Meuseuraya ke Pusara Teungku Meureuhom Muda

ACEHTREND.CO, Bireuen- Rabu petang, 02 Maret 2016 Teungku Yusuf simpang mawöt (khadam jeurat Tgk. Meureuhôm Muda) mendatangi tempat Arhas Peudada sehari-mangkir, kedai kopi Peudada untuk berdiskusi tentang meuseuraya (membersihkan dan memugar dengan cara mengangkat nisan yang ditutupi tanah dan mencangkul tanah untuk mengangkat nisan jeurat) besok pagi.

Kamis pagi, sekira jam 09:00 pagi Arhas mengumpulkan tiga anak muda Peudada, Ismail bin Sufyan (gurèë beüt Dayah Nurul Islam Peudada, Hendri Saputra (penjaga Masjid Baitun Nur kota Peudada) dan Muhammad Faty (mantan bassis band di Bireuen, Fake Smile Band) dan membawa serta peralatan kerja menggali mengunjungi jeurat teungku di simpang mawöt, garôt Peudada.

Sesampai di sana mereka berempat disambut langsung oleh Tgk khadam jeurat dengan sarapan kopi pagi sekian jenak sebelum menaiki tebing bukit yang curam itu.

Jam di hape tet-tet dalam saku celana jingkrak Arhas berada di angka sembilan setengah, sampailah mereka berlima di atas bukit yang pohon tuanya banyak dihuni oleh kalong tersebut dengan nafas terengah-engah. Tanpa ada yang memerintah, mereka langsung mengambil peralatan kerja satu tiap seorang. Arhas memegang ‘lham lipéh’. Cek Ih (Ismail) dan Hendri memegang dua cangkul, Tgk Sôp (Yusuf) memegang parang dan M Faty memakai tangan kosong sekaligus pemotret kami. Sekali-kali tugas kami tukar-gilir bergantian.

“Nyang karab habéh nafah, piyôh ilèë, gantoë but ureuëng laén. (Yang sudah penat, rehat dulu, biar yang lain mengganti posisi)”, ujar Tkk Sôp sambil berkelakar.

Sontak semua tertawa. Kelakar khas beliau adalah semangat kami. Begitulah cara orang ‘tuha-tuhoë’ ini menyemangati kami. Tanpa pernah mengatur-atur. Sama sekali tiada mengangkat telunjuk, memerintah.

Padahal kami menanti kalimat suruh dari beliau. Sungguh, ikatan kekeluargaan yang tampil. Pada hal kami tiada hubungan darah sama sekali. Juga terhadap orang di dalam kuburan tersebut.

“Kita adalah bala tentara yang lama terkatung-katung di laut luas
terombang-ambing di dalam perahu lintas zaman lalu terkapar di pepasir mulut laut, kuala Peudada”, seru Arhas Peudada ke pada mereka, membacakan senikata yang ditulisnya di sela-sela rehat.

Azan dhuhur berkumandang dari corong Masjid Teungku Meureuhôm Muda, Blang Kubu Peudada (sekira 300-an meter ke timur-utara dari jeurat). Semua nisan telah indah dipandang mata. Meuseuraya usai. Mereka turun dari bukit. Ke rumah Tgk Yusuf. Untuk melihat buku dan tulisan tentang jeurat Teungku di Aceh (makam orang-orang yang hidup di masa kerajaan) Sambil mendengar cerita dari mulut orang yang rambutnya ditutupi uban. Beliau juga sumber yang bisa dipercaya tentang kisah lama di Peudada ini.

Mereka berempat pun pamit. Menaiki dua motor. Senyum kelegaan terpatri di sudut wajah mereka. Ada binar-binar kepuasan terpancar di sana. Biarlah Sang Penunjuk sahaja yang membalas ketulusannya. Telah dikatakan oleh orang yang berkata ke pada si Bén Surén, bahwa “kamu itu orang gila, yang mendulang celaka di jeurat yang pantang untuk dijamah”.

“Benar. Dan aku hanya terlambat gila. Bahkan ada yang lebih gila lagi sebelumku. Dan aku membutuhkan beberapa orang yang sama gila lainnya untuk melakukan kerja-kerja gila”, tutupnya.

Mabar, Peudada, Acéh, 05 maret 2016.

KOMENTAR FACEBOOK