Krueng Peusangan Sakratul Maut

Terik matahari siang, Kamis (9/3/2016) memanggang kulit. Seekor anak kambing berusia tiga bulan mengembik keras di tepi Sungai Peusangan yang mengalir melintas Gampong Teupin Mane, Kecamatan Juli, Bireuen. Kambing belia itu seperti mencari sesuatu. Aku tak paham, apakah induk si malang itu adalah seekor betina yang sedang memadu kasih dengan pejantan muda di sudut alue kecil yang airnya mengalir ke sungai seumpama muntah orang lapar yang sudah seminggu mengonsumsi angin.

Bebatuan yang setengah basah dan sebagian lagi panas dibakar cahaya matahari, nampak meranggas. Rerumputan seolah sedang bercerita tentang petaka yang sebentar lagi datang. Seekor kerbau kecil nan kurus berendam dengan mulut komat-kamit. Kerbau muda itu seumpama dukun yang sepi job namun tetap setia menghafal segala mantra yang diajarkan oleh Raja Itam– jin legendaris di belokan sungai, tempatnya di bawah jembatan gantung menuju Duson Teungku di Alue Ue yang acap kami sebut Kubang Itam–. Seorang lelaki yang datang dari kampung jauh memasukkan air dalam jerigen. Lelaki tua, duduk di balai- balai sambil mengipas badan menggunakan jemarinya yang sudah keriput. Matanya seperti mengisyaratkan sudah lelah hidup, namun tetap enggan shalat– walau azan asar sudah berkumandang, dia memilih tetap tiduran di balai- balai hingga kemudian pulas menuju awan–.

Jangan berharap udang dan rajungan akan memperlihatkan hasrat ingin mengawini pasangan di balik bebatuan yang terendam. Sudah sejak lama, binatang itu pamit dari aliran sungai yang berpucuk di Danau Lut Tawar, Aceh Tengah. Kisah-kisah romantis udeung dara baro sudah semenjak lama tidak kudengar lagi di sana.

“Rimba dan sungai- sungai kecil sudah lama menghilang. Sepanjang DAS Peusangan hutan sudah digantikan oleh perkebunan sawit maha luas milik pengusaha yang bercinta dengan penguasa sialan itu,” ujar seorang warga.

Foto: Muhajir Juli
Foto: Muhajir Juli

Dari mulut seorang petugas PDAM Krueng Peusangan, perusahaan daerah milik Bireuen yang acapkali merugi itu, debit air krueng Yang sempat dilewati oleh Malem Diwa itu, terus menyusut. Bahkan– bila kelak ke depan sungai itu kering– maka perusahaan itu harus gulung tikar.”Ancaman itu semakin nyata,” katanya.

Erosi di sepanjang sungai terlihat nyata. Ini akibat dari deforestasi dan galian C yang semakin menggenaskan.

Lumpur sudah semakin pekat menjadi lantai sungai. Pertanda alirannya semakin melambat. Bila hujan turun di hulu, maka air sungai akan mengalir seperti orang gila yang sudah putus saraf terakhirnya. Bahkan lebih parah dari itu.

Kerling sudah sangat langka. Ikan gabus sudah menghilang. Udang dan kepiting sungai mengungsi atau bisa jadi sudah punah. Krueng Peusangan sudah kehilangan harga diri. Dia–bila diibaratkan sebagai manusia– ia sudah seperti korban pemerkosaan yang kemudian dilacurkan. Tertimpa penyakit dan diabaikan. Menjelang sakratul maut, para bedebah masih saja menikmati tubuhnya yang ringkih dimakan usia dan penyakit.

Krueng Peusangan, pada tanggal 9 Maret 2016 sedang menuju kematian. Medis tak pernah datang. Bila pun ada itu hanya mantri kampung yang diperankan oleh aktivis lingkungan hidup yang bernama Aceh Green Community, FDKP, dan beberapa lainnya yang disokong oleh WWF.

Pemerintah–tepatnya penguasa– yang seharusnya memberi perlindungan, malah semakin binal saja perilakunya. Kebun-kebun sawit di tengah rimba dan di pinggir sungai adalah milik mereka dan selingkuhannya. []

 

KOMENTAR FACEBOOK