Duh, Keluarga Muda Ini Tinggal di Terminal Labi-Labi Keudah, dan Balqis Juga Sakit

ACEHTREND.CO, Banda Aceh – Malang benar nasib keluarga muda asal Geumpang ini. Di Banda Aceh, kota berlimpah para elit dan cendikia, ternyata masih ada rakyat terlunta, yang harus hidup di trotoar terminal labi-labi.

Dalam kondisi hamil 8 bulan, sang ibu muda pun harus merawat anaknya yang masih tampak sakit dan belum dibawa ke puskesmas. Kabarnya, sudah setahun mereka di sana, tapi belum juga ada yang datang mengulurkan tangan, membantu mereka, keluar dari derita dan ikut menikmati berkah dari APBA. Akankah?

***

Tak sengaja saya membaca status seorang teman yang mengupload foto sebuah keluarga yang tinggal di terminal angkutan labi-labi di Keudah, Banda Aceh. Seketika, rasa penasaran menyelimuti ruang rasa saya dengan keadaan mereka.

Bismillah, saya memutuskan untuk datang kesana bersama teman saya Frizy. Sampai di sana saya menyapa keluarga ini. Alhamduillah, sambutan ramah, dan kami pun berbincang-bincang hangat. Duh, ternyata keluarga ini sudah lama tinggal di trotoar terminal labi-labi di Keudah, lengkap dengan kasur tipis seadanya.

Seketika dadaku bergetar. Ada rasa iba mendesak-desak. Sejenak pandanganku melayang entah kemana, merenungi nasib nan jauh mengembara entah kemana.

Selidik punya selidik, mereka berasal dari Geumpang. Yasir (20) memutuskan untuk mengadu nasib di Banda Aceh. Iapun ikut membawa istrinya, Desy (19) dan anaknya Balqis yang masih berusia 1 tahun 3 bulan.

Sungguh hatiku kembali terguncang, ternyata mereka keluarga berusia masih muda. Dan itu artinya semuda ini pula mereka harus mengadu nasib pada dunia yang begitu keras buat mereka. Saat itu, rasanya langkahku hendak pergi saja. Bukan karena tidak kuat berada bersama mereka tapi hati ini teraduk-aduk oleh ragam tanya, kemana keramahan dan kasih sayang para anak negeri ini hingga mesih ada keluarga yang hidup terlunta-lunta, bukankah negeri ini berlimpah rupiah?!

Mereka, keluarga muda ini ternyata mencukupi kebutuhan sehari-harinya dengan cara memulung barang bekas. Sehari hari mereka berjalan menyusuri jalan, siang dan juga malam, terkadang melewati terik mentari, dan terkadang menerobos hujan dan angin yang dingin.

IMG-20160317-WA0042

Pandangan saya tertuju pada anaknya Balqis. Sungguh memprihatinkan untuk seusia anak 1 tahun 3 bulan sudah harus hidup dalam deru hidup yang tidak ramah. Balqis harusnya bisa hidup layak dan mendapat perhatian kesehatan yang baik.

Menurut pengakuan ibunya, Balqis baru saja pulih dari sakit. Sakit telah membuat berat badan Balqis turun. Saya memperhatikan Balqis dan jelas kalau Balqis belum sehat. Raut wajahnya masih pucat, tubuhnya menguning, dada yang membusung dan bibir yang memerah, serta tubuhnya yang kotor.Lebih menyedihkan lagi, Balqis saat itu tanpa pakaian, hanya dengan pampers yang sudah penuh.

Memang, mereka hidup di jalan dan untuk mandi pun mereka harus cari toilet umum di sekitar itu. Kemalangan nasib anak ini bertolakbelakang dengan namanya yang indah, Balqis. Sungguh sangat sedih melihat kehidupan mereka, kalau dulu kita hanya melihat di TV yang ada di kota kota besar, kini di daerah Aceh tercinta sudah nyata terlihat.

Saat saya tanya apakah ada pihak pemerintah yang pernah datang? Sang ibu, Desy menjawab: “Ada yang datang Satpol PP. Tapi mereka ngak ganggu kami, karena memang mereka ngak tau mau bawa kami kemana, ngak ada tempat,” aku ibu dari Balqis ini.

Kinipun Desy dalam kondisi hamil 8 bulan dan harus hidup di jalan sungguh sangat memprihatinkan. Saya juga penasaran bagaimana mereka makan apakah masak? Tapi dimana? Ternyata mereka membeli nasi 1 bungkus makan nya “rame rame”.

Ya Allah, pantas saja Balqis kurang gizi dan gampang sakit.

Mereka ingin membawa anaknya berobat tapi mereka tak yakin jika mereka akan diterima. Soalnya mereka merasa sebagai orang luar daerah dan tidak memiliki kartu kesehatan apapun. Ini membuat mereka mau tidak mau memilih bertahan menjalani hidup apa adanya dan akhirnya Balqispun tidak dibawa berobat.

Sekilas saya memperhatikan orang-orang yang lalu lalang di sekitar. Orang-orang tampak biasa saja dan tidak ada yang tergerak untuk menolong. Mungkin mereka ada niat tapi bisa jadi karena alasan lain yang tidak saya ketahui.

Hari pun semakin sore, saya dan teman pamit untuk pergi. Rasa pilu juga masih menimpa diri kami, prihatin pada diri karena belum kuasa untuk melakukan suatu tindakan yang dapat mengubah keadaan. Kami beranjak dengan satu doa semoga Allah menggerakkan orang-orang yang punya kuasa dan kewajiban untuk melindungi warga negaranya datang menolong keluarga ini, khususnya menolong Dek Balqis yang tampak sedang sakit.

Sebelum pergi, saya teringat ada Album Aceh di tas milik saya dan mereka senang dengan pemberian tidak berharga itu.

“Ini untuk kenang-kenangan,” kata saya dengan suara lembut.

Entah kenapa, pemberian saya disambut dengan linangan air mata, sambil mengucapkan terimakasih. Saya tak tau apa yang ada di benak pikiran mereka, dan kamipun berlalu masih dalam untaian doa. []