Pintu

AKU memahat sendiri pintu rumahku ini. Bahannya terbuat dari meranti kaca. Kayu pilihan. Aku menebangnya sendiri di atas bukit nun saat aku masih remaja. Saat itu harga kayu meranti sedang melambung tinggi. Perbatangnya bahkan bisa mencapai harga jutaan. Beruntung sebelum meninggal ayah mewariskanku sepetak tanah di bukit Nun. Dan disana terdapat sebatang pohon meranti kaca yang kemudian hari bisa aku gunakan untuk membuat pintu.

Meranti kaca bukanlah sembarang kayu. Seingatku, begitulah dulu kata ayah. Meranti kaca punya permukaan yang halus, jika gosok pakai abu konon bisa mengkilap seperti cermin. Tetapi jangan beranggapan kayu itu akan serapuh cermin. Tidak! Meranti kaca tidaklah serapuh itu. Sebab meranti kaca sangatlah kokoh dan kuat. Saking kuatnya jika kita menghantam paku pada permukaannya, maka paku tersebut akan bengkok jika kita hanya memakai paku biasa.

Butuh waktu berbulan-bulan aku memahat pintu rumah ini. Entah berapa kali mata pahatku tumpul dan patah. Tak jarang aku menggurutu sendiri. Kayu sialan! Pikirku. Namun, setiap aku merasa bosan dan ingin menggantinya dengan kayu yang lain. Pesan ayah selalu terngiang-ngiang di kepalaku.

“Bujang, jika kelak engkau punya rumah, maka untuk daun pintu gunakanlah kayu meranti kaca. Dan ayah akan sangat senang tinggal bersamamu.” kata ayah sebelum kepergiannya bertahun silam.
Aku memang tak mengerti benar maksud ayah menyuruhku demikian. Bagiku semua kayu itu sama saja. Sebagus apapun tetap hanya sepotong kayu. Terlebih jika hanya untuk membuat sebuah pintu. Namun, mendengar beliau berkata akan senang tinggal bersamaku. Tentu aku merasa sangat bersemangat mewujudkan pintu harapannya.

Tahun berlalu, kini telah genap dua puluh tujuh tahun usiaku. Dan ditahun yang ganjil ini tak sengaja aku bertemu dengan seorang gadis di kota bandar. Gadis itu sangatlah teramat cantik. Namanya Dinda. Kami bertemu didekat gerbang kampus Ar-raniry kala itu. Dia kuliah disana. Dan saat itu aku sedang bekerja pada salah satu perusahaan swasta dibagian operator mesin.

Sekian lama bertaut kasih, tepat pada saat setelah ia menyelesaikan kuliah kami pun melanjutkan hubungan itu kejenjang pernikahan. Aku sungguh bahagia kala itu. Sebab sedari kecil aku memang nyaris tak pernah mendapatkan kasih sayang seorang wanita. Sebab ibu terlalu cepat pergi. Dan sejak saat itu aku hanya tinggal berdua dengan ayah. Tapi ayah pun telah tiada. Betapa ingin aku menunjukan padanya betapa cantiknya istriku kini.

Setelah menikah, aku membawa Dinda pulang ke rumah. Dan saat itu adalah pertama kali aku membawa seseorang melewati pintu ini. Aku merasakan sebuah getaran hebat. Ayah! Mungkinkah beliau juga merasakan senang seperti yang sedang kurasakan? Batinku.

Hari-hari rasanya berlalu begitu cepat. Tak terasa sudah dua tahun aku dan Dinda lalu lalang melewati pintu ini. Keluarga kecilku ini sangatlah bahagia. Meski dengan penghasilanku yang tidak seberapa, namun kami selalu merasa senang meski hidup sederhana. Dan untuk beberapa saat itu aku merasakan hidupku bagaikan mimpi yang berubah menjadi kenyataan.

Tetapi, semua itu tidaklah bertahan lama. Sebab hari-hari selanjutnya yang berlalu dalam hidupku berubah bagaikan di neraka. Hidupku yang mulanya indah kini berubah menjadi pahit yang tak pernah aku bayangkan. Semua itu terjadi dalam sekejap. Bahkan rasanya belum sempat mataku terpejam.

Saat itu aku sedang dalam perjalanan pulang dari tempatku bekerja. Tiba-tiba sebuah truck besar pengangkut barang menabrak motorku dari belakang. Aku terpelanting hingga berpuluh-puluh meter ke dalam jurang. Setelah itu aku tak ingat apapun lagi. Dan saat terbangun aku sudah berada dirumah sakit. Dengan tangan dan kakiku yang di gips serta Dinda yang menangis disampingku. Aku menderita patah tulang, dan tangan sebelah kananku sudah tak bisa untuk digunakan.

**
RIBUAN rasa sesak bergelanyut dihatiku saat melihat Dinda berjalan melewati pintu meranti kaca. Ia berlalu dengan isak tangis yang kian tak terbendung. Perlahan, aku mencoba dorong kursi pesakitan ini dengan tangan kiriku agar mendekati pintu. Dan masih kudapati dia berdiri terpaku di sana, dengan sebuah tas yang besar dan berisi penuh baju-bajunya.

“Maafkan aku, Bang. Aku terpaksa melakukan ini.” lirih Dinda dengan isak tangis yang semakin dalam.

Sesungguhnya, hatiku benar-benar hancur kala itu. Andai saja bisa aku sungguh tak ingin Dinda pergi dari rumah ini. Tetapi, aku pun tak sanggup jika harus melihat dia menderita. Apa lagi menanggung beban yang tak seharusnya berada dipundaknya. Dengan kondisiku yang seperti sekarang. Kupikir cukup logis kedua orang tuanya menyuruhnya pulang.

“Pergilah dek! Diluar sana, ada masa depan yang lebih baik sedang menunggumu,” jawabku dengan senyum yang sedikit kupaksakan.

Aku sangat mengerti rasa yang sedang berkecamuk di dalam hati Dinda. Sebenarnya dia pun sangat ingin menjadi istri yang baik. Tetapi, melihatnya menderita juga bukan hal yang baik untukku. Barangkali ini memang ini jalan Tuhan. Jodoh itu belum tentu yang sudah terikat pernikahan.

Angin senja berdesir menerpa wajahku. Mengirim sejumlah keheningan ke dalam lubuk. Semacam hendak mengingatkan, bahwa sudah berapa tahun telah lewat dan berlalu meloncati lamunanku dipintu ini. Sejak kepergiannya hari itu. Kini, hampir saban sore kuhabiskan waktu di depan pintu meranti kaca ini. Kadang guratan senja menyeruak masuk melewati celah dedaun jambu lalu membiasnya. Persis seperti segala hal yang aku mengerti dan tidaknya pada pesan ayah tentang pintu meranti kaca. Yang kutahu ayah pernah melewati ini saat kepergian ibu setelah melahirkanku. Dan untuk itu beliau ingin aku untuk tetap tegar, keras seperti meranti kaca. Lalu bercermin terhadap segala peristiwa.

Tetapi, apakah kelak aku boleh satu pintu denganmu, Yah..?

Abdya, 05 Maret 2016. Erfendra.