Surya Saweu Gampong: Paloh, Aneuk Aceh di Sarang Preman Medan

ACEHTREND.CO, Banda Aceh – Surya Paloh tidaklah muda lagi. Tiga bulan lagi, tepatnya 16 Juli 2016, usianya genap 65 tahun.

Tapi, jangan tanya soal semangatnya, apalagi saat berpidato. Penuh semangat, berapi-api. Pantas jika ada yang menyebut dirinya sebagai Soekarnois.

Surya Dharma bin Muhammad Daud Paloh yang lahir di Kutaraja, Banda Aceh tahun 1951 ini memang dikenal sebagai Soekarnois. Visi kebangsaannya yang pluralis memang mencerminkan cara pandang Presiden RI Pertama, Soekarno.

Sayangnya, pikiran-pikiran Soekarnoisnya kala itu tidak bisa dipraktekkan karena rezim Orde Baru sangat ketat. Bahkan, akhirnya Paloh ikut tersedot dalam arus pusaran mesin politik Orba, yaitu Golkar. Terbukti, untuk membangun bisnis medianya,  Paloh akhirnya memilih bernegosiasi dengan Bambang Triatmodjo, salah satu anak Soeharto. Paloh sendiri pernah empat dekade bersama Golkar.

Dan, kasus ini pula yang membuat Surya Paloh “berpisah” dengan rekan dekatnya Panda Nababan. Kedua mereka ini adalah dua tokoh media yang pernah melewati masa muda yang keras di Medan. Keduanya dikenal sebagai preman medan.

Setidaknya, kenyataan masa keras yang mereka lalui itu tercatat dalam buku Panda Nababan berjudul “Menembus Fakta, Otobiografi 30 Tahun Seorang Wartawan.”

Dalam testimoni saat peluncuran buku Panda pada 2009, mantan Kapolda Sumatra Utara, Widodo Budidarmo bercerita soal premanisme yang melibatkan Panda dan Surya Paloh.

“Saya kenal Panda saat menjadi Kapolda Sumut. Dia bersama Surya Paloh hidup ke sana ke mari menjadi bagian dari geng-geng preman di Medan,” ujar Widodo, yang juga pernah menjadi Kapolda Metro Jaya.

“Suatu hari Panda dan Paloh menemui saya. Panda yang bilang, Pak, Surya Paloh minta bisnis. Saya jawab, minta bisnis kok ke Kepala Polisi. Tapi akhirnya saya minta ke asisten saya agar dia dibantu. Itulah pengalaman saya ngadepi preman-preman Medan,” ungkapnya.

Surya Dharma Paloh memang putra Aceh. Namun, ayahnya seorang polisi, maka Surya pun kerap berpindah tinggal, mengikuti tugas sang ayah, Muhammad Daud Paloh.

Meski Surya Paloh pernah berada di sarang preman namun visi kepemimpinannya sudah muncul sejak muda. Tercatat Paloh muda ikut mendirikan Persatuan Putra-Putri Angkatan Bersenjata Republik Indonesia tahun 1968 di Medan.

Pada 1986 Paloh menerbitkan suratkabar Prioritas. Tapi umur harian ini tak panjang. Prioritas dibreidel Harmoko, yang ketika itu menjabat menteri penerangan. Kala itu, Prioritas menerbitkan ramalan tentang ekonomi makro pemerintah Indonesia yang dianggap menyesatkan dan meresahkan masyarakat.

Tapi Paloh tak patah arang. Dia menerbitkan koran lagi, Media Indonesia. Bahkan, dua tahun setelah Soeharto turun, tepatnya pada 18 November 2000, Paloh mendirikan televisi berita 24 jam pertama di Indonesia: Metro TV.

Berbekal pengalaman jatuh bangun di Golkar dan sumber daya informasi yang di kuasainya melalui media, jejak politik Surya Paloh kini sudah setara dengan politisi lainnya di nasional, melalui Partai NasDem.

“Kalau ingin mutiara, menyelamlah ke dasar laut yang dalam. Kalau ingin mendapatkan rasa keadilan, kehidupan yang penuh dengan rasa sejahtera, bergabunglah dengan arus Gerakan Perubahan Restorasi Indonesia.”

Melalui sepotong paragraf dari buku biografi Surya Paloh Matahari Restorasi: Sang Ideolog itu Surya Paloh ingin menggambarkan ketekunan dan konsistensi perjuangannya dalam mewujudkan rakyat yang sejahtera, bangsa yang bermartabat dan negara yang kuat.

“Trilogi Restorasi Indonesia adalah idelogi cita-cita idealisme yang hendak diperjuangkan melalui Gerakan Perubahan Restorasi Indonesia,” ujar Paloh dalam bukunya itu.

Kini, kedekatannya dengan politisi yang sama-sama mendukung Jokowi – Jusuf Kalla membuat bacaan dan tindakan politiknya ditunggu, dicari, dan diharapkan oleh politisi lainnya, termasuk politisi yang ingin berkuasa di Aceh. Apa gebrakan politik yang akan dilakukan Surya Paloh bersama Partai NasDem di Aceh? Kita tunggu saja! []

Dari berbagai sumber

KOMENTAR FACEBOOK