Mencari Engkau dari Zaman ke Zaman

BERTEMAN sebatang tongkat di atas bahu yang di ujung belakangnya menggelayut buntelan kain blacu bekas kantung tepung terigu Cap Segi Tiga yang di dalamnya berisi makanan, aku berjalan dengan kaki dibalut sepatu dari kulit dinosaurus yang kubunuh beberapa waktu lalu lantaran mau melahapku sebagai hidangan makan siangnya. Aku mengarahkan langkahku ke zaman dahulu, saat manusia baru memulai kehidupannya, yakni zaman Adam ‘alaihissalam.

Hal pertama yang kulakukan saat aku menapak kaki di zaman nenek moyang manusia itu adalah menonaktifkan smartphone dan menyembunyikannya dalam kantung makanan. Aku tidak mau kalau tiba-tiba kawan-kawan dari zaman modern menelpon, lalu HP berbunyi, lalu manusia-manusia zaman Adam meminta lihatnya, dan kemudian, mereka mengejar-ngejarku sebagai manusia yang menyembunyikan ‘tuhan’ dalam kantung makanan.

Pada zaman Nabi Adam, Tuhan dipercaya tanpa banyak tanya. Dengan daya pikir yang masih di bawah binatang (kekenyatannya, mengubur mayat saudara yang telah dibunuh pun harus belajar pada seekor burung), saat itu manusia belum mampu berpikir tentang Tuhan dengan berbagai-bagai sifat Tuhan. Pada masa itu yang mereka pikir “Aku tidak menciptakan diriku-sendiri, tapi kenyataannya aku ada, ya, apa pun yang telah membuat aku ada, itulah Pencipta-ku.”

Di masa ini, segala yang tidak terlahir dari hasil kreatifitas tangan mereka, berarti Tuhan di baliknya. Tidak ada binatang-binatang yang berkeliaran melainnkan karena Tuhan telah menciptakannya; tidak ada pohon yang tumbuh, buah-buahan yang bergelantungan (yang kadang jatuh tepat ke pangkuan), langit yang terbentang, awan yang berarak, perut perempuan hamil yang makin hari kian membesar tanpa ada yang meniupnya, melainnkan ada Tuhan di baliknya.

Hanya sesingkat itu kunjunganku ke zaman nenek kita. Aku tidak berniat tinggal terlalu lama. Ruwet. Membosankan. Makan buah melulu dan daging bakar binatang hasil buruan sendiri. Tanpa musik. Tanpa bisa menghidupkan HP, apalagi mau mengakses-akses internet.

Seorang antropolog harus rela meninggalkan kebudayaan tempat ia bertumbuh dan menggantikannya dengan kebudayaan masyarakat objek penelitiannya, sepenuh-penuhnya, sampai ke cara berpikir, bahkan bila perlu membina rumahtangga dengan cinta setempat.

Tapi kita memang tidak perlu segila itu untuk hanya sebuah peradaban awal yang belum ditingkahi oleh kerumitan hasil karsa dan budaya generasi setelahnya. Saat itu segalanya masih begitu azali. Segalanya masih begitu mudah dipelajari.

Dan aku pun tiba di zaman Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Hal pertama yang aku lakukan adalah mencari sebuah goa yang sunyi dari lintasan orang-orang. Aku menemukannya di ketinggian sebuah bukit. Aku memasukinya dan menggelar buntelan makanan. Setalah makan dan minum alakadar, aku mengaktifkan smartphon, mengakses internet, membuka akun media sosial, menulis catatan “Petualangan Mencari Tuhan dari Zaman ke Zaman (1)” dan mempostingkannya dengan tergesa-gesa. Aku tidak yakin bahwa orang tak akan lewat di depan goa ini. Jika itu terjadi, mereka pasti akan masuk, lalu meminta lihat HP-ku, dan ketika menyaksikan segala sesuatu lebih canggih dari sekedar patung-patung mati yang mereka sembah selama ini, mereka pasti beralih menyembah smartphone ini. Aku tidak ingin itu terjadi (membuat orang berabad-abad menyembah tuhan yang salah hanya karena aku gegabah menempati sesuatu di zaman yang belum sesuai dengannya).

Di zaman ini Tuhan mulai dicari wujud-Nya. Mereka tidak mau lagi berpatokan pada hanya sebatas keyakinan. Pokoknya Tuhan harus dapat dibuktikan dengan pancaindra. Dan ketika segala pencarian tak berhasil, mereka mulai melihat bahwa hasil kreatifitas seni dan peradaban tertinggi dalam bentuk seni pahat, itu bisa menjawab kegalauan spiritualitas mereka. Maka di samping memahat meja makan, tempat tidur dan bukit-bukit tinggi sebagai tempat hunian, mereka pun menumpahkan segenap sumber keahlian untuk memahat gambaran imajinasi tentang Tuhan; lalu berwujudlah patung.

Maka, mereka pun menyembah hasil karsa imajiner ahli-ahli yang diberi wewenang untuk mematungkan-Tuhan itu, yakni untuk menjawab kegalauan spiritualitas kawula negeri; untuk disembah dengan kegembiraan dalam keadaan senang; untuk disembah dengan penuh penyerahan diri dalam keadaan lemah dan butuh sandaran; dan, bahkan, untuk dijadikan kambing hitam dalam keadaan kalah dan penuh kekecewaan. Dan para penguasa—yang hidup senang di atas kestabilan politik—tetap selamat dari angkara-murka rakyat jelata yang tiap pekan dimabukkan oleh ritual terhadap sesembahan-sesembahan yang diukir indah melebihi keindahan karya ukir mana-mana saja.

Trend menuhankan hasil ciptaan sendiri ini, akhirnya mengantarkan Ibrahim untuk berpikir lebih maju dengan ujicoba buat mengeksplorasi nalar ketauhidannya untuk melihat benda-benda langit sebagai Tuhan. Tapi alangkah kecilnya makna Tuhan jika Tuhan itu berwujud sesuatu; karena segala yang berwujud memiliki dimensi; segala yang memiliki dimensi berhajat pada lebih dari satu sisi; segala yang memiliki sisi berhajat pada batas tepi; segala yang memiliki batas tepi berhajat kepada batas eksistensi; segala yang memiliki batas eksistensi berhajat pada wujud sesuatu; segala yang berwujud sesuatu bisa berupa materi, fenomena, kausalita, dan citra hasil karsa daya imajinasi; dan segala materi, fenomena, kausalita, dan citra hasil karsa daya imajinasi adalah wujud sesuatu; dan segala yang berwujud memiliki dimensi; segala yang memiliki dimensi berhajat pada lebih dari satu sisi; segala yang memiliki sisi berhajat pada batas tepi; segala yang memiliki batas tepi berhajat kepada batas eksistensi; segala yang memiliki batas eksistensi berhajat pada wujud sesuatu; segala yang berwujud sesuatu bisa berupa materi, fenomena, kausalita, dan citra hasil karsa daya imajinasi; dan segala materi, fenomena, kausalita, dan citra hasil karsa daya imajinasi adalah wujud sesuatu; dan segala yang berwujud sesuatu–.

Lalu Ibrahim pun menemukan Tuhan; yang tak mungkin ia percayai jika mata bisa melihat-Nya; yang tak mungkin ia sembah jika tangan dapat meraba-Nya; yang tak mungkin ia yakini jika telinga dapat mendengar suara-Nya; yang tak mungkin ia agungkan jika hanya berupa wujud sesuatu rasa; yang tak mungkin ia imani jika ada-Nya dapat dideteksi melalui suatu aroma tertentu; namun Tuhan yang hanya dibuktikannya dengan kerelaan mengorbankan sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya, yakni Tuhan yang dulu hanya ada di balik segala sesuatu yang bukan hasil kreatifitas dan keahlian tangan manusia, Tuhan yang disembah tanpa merekayasa fitur napsu demi Surga dan Neraka, Tuhan tanpa penamaan-penamaan hasil ekplorasi literal dan apologi kekusastraan manusia, Tuhan tanpa label maha-ini dan maha-itu, Tuhan tanpa ragam asesoris yang ditambah-tambahkan manusia, Tuhan yang diimani dengan pikiran sederhana. Tuhan Adam dan anak-anaknya. “Tuhan yang membuat kau ada tanpa kau minta, dan yang membuat kau mati tanpa kau mau.”

Singkat juga perjalananku ke zaman Ibrahim. Kini aku mengarah langkah ke zaman modern. Ya, ampun, Tuhan telah disebut dengan khidmat oleh mulut milik orang yang siap memenggal kepala orang lain atas nama perbedaan mazhab dan aliran dalam satu agama, dan atas nama beda pemimpin yang dijunjungnya; Tuhan telah dibakukan oleh orang-orang yang sesungguhnya ia tidak menyembah Tuhan, tapi bagi mereka yang penting adalah agama-sebagai-sebuah-organisasi (yang membuat mereka memiliki power untuk berbagai hukum dan ultimatum, yang membuat mereka bisa berbuat apa saja dengan cara ‘mensah-sahkan’ perbuatannya, yang membuat mereka bisa bepergian ke mana-mana karena agama sebagai organisasi memiliki dana yang banyak, sedangkan Tuhan tidak memiliki uang); Tuhan telah disebut dengan khidmat oleh mulut mereka yang siap memenggal kepala orang lain atas nama perbedaan berhala yang mereka sembah.

Di sisi lain orang malah mengatakan Tuhan tidak ada sejauh sains tidak dapat membuktikannya. Mereka mengira sains adalah capaian tertinggi dari otak manusia (yang tak pernah berhenti berpikir dan akan selalu menemukan hal terbaru yang belum ditemukan hari ini). Mereka tak tahu bahwa sains tak lebih dari tekhnik pertukangan sebagaimana keahlian-pahat-patung sebagai peradaban tertinggi di zaman Ibrahim.

Dan, Tuhan semakin dilemahkan kalau merujuk pada “tuhan” yang keluar dari mulut para “pembenci orang lain” yang uring-uringan dengan kata-kata kasar pada “cerpen” atau “esai” atau “artikel budaya” yang mencoba mencari Tuhan yang lain dari bentuk ‘tuhan’ yang telah mereka ciptakan sendiri dalam imajinasi binalnya itu.

Ya, sudah. Kini aku kembali ke rumahku sendiri. Ke zaman Rasulullah Muhammad Salallahu’alaihi Wassalam. Rumah di mana agama telah disempurnakan; dan Tuhan telah ditemui pada jiwa-jiwa yang damai dalam segenap dinamika keperbedaan, di mana yang diperangi adalah kaum yang zalim terhadap kaum yang lain secara kemanusiaan, bukan atas nama beda topi dan celana dalam; bukan rumah untuk tempat berkumpul para lelaki genit bermabuk-mabuk sensasi dengan keperbedaan-keperbedaan yang binal dan menjijikkan.

Aku mencari-Mu di zaman aku berada, namun Engkau menjelma di zaman aku sempoyongan mabuk mencari diri-sendiri. ***

(Kembang Tanjong, 2016)