Husaini Hasan, Pejuang yang Dibuang Dari Tubuh GAM?

Bagi masyarakat Aceh pada umumnya sosok Husaini Hasan bukanlah sosok yang terkenal. Tidak banyak yang menyadari kiprahnya dalam pergerakan Aceh Merdeka (AM), padahal ia termasuk dalam kategori assabiqunal awwalun, angkatan awal dalam pergerakan AM. Ia mulai mendapat banyak perhatian setelah menerbitkan sebuah buku yang berisi tentang catatan perjuangannya bersama AM di masa silam. Penerbitan buku catatan ini juga mendapat dukungan dari rekan-rekan seperjuangannya dahulu.

Bagi penulis, kisah perjuangan Husaini Hasan yang terangkum dalam buku Dari Rimba Aceh ke Stockholm (2015) merupakan kisah pilu seorang pejuang AM. Bagaimana tidak Husaini Hasan adalah pejuang senior AM yang menjabat sebagai menteri pendidikan sekaligus sekretaris negara namun dalam perjalanannya terleminasi oleh teman seperjuangan karena berbeda pandangan dan kepentingan. Melalui buku tersebut Husaini Hasan selain sebagai bentuk pembelaan diri terhadap pencemaran nama baiknya juga sebagai sarana meluruskan kembali sejarah perjuangan AM yang telah disimpang-siurkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.

Pengorbanannya dalam perjuangan AM terbilang cukup berat, tidak jauh berbeda dengan pejuang-pejuang lainnya. Demi memperjuangkan ideologi AM yang diyakininya, ia rela meninggalkan anak dan istri beserta karirnya yang sedang memuncak. Baginya selain Dr Mukhtar Hasbi, buku Atjeh Bak Mata Donja yang ditulis oleh Hasan Tiro pada tahun 1968 memiliki peranan penting dalam membentuk pola pikir dan memotivasinya sehingga bergabung dengan gerakan yang dipimpin oleh Hasan Tiro ini.

Ia mulai bergerilya di hutan Aceh bersama rekan-rekan lainnya sejak tahun 1977 tatkala pergerakan mereka sudah tercium oleh aparat TNI. Ketika bergerilya itulah banyak pelajaran yang dipetik, khususnya dari Wali karena kedekatan hubungan mereka berdua. Banyak suka duka yang dialaminya semenjak di hutan belantara itu, bahkan ia mengaku pernah terkena timah panas dari serangan TNI pada saat penyerangan di Asrama Puntjeuek.

Setelah 3 tahun lamanya bergerilya di hutan Aceh, ia diutus oleh para pembesar AM (majelis mentroe) untuk mencari tahu kabar dan keberadaan Wali yang telah meninggalkan Aceh sejak akhir maret 1979. Perjalanan inilah yang membuatnya mendapatkan suaka politik di Swedia di kemudian hari melalui bantuan UNHCR sehingga pada akhirnya dapat berjumpa dengan Wali disana.

Ia baru bisa membantu pejuang-pejuang AM beserta keluarganya agar mendapatkan suaka politik setelah beberapa tahun tinggal di Swedia (tentu sambil membangun komunikasi politik dengan berbagai pihak). Saat sebagian besar pejuang sudah berkumpul di Swedia, misi perjuangan kembali dilanjutkan, tentu semakin serius. Bedanya, jika dulu bergerilya dihutan kini di kota. jalinan hubungan diplomatik dengan pejuang-pejuang RMS, OPM, dan beberapa organisasi internasional yang dapat membantu mereka pun semakin erat.

Perpecahan
Selang beberapa tahun setelah pejuang AM berkumpul di Swedia terjadilah peristiwa kurang menyenangkan ditubuh AM. Konflik internal di tubuh AM ini mengakibatkan perpecahan antar sesama pejuang. Perpecahan yang terjadi di tubuh AM bukan karena suatu permasalahan yang besar. Ia berawal dari sebuah peristiwa sepele yang terjadi sekitar tahun 1985. Permintaan Wali untuk dipindahkan ke sebuah rumah yang lebih luas dari apartemen yang ditempatinya saat itu disalahpahami oleh sebagian anggota AM. Mereka mengira Husaini Hasan ingin memisahkan Wali dengan orang dekat disekelilingnya yang memiliki hubungan kekeluargaan. Berita ini kemudian terus beredar kepada anggota-anggota AM (Hasan : 2015, 329-338).

Perpecahan ini mengakibatkan AM pecah menjadi dua kubu: kubu yang pro dan yang kontra dengan perpindahan Wali dari apartemen. Singkat cerita Wali tidak jadi pindah dari apartemen setelah diadakan voting—yang saya kira cukup menggelitik kisahnya (lihat Hasan : 2015, 334-335). Perpecahan ini semakin rumit ketika sebagian anggota yang pro enggan menghadiri rapat rutin jika masih diadakan di kediaman Wali. Akan tetapi Husaini tetap mencoba untuk netral dengan tetap mengikuti rapat rutin tersebut. Puncak perpecahan ini terjadi ketika Wali meminta Husaini untuk memutuskan hubungan dengan TM Ali, Anwar Amin, Shaiman, Usman dan Yuhasri (pihak pro) karena mereka enggan mengikuti rapat rutin.

Jelang beberapa waktu kemudian Husaini tidak diberitahu lagi tempat pelaksanaan rapat. Ketika ia mencoba untuk bertemu Wali, mereka (pihak kontra) mengatakan Wali sedang tidak ditempat dan sudah ke luar negeri. Sejak saat itu hubungan Husaini dengan AM mulai semakin merenggang. Ia dituduh sudah bersimpati lagi kepada perjuangan AM karena sudah menikmati hidup mewah di Swedia.

Sejak perpisahan itu terjadi, ia hanya sekali berjumpa dengan Wali yaitu sekitar tahun 1891 di sebuah swalayan. Setelah pertemuan itu keduanya tak penah lagi bertatap muka, bahkan sampai Wali menutup usia. Padahal ketika masih di rimba Aceh keduanya memiliki hubungan yang erat. Husaini bagai tangan kanan Wali yang siap membantu Wali dalam setiap urusan. bahkan Wali dalam catatan pribadinya menulis :

Dr. Husaini is God-sent to me. … Husaini is a man of few words. He knows when to listen, and when to speak. His greatest virtue i s his loyalty and constancy the greatest virtue of a fighting man and of soldiers as Napoleon, who ought to know, had observed. His surprisingly uncluttered mind an antithesis of mine that is already clogged can think very straight,unbends by emotions or danger when making difficult choices of national policy.

I always have to agonize in reaching what finally I considered a correct decision,considering all possibilities even obscure alternatives. Usually after I reached my own conclusion quite laboriously I would ask Husaini’s opinion without telling him what I have decided. He would shoot straight as an arrow at the buli’s eye with the simplest of reasons, in a few words that are most logical, that I had not thought of, and reached the same conclusion. So Husaini has become my fellow creators.in the real Nietzschean terms….

He left his young wife and three beautiful little children to join me in the forest. He is among few men around me in the forests who can appreciate my own agony and heartbreak that I had gone through to fulfil this historie destiny. (Tiro : 1984, 26)

Perpisahan antara Hasan Tiro dan Husaini Hasan sama menyedihkannya dengan perpisahan antara Jamaluddin Al-Afghani dan Muhammad Abduh, dua tokoh pembaharu dalam islam. Bedanya Al-Afghani dan Abduh berpisah karena beda prinsip perjuangan. Al-Afghani lebih condong berjuang melalui jalur politik sedangkan Abduh lebih tertarik melalui pendidikan (Hamka : 1981, 89).

Nah, Wali dan Husaini memiliki prinsip perjuangan yang sama yaitu politik kedaulatan Aceh namun harus berpisah (dipisahkan?) karena kepentingan pribadi orang-orang disekeliling Wali.
Wallahu a’lamu bi al-shawab.

KOMENTAR FACEBOOK