Aku dan Kaum Preman Aktif

“Tidak… Bukan… Saya bukan wartawan atau pun pembohong, eh pemborong jalan. Cuma mahu mencuci motor ke sungai”, sahutku ke pada seorang lelaki berkulit hitam manis setengah jam yang lalu. Usai menyetop dan menyelidikku di tengah jalan. Layaknya reserse kriminal tengah mencabut kuku kaki seorang tersangka pencuri itik, sambil memarahinya dengan soalan-soalan pencuri kelas curi kerbau. Ya, kumaklumi, beliau tak mengenalku (lagi).

Barangkali lebih sepuluh tahunan yang lalu terakhir kali kulalui jalan ini. Sebelum merantau. Tapi kulihat dari wajahnya yang hanya sedikit berubah dijajah ketuaan, dia adalah anak saudara kakekku. Dan itu dikuatkan dengan kulit hitam keling kami yang tak jauh berbeda.

Di bawah turunan jalan menuju ke sungai Mabar, gampông kami aku melirik panorama keindahan alam. Kuberhentikan motor. Kubidik ianya dengan hapeku. Dan aku sungguh terkesima tatkala pandang mataku menabrak indahnya jalan yang telah dibangun belakangan ini. Jalan telah disemen mulai dari jalan umum gampông tembus ke jalan-jalan tikus. Jalan yang sewaktu kecil dulu setiap hari aku tapaki. Bahkan hingga ke hutan, ke tepi sungai. Untuk bermanda-mandi sepulang sekolah ibtidaiyah. Sambil menggembala lembu orang kaya gampôngku yang diamanahkan ke pada Abuku.

Sekonyong-konyong—meminjam istilah yang telah dipatenkan oleh Maha Guru Muih. Sebutanku akrabku untuk Musmarwan Abdullah, seorang filsuf dari gampông dan penulis cerpen yang termahir menyulap hal-hal biasa menjadi luar biasa di setiap baris tulisannya yang hampir tak luput kubaca. Bocoran khabar, buku kumpulan cerpen beliau berjudul, ‘Dijamin Bukan Mimpi’ akan segera terbit. Baca saja liarnya pemikiran beliau di sana. Dan percalah aku adalah pemarah tak tentu arah yang mulai sedikit terkendali karena setiap hari menanti petuah di status-status facebook-nya—pada pagi yang kubuka tanpa sarapan ini darah di ujung kakiku naik ke pemuncak kepala botakku.

Bermula dengan kekaguman indahnya pemandangan belukar. Lalu terlihat ‘luëng’ (tali air, pen) di tepi jalan yang dibuat begitu lebih tinggi dari badan jalan. “Peu ka dipeulaku nyan, biët ka dipeu-ék ië u cöt (jalan ini telah dikerjakan oleh pemborong, serupa dengan mengalirkan air ke dari bawah ke atas bukit)”, keluhku ke pada lelaki yang biasa disapa Apa Mat Oëng oleh warga ini. Beliau masih berdiri keheranan. Melihat gelagatku memotret sampah dan tali air. Sebuah got selebar sehasta yang air di dalamnya tergenang. Dan sudah dibiakkan ‘preün’, anak nyamuk, sumber pembawa penyakit demam berdarah ini.

“Sssttt. Bèëk rayeük-rayeük that tamusu, dipeusikula teuh eunteük! Awak nanggroë gampông gata nyang mat but di sinöe”, jawab beliau. Maksudnya, pekerjaan menampal jalan dan membuat got di gampông kami mesti atas nama Sagoë Komite Peralihan Aceh. Jika tidak, jangan coba-coba. Tak akan mudah terealisasi. Tapi ini hanya di sini di gampông dongeng ini saja. Aku belum pernah mendengar berita seperti ini di tempat lain. Itulah sebab mengapa aku bangga terlahir di gampông ibuku ini. Gampông yang unik dan mampu mengerjakan hal-hal yang dulunya mustahil dikerjakan. Ya, seperti menaikkan air ke atas bukit bermodal tiupan angin tadi. Dan saking hebatnya, aku pun merasa ‘gimanaaa gitu’.

Bermulalah kisah, pada awal-awal musim perdamaian Aceh-RI, sekira tahun 2006 aku pernah harus ke luar dari gampông. Seorang sepupu jauh ibuku yang waktu itu masih dipercayai sebagai Pang Sagö menyuruhku untuk hengkang sementara dari gampông pada suatu malam. Beliau berinisiatif demikian agar aku masih bisa menghirup nafas esok pagi. ” Aneük muda, ka teuka masa gata bungkôih bajèë (pergilah, Nak!).

Dua malam sebelumnya di atas Meunasah gampông yang bercirikhas rumöh adat Aceh itu sempat heboh. Sempat tegang sekiansaat. Ketika saling adu argumen dalam duduk musyawarah gampông. Aku dan beberapa teman sepemabuk ganja tetap keras kepala. Masih ‘ngotot’ tidak mengizinkan, ‘duaribu rupiah dana yang diperuntukkan untuk acara kepemudaan gampông’ dialihkan ke atas nama KPA. Pada hal mereka sudah mendapat jatah langsung dari pemasok beko. Di luar dari pajak beko yang diberikan untuk gampông. Dalam khuz yang tertulis asalnya—sama seperti gampông lain yang memberi akses menggali sungai—hanya duaribu rupiah sahaja dana dari keseluruhannya limabelasribu rupiah itu. Diambil dari per-satu kali jalan dum-truk mengangkut pasir melalui jalan yang dibuka oleh pemuda gampông. Sebelumnya itu hanya sebuah jalan tikus. Jalan alternatif terdekat ke tepi sungai. Harus melarung hutan untuk sampai ke sana. Lalu anak muda bergotong-royong. Tidak atas nama Kaum Preman Aktif itu.

Jam empat pagi gelap-buta itu aku berjalan seperti pencuri yang beberapa hari tak makan. Sembunyi-sembunyi. Entah dari siapa? Menapaki rerumputan melalui jalan pematang sawah. Saat orang-orang terlelap. Saat sebagian lain khusy’uk di atas sajadah. Mengharap ridhanya di sepertiga malam. Paman jauhku itu menemani kepergianku dengan siaga yang amat sangat. Sesampai di jalan hitam kusalami tangannya.

Sesampai di jalan hitam kusalami tangannya yang berbau amis itu. Lalu berangkatlah aku ke arah barat. Menaiki bus Bireuen Express. Tanpa tuju.

Kini, tepatnya sebelas tahun sudah, aku kembali menapaki jalan tikôh itu lagi. Dan lelaki hitam legam khas pasukan rhungkhöm di sampingku, yang setia mengantarku malam itu tak mengenal rupaku lagi. Setelah mempelawanya minum kopi sambil mengungkit-ungkit kisah lama, kami akrab kembali. Melebihi dulu.

“Lôn hana lé Pang Sagö hai, Nyak. Kadiköh buku. Hana trép lheüh tajak gata. Jinöe gata ka tagisa lom. Bah pih hana so cukèh teüh lé tapi bèk sagai tameudendam. Geutanyöe koën biëk meuseunöh hak aneük yatim dan janda prang. Geutanyö koën awak meuliëh. Beutapatéh nyan!” Begitu nariët peuneutôh sebelum beliau berangkat ke sawah.

Mabar, Peudada, 07 maret 2016.

KOMENTAR FACEBOOK