Kuala Paret, “Surga” yang Terancam Hilang

Objek wisata Kuala Paret.

ACEHTREND.CO, Kuala Simpang- Baru saja seorang traveller menulis tentang keindahan objek wisata Kuala Paret yang berlokasi di Kampung Aloy, Kecamatan Tamiang Hulu, Aceh Tamiang, kini kabar duka merebak. Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Eksekutif Daerah Aceh, Kamis (17/3/2016) mengabarkan bila lokasi tersebut masuk dalam kawasan yang kelak akan digarap oleh PT. Tripa Semen Aceh.

“Dua atau tiga tahun lagi, objek wisata yang luar biasa indah tersebut, akan segera hilang. Karena di sana, di Gampong Kaloy akan dibangun sebuah pabrik semen yang bernama PT. Tripa Semen Aceh. kapling mereka luas, termasuk menjadikan kawasan hutan di sana sebagai wilayah ekspoitasi,” ujar Muhammad Nur, Direktur Eksekutif WALHI Aceh.

kuala paret iiii

M. Nur melanjutkan, tahun 2015 PT Tripa Semen Aceh menyelesaikan kerangka acuan yang didalamnya menceritakan berbagai potensi kekayaan sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui salah satunya yaitu batu gamping, clay/lempung, dan pasir kuarsa di dalam struktur kerak bumi.

Berdasarkan hasil eksplorasi yang telah dilakukan oleh PT. Arbico Karya Mandiri yang ditunjuk oleh PT. Tripa Semen Aceh, ditemukan bahan galian komoditi tersebut di atas Kampung Kaloy Kecamatan Tamiang Hulu dan Kecamatan Tamiang Hulu, Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh cukup prospek dan layak untuk ditambang. Potensi ini tentunya digunakan untuk bahan baku pabrik semen.

Muhammad Nur. Direktur Eksekutif WALHI Aceh.
Muhammad Nur. Direktur Eksekutif WALHI Aceh.

Aceh Tamiang saat ini sudah digempur oleh kegiatan perkebunan sawit, illegal logging dan kegiatan lainya yang menurunkan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup terutama untuk pemenuhan sumber air bersih bagi penduduk. Keberadaan PT. Tripa Semen Aceh tentu akan menambah daftar masalah baru bagi Aceh Tamiang.

“Dalam penentuan dan pengkajian eksploitasi suatu kawasan untuk dijadikan pertambangan yang banyak dijadikan rujukan utama adalah variabel manfaat langsung (direct benefit) jangka pendek tanpa mempertimbangkan variabel dampak yang terjadi pada jangka panjang,” terangnya.

Dalam analisa M. Nur, kawasan Kaloy merupakan daerah yang rentan bila dijadikan kawasan tambang. Karena selain akan menggerus hutan, juga akan menghilangkan sumber air yang selama ini dijadikan sebagai tumpuan utama masyarakat.

“Kelak penguasaan lahan tersebut akan berlangsung selama 200 tahun. Dampak dari beroperasinya perusahaan tersebut akan terasa dalam waktu dekat. Kuala Paret yang yang saat ini masih molek, akan segera hilang, karena sumber airnya dari hutan yang masuk Kawasan Ekosistem Lauser itu juga masuk dalam kawasan yang dikuasai oleh pabrik,” imbuh M. Nur dengan wajah kecewa. []

KOMENTAR FACEBOOK