinggi.

Namun harus diingat dan dipikirkan, sampai kapan Negara Indonesia terbebas dari lilitan utang? Bukankah pada tahun 2014 utang Indonesia sebesar USS 740 juta? Akankah Indonesia sanggup melunasi utang-utang yang ada? Indonesia jangan sempat senasib dengan Yunani yang tidak sanggup melunasi utang yang bertumpuk?

Terkadang tidak salah dan tidak mengurangi rasa hormat, jika Indonesia melirik Negara tetangga yang tidak mempunyai utang sebanyak itu kepada Negara lain. Seperti Brunei Daruusalam misalnya. Negara mantan jajahan Inggris yang merdeka pada 1 Januari 1984 ini, nyaris tidak ada berita tentang penduduknya tidak sejahtera, tidak aman, sering konflik dan sebagainya. Malah sebaliknya, rakyat Brunei Darussalam sangat sejahtera, aman dan damai. Cocok rasanya jika Negara ini berfilosofi sebagai berikut, “biar miskin asal sejahtera, kaya tapi dililit utang”.

Termakan budi

Dalam kehidupan sehari-hari, yang namanya termakan budi selalu coba dielakkan dan tidak sukai oleh banyak orang. Sebab, dengan termakan budi tersebut, diri kita tidak akan berharga lagi sebagaimana biasanya. Kita akan dianggap remeh dan kecil oleh kawan-kawan, mereka seenaknya menyuruh kita. Begitu juga dengan kehidupan bernegara, setiap Negara sudah tentu mempunyai utang pada Negara-negara yang memberikan pinjaman. Namun jumlahnya berbeda-beda tergantung permintaan peminjam/pengutang dan jumlah yang disepakati.

Dalam hal ini, kini Indonesia telah dililit hutang, belum lunas lagi, Indonesia kembali mengambil pinjaman dengan alasan agar dapat mempersiapkan dana untuk proyek yang belum.Dengan demikian, pinjaman itu sebagai cadangan jika modal yang ada sebelumnya tidak dapat mencukupinya.

Jika peminjaman modal besar bagi Negara lain dapat mensejahterkan rakyat Indonesia, penulis dapat menjamin bahwa masyarakat akan senang pada pemerintahan Indonesia. Tapi justru faktanya malah berbalik. utang Indonesia kepada Negara lain bertambah besar, tapi hasilnya tidak nampak.

Dari tahun ke tahun utang Indonesia tak berkurang, malah bertambah. Bukankah semakin besar nilai pinjaman akan lebih menjamin kesejahteraan rakyat? Tapi kenapa Indonesia tidak bisa demikian.

Amerika, Jepang dan China adalah Negara yang terbanyak utangnya, makanya ketiga Negara tersebut maju. Sedangkan Indonesia, majupun tidak sejahtera apalagi.

Terkadang penulis berandai begini “Andaikan Indonesia tidak menambah utang selama 10 tahun, saya rasa belum sampai sebegitu lamanya utang Indonesia sudah lunas dibayar dari hasil buminya, pajak dan lain sebagainya. Biarlah rakyatnya menderita 10 tahun asal kedepannya dapat sejahtera, dibanding utang menumpuk, rakyat menderita.

Banyak tukang sunat

Dibandingkan dengan negara jiran, Perkembangan Indonesia jauh ketinggalan. Padahal jika dilihat dari segi umur, Indonesia Negara tertua dari Malaysia dan Singapura. Namun, sampai pada saat sekarang ini, posisi Indonesia seperti jalan di tempat saja.

Terkadang terbesit dalam pikiran penulis, apakah Indonesia tidak maju-maju disebabkan banyaknya tukang sunat?

Jika betul demikian, cocok rasanya mengambil pelajaran dari sebuah film bollywood yang ditayang pada Mei 2015 dengan judul “Gabbar Is Back” yang diaktori oleh Akshay Kumar. Permulaan film tersebut, menjelaskan mengenai Gabbar serta tujuannya. Potongan-potongan cerita tersebut, membawa penonton pada sosok Gabbar yang misterius, tanpa kompromi, dan membenci koruptor. Dari awal hingga pertengahan cerita, penonton belum mengetahui latar belakang mengapa Gabbar dan rekan-rekannya seperti Anonymous amat membenci koruptor, meskipun premis-premis sederhana dimunculkan Radha Krishna selaku sutradara.

Di pertengahan cerita, penonton, diberitahu mengapa Gabbar melakukan hal yang demikian tidak lazimnya. Ternyata kebenciannya pada koruptor berhubungan dengan masalah keluarganya yang meninggal secara tragis akibat ulah seorang pebisnis besar bernama Digivijay Patil.

Koneksinya pada pejabat pemerintahan dan kepolisian membuat ia dengan sangat leluasa menjalankan praktik haram dalam bisnisnya. Konflik puncaknya tentu saja dapat ditebak, yaitu pembalasan dendam Gabbar pada Patil yang berakhir pada kematian pebisnis tersebut.

Dari sedikit penjelasan mengenai film “Gabbar Is Back” di atas, paling tidak ada 3 poin yang diambil, Pertama: menculik para pejabat-pejabat pemerintahan yang terdaftar sebagai pelaku koruptor, bahkan tidak segan membunuhnya.

Kedua: Gabbar tidak memeras dan merampok harta masyarakat.

Ketiga: setelah semua rencananya berhasil dijalankan, Gabbar menyerahkan diri kepada Polisi, karena ia tau bahwa pembunuhan adalah melanggar hukum, walaupun dimata masyarakat dia bagaikan sosok pahlawan yang telah memperjuangkan serta merubah anomali sosial pada saat itu (orang jujur sangat jarang ditemukan, orang jujur dianggap menyimpang dari mayoritas).

Akhir dari tulisan kecil ini, deskripsi di atas memang hanyalah sebatas rekaan belaka. Tapi sangat mengandung makna yang luar biasa. Sebab, hukum di India dalam cerita itu, sudah membalikkan antara hak dan batil, batil dianggap hak dan hak dianggap batil. Sangat dimungkinkan di Indonesia juga demikian.

Andaikan hukuman mati diterapkan bagi koruptor kelas kakap di Indonesia, penulis yakin akan berdampak positif untuk perkembangan Indonesia ke depan.

KOMENTAR FACEBOOK