Thailand, Mematung dan Kota Madani

Awalnya rada aneh. Tapi kemudian terbiasa, selanjutnya takjub. Rakyat Thailand dan siapapun manusia yang kebetulan sedang berada di negeri gajah tersebut wajib mematung dalam sehari dua kali. Pagi dan sore.

Di tiap sudut, Pemerintah Thailand memasang loudspeaker alias pengeras suara. Tentu saya semakin penasaran apa fungsi pengeras suara di mall, pasar, stasiun dan tempat umum lainnya. Ketika saya tengah berada di keramaian pasar sungguh saya terkejut tiba-tiba semua orang berdiri dan menghentikan aktifitasnya. Bule yang sedang berjalan pun ikut menghentikan jalannya. Orang yang sedang duduk langsung berdiri, Para penjual menghentikan transaksi jual belinya, semua orang mematung tiba-tiba. Semua orang yang berlalu lalang akan berhenti, mulai dari pejabat negara hingga rakyat jelata. Saya sebagai orang asing pun ikut berhenti dan berdiri dengan sikap yang sempurna.

Prosesi tersebut berlangsung dengan sangat natural, mereka berdiri dengan penuh kesadaran tanpa ada yang memberi komando. Tidak ada polisi yang mengawasi dan tidak ada satpol PP yang memantau.

Aktivitas tersebut terhenti bukan tanpa alasan, akan tetapi pada jam tersebut sedang diputar lagu kebangsaan Thailand. Lagu kebangsaan Thailand memancar lewat radio dan semua orang Thailand yang mendengarnya akan berdiri mematung dan mendengar dengan khidmat kecuali saya karena memang tidak paham artinya.

Fakta lainnya, Apabila di tempat keramaian orang-orang tidak berdiri di saat lagu ini dikumandangkan, bisa-bisa akan mendapat tuduhan penghinaan terhadap simbol-simbol negara.

Dalam sehari lagu kebangsaan Thailand yang bertajuk “Phleng Chat Thai” diputar sebanyak dua kali yaitu setiap pukul 08.00 pagi dan pukul 18.00 petang. Betapa spesialnya lagu ini sehingga membuat suasa jadi hening sesaat.

Sangat berbeda dengan di Indonesia ketika lagu kebangsaan hanya di nyanyikan ketika upacara, seminar dan kegiatan-kegiatan kenegaraan dan tidak diperdengarkan di kehidupan sehari-hari.
Fenomena di Thailand ini menunjukkan masyarakat Thailand sangat menjunjung tinggi simbol-simbol dan identitas negara dan sangat menghargai bangsanya.

Hal ini membawa pada satu kesimpulan bahwa masyarakat Thailand memiliki jiwa nasionalisme yang sangat tinggi.

Sedikit merefleksi diri sebagai bangsa Indonesia, bagaimana nasionalisme kita sebagai rakyat indonesia? Sudahkah kita mencintai negara dan simbol-simbol negara? Saya melihat Indonesia sendiri belum memiliki skema pendidikan yang mapan bagaimana cara menghargai simbol-simbol negara.

Di lain hal saya juga membayangkan, Ibu Illiza sang walikota Banda Aceh melakukan studi banding ke Thailand dan merasakan gelora kebangsaan. Kemudian kembali ke Banda Aceh beliau terinspirasi untuk memasang pengeras suara di tempat-tempat umum dan membuat kebijakan di sektor yang berbeda.

Semua orang wajib menghentikan aktifitasnya setiap kali azan berkumandang sebagaimana orang Thailand menghentikan aktifitas ketika lagu kebangsaan di kumandangkan. Jadi setiap memasuki waktu sholat azan berkumandang secara serentak di Banda Aceh dan orang-orang mendengar suara azan dengan khidmat. Oh, mungkin dengan begini akan sangat terasa Banda Aceh sebagai icon kota Madani.