Polisi Wisata Gangnam Style dan Kota Madani

GANGNAM style ternyata tidak cuma popular dalam urusan musik dan dance, setidaknya hal ini dibuktikan dengan kehadiran 100 orang polisi berjuluk Polisi Wisata Gangnam Style karena seragam yang digunakan oleh polisi wisata tersebut dirancang oleh desainer kostum rapper Psy. Mereka ditugaskan mondar-mandir di beberapa area wisata di Seoul, Korea Selatan. Gagasan ini adalah upaya unik Pemerintah Korea mempromosikan pariwisata dan keamanan negaranya.

Uniknya lagi para polisi ini berkemampuan bahasa asing , Inggris, Jepang dan Mandarin yang bisa dilihat pada label yang ada di bahunya, agar dapat berinteraksi dengan para turis mancanegara. Menurut Presiden Dinas Pariwisata Korea, Lee Charm keberadaan para polisi unik ini bukan karena faktor keamanan yang buruk, tetapi lebih kepada upaya mempromosikan keamanan negara ini.

Siapapun wisatawan yang merasa ditipu oleh sopir taksi atau penjual makanan di kaki lima bisa datang dan melaporkan pada polisi wisata Gangnam style ini. Polisi wisata juga bertugas melindungi para turis dari kejadian atau insiden yang tak diinginkan saat berlibur di Seoul.

Dalam menjalankan tugasnya, polisi wisata ‘Gangnam Style’, tidak dilengkapi dengan senjata api. Karena, jika nantinya terdapat kasus kejahatan yang lebih serius, polisi wisata ini akan meminta bantuan dari polisi reguler yang dikhususkan untuk menangani kasus kriminal.

Realitas Aceh
Di Aceh, seperti halnya di Bali dan Thailand yang memiliki situs kunjungan wisata religi, mengharuskan para wisatawan mematuhi aturan kunjungan yang spesial. Di Thailand setiap memasuki wilayah ritual keagamaan, para wanita dan pria yang berbusana tidak memenuhi syariat harus mengenakan kain panjang yang sudah disediakan oleh para petugas di pintu masuk lokasi.

Beberapa pamphlet atau papan billboard pengumuman di pajang dipintu masuk sebagai bentuk peringatan (attention) yang harus dipatuhi. Petugas dengan sangat ramah menawarkan dan bahkan membantu memakaikan kain panjang kepada para turis. Dan kain panjang tersebut akan diambil kembali pada saat wisatawan keluar dipintu keluar yang sudah ditentukan, itupun setelah melewati pasar cenderamata yang memang secara khusus disediakan dipintu keluar situs kunjungan wisata.

Bagaimana dengan di Aceh yang menawarkan tagline peumulia jamee?. Secara pribadi saya pernah berkesempatan melihat langsung kondisi di Thailand demikian juga di Aceh. Terasa sekali bedanya, petugas kita terlihat kesulitan dalam berkomunikasi dengan para turis asing, sehingga mengesankan ketidakramahan karena rasa bahasa kita tidak dirasakan ramah tamahnya.

Tidak adanya stand yang secara khusus dilengkapi petugas yang stand by untuk membantu turis, menyediakan jilbab atau kain panjang bagi turis yang belum berbusana sesuai syariat yang berkeinginan untuk masuk ke areal wisata, sehingga membuat canggung dan ragu-ragu para turis yang berkeinginan untuk sekedar memotret semisal Masjid Raya Baiturrahman (MRB), atau melihat tapak Kohler di bawah pohon Kohler yang sekarang ini sudah ditebang dalam rangka perluasan MRB.

Penjaja cenderamata juga belum ter-integrasi dengan jadwal kunjungan atau kunjungan turis dadakan, sehingga usaha kita untuk mempromosikan paket wisata syariah di Kota Madani masih terlihat kedodoran. Padahal perlakuan secara khas dan khusus, sebagaimana ide Pemerintah Korea Selatan menyediakan polisi wisata gangnam style, adalah upaya unik untuk menarik minat wisata dan mengenalkan Aceh dengan ikon wisata Islam-nya yang ramah.

Kita bayangkan di areal MRB, atau areal wisata lain, dilengkapi dengan polisi syariat khusus yang memiliki kemampuan bahasa asing, luwes bertutur dan berinteraksi dengan para turis, memandu informasi, mengarahkan pada kunjungan situs lainnya. Meminimalisir perilaku nakal para pemilik moda transportasi, penjaja cenderamata dan lini lain yang bersentuhan langsung dengan para turis, baik lokal maupun asing.

Perlakuan kita dalam peumulia jamee ini akan mempercepat usaha kita menjadikan Aceh sebagai ikon wisata baru di ASEAN, tempat berkaca jika ingin melihat sebuah Kota Madani, Beriman (Bersih, Indah, Nyaman). []