Sagu Versus Sawit di Lahan Gambut

Pohon Rumbia/Sagu

DUA bulan setelah Perpres No. 1 tahun 2016 tentang BRG (Badan Restorasi Gambut) ditanda tangani Presiden, BRG kemudian melengkapi susunan organisasi dengan melantik 5 deputi untuk mempercepat tercapainya target. Menurut pemberitaan media, BRG sekarang sedang menyusun rencana strategis turunan dari Perpres ini. Meyambung dua tulisan sebelumnya tentang gambut yang telah dimuat di www.acehtrend.co, tulisan ketiga ini bermasuksud memberikan masukan kepada kepala BRG dan tim nya yang sedang membuat restra untuk mempertimbangkan salah satu opsi yang dapat digunakan dalam rangka restorasi 2 juta ha gambut ini. Keseriusan presiden untuk persoalan ini sangat tinggi mengingat pengalaman tahun 2015 dimana republik ini dipermalukan dengan besarnya kebakaran hutan yang melanda di Sumatra, Kalimantan dan Papua. Sebuah situasi yang kemudian mendorong Presiden memberi target bahwa di tahun 2016, seluas 600 ribu ha lahan gambut harus direstorasi dengan tujuan mereduksi potensi kebakaran secara signifikan.

Pertanyaanya kemudian apakah mungkin ini dilakukan? Mengingat secara kelembagaan BRG masih sangat baru, pemetaan dan inventarisasi detail lokasi belum sepenuhnya dimiliki, anggraran di pemerintahan harus mengikuti system pengangaran dalam APBN, penyiapan sumberdaya manusia dan banyak persoalan lain, namun pada saat yang sama 2016 hanya bersisa sembilan bulan lagi, lalu harus dari mana memulai dengan merujuk pada Perpres. Tentu saja kata kunci yang sering diulang adalah rewetting (pembasahan kembali) lahan yang sudah terbakar.

Kata kunci inlah yang perlu ditelaah lebih jauh secara ilmiah, apakah akan sangat mudah melakukan rewetting? Konsep sedang popular dibicarakan adalah rewetting dengan membendung kanal yang akan menaikkan permukaan air dan membasahi lahan gambut. Menurut penulis apakah mungkin bendungan kanal itu akan mampu bertahan tanpa kontruksi biologis fraksi gambut dan akar tanaman hidup? Bagaimana kalau terjadi hujan lebat, atau banjir kiriman, tanpa fraksi alamiah gambut hampir bisa dipastikan kanal tidak akan mampu menahan air dalam jumlah yang besar. Lalu apakah mungkin menggunakan konstruksi dengan menggunakan alat berat? Kalau dipaksakan mungkin bisa saja dilakukan namun perlu dipertimbangkan kesulitan mobilisasi dan biaya yang besar, selain kontruksi berbahan semen juga akan hancur di destruksi oleh asam organic gambut.

Secara konsep dan metodologi rewetting konvensional terkesan sangat sederhana dimana proses dimulai dengan membendung kanal, memasukkan air, menggundukkan tanah, menanaman kembali vegetasi alami hingga menunggu vegetasi tumbuh kembali. Namun bagaimana dengan tingkat keberhasilannya, dalam banyak literatur yang penulis baca, kesuksesan metodologi konvensional ini belum ada yang berhasil dalam skala luas. Meski secara kasuistik ditemukan keberhasilannya. Lalu diskursus kontroversi nilai ekonomi lahan gambut terus bermunculan, para pelaku perkebunan khususnya sawit dan para pelaku HTI, menganggap tanaman sawit dan HTI memiliki nilai ekonomi paling tinggi. Mereka melupakan aspek lingkungan, gambut kering mudah terbakar dan tanaman kering yang tumbuh dilahan gambut biasanya rakus air. Sehingga terjadi devisit air, ini terbukti dilahan lahan sekitar perkebunan sawit di Riau, Jambi, dan Kalimantan mulai kesulitan air. Selain muncul persoalan social dan budaya di masyarakat sekitar lahan

Alih fungsi lahan gambut dengan pengeringan akan mendorong bermunculannya masalah baru; kebakaran, defisit air, dan penguapan CO2 akibat oksidasi gambut. Lalu pertanyaan kuncinya adalah apakah ada yang lebih baik dari sawit dan HTI yang cocok untuk lahan gambut yang basah? Jawabnya ada, yaitu Sagu alias Rumbia. Sagu atau Rumbia adalah tanaman yang suka air dan dapat mendeposit air banyak sekali. Secara kasat mata terlihat beberapa lokasi di Sumatra yang masih ada rumpun rumbia dalam jumlah kecil, airnya masih dapat dimanfaatkan masyarakat untuk mandi, mencuci dan menyiram tanaman seperti sayuran. Air rawa yang ditumbuhi rumbia jernih meski agak sedikit coklat namun rasanya segar dibuat mandi.

Rumbia tumbuh sangat bagus dilahan gambut dan berkembang sangat cepat, apalagi dengan klon yang unggul. Tanaman ini tidak membutuhkan perlakuan khusus seperti penggundukan tanah untuk replanting (penanaman kembali). Hanya dengan pola penanaman sederhana, rumbia akan begitu mudah tumbuh dilahan gambut. Lalu bagaimana dengan nilai ekonominya dalam konteks restorasi lahan gambut, apakah akan sanggup menyaingi ekonomi sawit dan HTI?

Mari kita berkalkulasi, nilai ekonomi sawit per ha pertahun jika produktifitasnya 20 ton perha dengan harga TBS (Tandan Buah Segar) Rp. 1.000,- total adalah Rp. 20 juta/ha/tahun. HTI dengan produktifitas 420 m³ dalam kurun waktu 12 tahun, tiap tahun dapat kayu gambut tidak lebih dari 35 m³, kalau harga ditempat Rp. 2 juta/m³, total pertahun Rp. 70 juta/ha. Berbeda dengan sagu atau rumbia, selain nilai ekonomi, punya nilai ekologis, makanan untuk ketahanan pangan dan juga dapat menjadi energi terbarukan dengan biaya murah.

Mari kita uraikan satu persatu. Sagu dalam setiap ha pertahun dapat menghasilkan biomass sagu sebanyak 200 ton, dengan rendemen sagu 22 %, atau setara 44 ton/ha/tahun. Jika harga sagu Rp. 5.000/kg, total nilai ekonomi sagu perha Rp. 220 juta. Jika luas lahan gambut 2 juta ha, maka sagu yang dihasilkan 88 juta ton, dengan nilai ekonomi total Rp. 440 triliun. Sementara satu ha sawit hanya menghasilkan Rp. 20 juta/ha/tahun dan HTI hanya 70 juta/ha/tahun. Jika ditotalkan nilai ekonomi sawit untuk lahan 2 juta ha sebanyak Rp. 40 triliun dan nilai ekonomi HTI sebesar Rp. 140 triliun.

Nilai tambah lain secara ekologis dari sagu adalah kemampunya menyimpan air. Sagu dapat menyimpan air dan mendistribusikannya tidak kurang dari 15.000 m³ perha/tahun. Air ini dapat dipakai untuk tanaman produktif dikawasan daerah lingkar gambut. Nilai ekonomi air perha/tahun, kalau kita konversi jadi tanaman produktif setara dengan 75 ton biomass, kalau harga per Kg adalah Rp. 5.000,-, maka nilai ekologis air adalah Rp. 375 juta/ha. Deposit air sagu 2 juta ha, nilainya setara Rp. 750 Trilyun/tahun.
Kemudian berapa nilai sosial ekonomi masyarakat? Prosessing sagu bersifat padat karya disekitar lahan gambut. Tiap ha dapat menghidupi 4 KK, sehingga 2 juta ha dapat menghidupi 8 juta KK, limbah kembali ke lahan gambut, Zero Waste, (tanpa sisa sampah) dan tidak menimbulkan pencemaran.

Lebih lanjut, sebagian limbah dipakai untuk peternakan dan perikanan kawasan lingkar gambut. Potensi pengembangan mata pencaharian masyarakat tambahan sangan tinggi seperti perikanan ikan gabus, peternakan bebek dan enthok dan juga ruminansia (heman memamah biak). Rumput lahan basah seperti Sulanjana, jauh lebih berkwalitas dari rumput gajah, jadi dapat dibuat kawasan peternakan skala besar berkapasitas 1,2 juta ekor sapi didaerah lingkar gambut. Ini akan menambah stok sapi nasional dalam rangka Swasembada sapi seperti mimpi Bapak Presiden.

Sagu dapat di upgrading untuk menggantikan sebagian fungsi terigu, jadi kita dapat mengurangi impor gandum atau terigu sampai 50%, atau tidak kurang dari 5 juta ton pertahun. Produk lain yang dapat di subtitusi adalah gula tebu import, gula tebu kita tidak kurang dari 1 juta ton/tahun. Produk turunan sagu salah satunya dalah gula rendah kalori HFS (High Fructose Syrup) kita dapat berhenti import gula tebu.

Terakhir, mimpi Bapak Presiden adalah energi terbarukan, ternyata tiap ha sagu, dapat menghasilkan bio etanol sekitar 30.000 liter/tahun, jadi 2 juta ha sagu dapat menghasilkan 60 juta kilo liter bio etanol pertahun. Inilah kalkulasi ekonomi, ekologi dan sosial dari tanaman sagu yang sangat jauh berbeda dengan tanaman sawit dan HTI, BRG sedang dalam proses menyusun rencana strategisnya, pilihannya tinggal kemauan saja. Kalau ini terlaksana maka terwujudlah sudah semua mimpi Bapak presiden. Maka motto “kerja – kerja – kerja” tidak hanya tinggal dalam kertas dokumen pemerintah.[]

KOMENTAR FACEBOOK