Illiza, Bergek dan Ruang Apresiasi

Foto: Habadaily

Oleh Faisal Ilyas

Pasca pembubaran acara pemilihan model Aceh di Aula Hotel Grand Nanggroe, Banda Aceh. Acara bernama “Indonesian Model Hunt 2016”, oleh Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal, dan yang terbaru larangan Pemko Banda Aceh, menjatuhkan sanksi terhadap pihak penyelenggara konser Bergek pada Sabtu (12/3) malam, di Taman Ratu Safiatuddin.

Lantas kenapa sekarang ini ramai sekali soal ini? Ya wajar saja karena yang melakukan aksi ini orang nomor satu di Banda Aceh. Di zaman ketika semua hal adalah panggung, apa sih yang tidak diriuhkan? yang mendukung ingin pamer bahwa dia pintar dan toleran, yang menolak ingin diakui bahwa mereka adalah orang yang paling alim dan suci.

Pertanyaan kita sikap walikota Apakah murni syariah atau hanya sekedar untuk gong politiknya, di satu sisi masyarakat kota banda Aceh butuh ruang apresiasi, sisi lain pemerintah tidak menyiapkan itu, dan ketika ada kelompok atau komunitas yang menyelenggarakan ruang tersebut, pemerintah tidak hadir untuk mengawal.

Secara umum pelaku utama kreativitas  adalah teman muda, anak muda miliki kekuatan energi dan waktu membangun sesuatu yang positif atau negatif dan sarat semangat kreatif dalam berproses, hal ini terus bergerak secara kontinyu. Berdasarkan proyeksi Badan Pusat Statistik (BPS), pada 2015 jumlah pemuda (anak muda) mencapai 62,4 juta orang. Itu artinya, rata-rata jumlah pemuda 25 persen dari proporsi jumlah penduduk Indonesia secara keseluruhan.

Pemerintah Kota harus berubah ritme membangun kepemudaan, mencoba pendekatan baru merangkul teman muda dan peka terhadap isu social yang terjadi disekitar Perlu memperkuat peran anak muda melalui peningkatan kapasitas dan kualitas mereka sebagai sosok yang berpengetahuan, berketerampilan dan berintegritas sebagai wujud pemuda berkarakter (Indonesia Youth Forum (IYF) 2015)

Pemerintah Kota harus memetakan dan merangkul komunitas muda melalui ruang apresiasi, pengkaryaan atau semacamnya, sehingga ada ruang bagi kaum muda untuk berekspresi, faktanya yang terjadi pemuda membuat sendiri ruang apresiasi dan lepas dari pengawasan masyarakat apalagi pemerintah. kita tidak pernah tau apa yang dilakukan komunitas muda, baru ramai ketika ada respon pemberitaan media.

Ruang apresiasi untuk komunitas muda dimulai dari kota Banda Aceh yang disebut lab-nya Aceh. harapannya ada efek domino dan bergerak ke kabupaten kota lain.

Kenapa harus ada ruang apresiasi atau sejenisnya, ruang apresiasi membuka akses bagi kaum muda untuk terlibat, saat ini keliatannya di ranah pelaku seni, dan organisasi kepemudaan orang itu itu saja, minim produksi generasi kaum muda baru sebagai estapet keberlanjutan, sehingga kenyamanan elit-elit seni atau organisatoris.

Sudah menjadi kewajiban bagi siapapun penguasa untuk membuka ruang dan melakukan pengawalan terhadap ruang tersebut agar dapat berjalan sesuai visi dan misi serta jargon yang sedang dibangun – Banda Aceh Kota Madani (red)

Ruang apresiasi dapat berbentuk infraktruktur dan non infraktruktur harus banyak dan beragam layaknya ruang terbuka hijau karena komunitas muda punya beragam skill dan kemampuan. Pada akhirnya teman muda aktif dan sibuk dengan karya-karya serta kegiatan positif.

Ketua DPW Pemuda Partai Aceh Kota Banda Aceh

KOMENTAR FACEBOOK